09 November 2017

Malahayati


Selulerku hari ini harus bekerja keras....
Kenapa...?
Ternyata banyak sekali yang merespon keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/Tahun 2017.
Tentang apa itu?
Penganugerahan gelar PAHLAWAN NASIONAL untuk Laksamana Malahayati.

Aku lunjak bahagia...
Tanpa sadar aku mengucap Alhamdulillah... "Ibu... akhirnya negeri ini mengakui kerja keras dan perjuanganmu"

Ibu, 9 tahun yang lalu buku tentangmu diterbitkan. Namun tetap semangatmu belumlah cukup dikenal. Namun aku yakinkan dalam hatiku, suatu saat nanti semua orang akan mengenal dan mengakui darah dan air mata yang pernah kau cucurkan untuk negeri ini.





Mau tahu perjuangannya...?
Semua tertulis dalam buku PEREMPUAN KEUMALA...


17 Desember 2015

Diujung waktu




Aliran sungai itu pada saatnya pasti akan tiba di samudra luas...
Jangan hibur aku dengan kata "jangan sedih sayang..."  karena jelas aku pasti akan sedih.
Jangan kau tanyakan "mengapa kita harus bicara kematian?"
Sayangku... mungkin ini memang bukan pembicaraan yang akan terjadi esok pagi... atau minggu depan... atau bulan depan... bahkan tahun depan...
Tapi yang pasti... hal itu akan terjadi...
(Pembicaraan yang kudengar semalam... entah antara siapa dengan siapa... mungkin diriku dengan diriNYA... "NYA" siapa? Tiada jawab... hanya hening...)

Mampang , 17 Desember 2015

10 April 2015

Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.



Foto Lukisan itu kuambil tanggal 19 Maret 2015. Lukisan itu tergantung disebuah dinding  diluar Kapel St. Maria Magdalena yang  berada di sebelah Timur Basilika Makam Suci.

Apa  istimewanya lukisan itu? Heem... ada baiknya aku sedikit mengulas tentang latar  belakang  lukisan itu. Lukisan tua itu menggambarkan sebuah  peristiwa yang diabadikan oleh pelukis Kuba Del Rio pada tahun 1855. Lalu peristiwa apa sih yang digambarkannya?  Kira-kira begini ; adalah  suatu pagi, sehari setelah Yesus wafat, Maria  Magdalena menangis,  ketika melihat  makam Yesus sudah terbuka dan kosong. Saat Maria Magdalena kebingungan dan menangis, seseorang  laki-laki menyapanya dan bertanya, "Ibu, mengapa menangis?". Karena menyangka bapak  itu  adalah  seorang  TUKANG KEBUN, maka  Maria Magdalena  bertanya kepadaNYA. "Bapak, kalau Bapak yang memindahkan dia dari sini, tolong katakan pada saya, dimana Bapak menaruh dia, supaya saya  dapat mengambilnya."Seketika itu juga TUKANG KEBUN  itu memanggilnya..."Maria..."dan Sontak  Mariapun mengenali suara itu dan menjawab..."Rabuni..." Sambil kemudian langsung bersujud. Begitulah kira-kira  peristiwa yang kemudian diabadikan dalam lukisan ini. 

Lalu .... apa alasanku untuk mengulas lukisan itu?
Pagi itu, tanggal 05 April 2015, dini hari sekitar pukul 01;35, saat airmata mengalir deras,  membuncah  sesak dalam hati... Bapak TUKAN KEBUN itu .... berdiri disana, samping pohon kamboja... Tanpa kata... namun PENDAR SIRAT SINAR MATANYA banyak BICARA... 

Mampang, 10 April 2015.

23 November 2014

LEBAH

Minggu pagi yang cerah ini kubuka dengan latihan  EM CARE  dihalaman rumah.

Mata terpejam, napas serta gerak  berjalan bersama  dan mengolahnya dalam RASA....

Samar terdengar suara dengung....
Dahiku mulai berkerut.... suara itu lalu lalang  beberapa kali ....
Kubuka mata perlahan...

Tertumbuk pandangan pada sekelompok lebah yang terbang beriringan menuju pohon kepel disamping garasi rumahku.
Kuikuti "penerbangan" mereka.... dan.... Aaaaaah...

Diatas pohon itu ternyata mereka telah membangun sarang lebah yang begitu besar.
Kuperhatikan mereka sibuk keluar masuk lubang sarang...
Ada yang hanya berkeliling disekitar sarang...
Ada yang keluar lalu terbang pergi....
Ada yang baru tiba dan segera masuk  dalam lubang sarang....

Teringat cerita Bapak pembimbing  spiritualkuku... beberapa tahun yang lalu, saat menceritakan tentang  kehidupan lebah sambil membuka Kitab Suci AlQuran ; Surat An Nahl... Aaaaah....aku segera mengimajinasikannya dalam alam pikir... bagaimana kesibukan saudara-saudaraku lebah yang ada didalam sarang yang besar itu....  heeeem....

Segera  terucap dari bibirku sebuah desis ...
"Subhanallah... Terima  kasih ya Tuhan Allah... telah mempercayakan saudara pohon yang ada dihalaman rumahku... untuk menjadikannya tempat tinggal bagi saudara-saudara lebah...  Jangan takut saudara-saudara  lebah... aku takkan mengganggumu... tinggallah dengan nyaman disitu.. karena sesungguhnya... kita adalah sama... ciptaan Sang  Pencipta.... Sang Maha Sempurna..."

Memandang takjub .... Puji Tuhan....

Mampang, 23  November 2014
08:54

26 Mei 2014

Tari Oleg Tamulilingan ; nostalgiku



Sinopsis :

Tari Oleg Tamulilingan menceritakan tentang dua ekor kumbang ; jantan dan betina yang sedang bercumbu berkasih-kasihan disebuah taman. Tarian ini diciptakan oleh I Ketut Mario dari Tabanan pada tahun 1952.

Sabtu malam, tanggal 24 Mei 2014 yang lalu aku menarikan lagi tarian ini sebagai sebuah persembahan pada acara pernikahan putri seorang sahabat. 



Lalu kenapa? Apanya yang istimewa?

Heeeeeem….

Bagiku menjadi menarik, karena….

Terakhir kali aku menarikan tarian ini pada tahun 1984. Berarti sudah 30 tahun yang lalu… ya ampuuuun… ternyata waktu begitu cepat berlalu… membangkitkan kembali nostalgi saat usiaku 16 tahun.



Terima kasih banyak kuucapkan pada :

1.    Mas Toni dan Mbak Mieke yang membangkitkan kembali energiku untuk menarikan tarian berat ini….
2.    Wayan Debel, yang menemaniku menarikan tarian ini walau tanpa sempat latihan.
 


Medio Mampang 26 Mei 2014
00:39

24 Mei 2014

Hujan di PERMATA ; Ekspresi Reni Widiastuti 3

tiba tiba langit menjadi gelap,mendung bergulung-gulung
menelan mentari yang bersinar garang

angin berhembus kencang,suaranya ribut menyampaikan pesan kepada rumput di padang ilalang,margasatwa di hutan,nyiur ditepi pantai dan dan bunga bunga manggis merah kesumba di samping gereja

kesejukan bagaikan angin yang membawa titik titik air segar,atau wangi tanah gersang yang disirami titik titik hujan

hujan di permata menyapu debu jalanan,menghijaukan dedaunan,menyuburkan tanaman

irama titik titik hujan mengaliri hati yang mendamba sapaan cinta,berpadu lantunan doa rindu di malam syahdu

hujan di permata merangkai doa dari titik titik air hujan menjadi untaian manik manik cinta warna kesumba..

Permata Depok,April 014

Shalom,mb.Endang.GBU..

20 Mei 2014

HIDUP ; Ekspresi Reni Widiastuti 2

hidupku ini seakan-akan rangkaian
cerita tentang mimpi"ku dan
kenyataan yang ada

Tuhan seperti sedang
bercanda, ketika mimpi
mimpiku menjadi nyata, saat
asa nyaris hilang dan harapan
hampir tumbang

dan ketika kenyataan" hidup
menjadi seperti mimpi, aku
menemukan bahwa hidup
adalah misteri

misteri tentang cinta yang
baka yang membuat hidup ini
bermakna

misteri tentang kasih yang
selalu memberi, yang
membuat hidup ini berarti

sebab hidup adalah anugerah
cinta,yang diberikan Tuhan
dengan cuma-cuma, untuk
dibagikan kepada sesama....

Depok, 10 Juli 13

Mbak Endang, puisi
permenungan tentang
"HIDUP", semoga suka
membacanya Shalom .. GBU

Matur Nuwun, Bu Reni....





BILA SAATNYA TIBA ; Ekspresi RENI WIDIASTUTI 1

Senangnya aku... pada tanggal 3 Mei yang lalu mendapat kiriman sebuah puisi dari saudara ku terkasih Ibu RENI WIDIASTUTI....

Hati tidak dapat dipungkiri, menjadi sebuah ungkapan yang paling dalam saat semuanya dapat tumpah dalam bentuk puisi bermakna.

Kutuliskan disini sebagai bagian dari ekspresi ....
Ekspresiku...
Ekspresi Mbak Reni...

"BILA SAATNYA TIBA"

bila saatnya tiba, ingin aku menembus
batas cakrawala, terbang melayang
menyapa bintang" dan purnama
malam

akan kutemukan ceritaku dan
ceritamu terukir indah di awan", bagai
pelangi sehabis hujan

lalu matamu akan bercerita tentang
kasih yang mengalir dari luka hati
yang terbuka,bisu tanpa kata", hening
tanpa suara.

Bila saatnya tiba akan kutemukan
segala yang kurindukan, segala rahasia
yang terpendam

bila saatnya tiba, aku akan terbang
tinggi, melayang "diawan", melagukan
kidung cinta, karena segalanya telah
menjadi nyata.

Depok, 18 Juni 2013

Shalom mbak Endang, ini aku kirim
tulisanku, sekedar hobi corat
coret, semoga suka.... GBU

Terima kasih mbak Reni sayang...
Teruslah berekspresi....