Mengenai Saya

Foto Saya
Endang Moerdopo
Nama saya Endang Moerdopo. Nama belakang itu nama orang yang mengukir hidup saya. Saya lahir tanggal 5 April 1968 di Yogyakarta. Menyelesaikan SD hingga SMA di St Ursula Jakarta, meneruskan study di Fisip Universitas Indonesia. Kemudian mengambil S2 di almamater dan fakultas yang sama. Sekarang saya dipercaya sebagai Ketua Jurusan Public Relation di UIEU. Sebelumnya saya pernah kerja sebagai Marketing Manager di AMMA Indonesia, ELS Language Center, bahkan saya pernah terlibat program Rehabilitasi dan Rekonstruksi BRR di Aceh pasca Tsunami, sekaligus menyusun thesis S2. Saya punya kegemaran lain di bidang kesenian, yakni menari dan menulis. Di bidang menari, saya dipercaya sebagai Wakil Ketua Kelompok kesenian Puri Gita Nusantara - yang diketuai Pak Permana Agung. Di dunia sastra, sudah beberapa tulisan saya hasilkan. Terakhir saya sedang menyelesaikan novel tentang seorang pahlawan perempuan Aceh. Nyanyi? jelas suka...., meski sebatas di kamar mandi. Traveling, baca buku, nonton pementasan, beberapa dari bagian kesenangan saya. Saya rasa ini dulu ya .... Best regards
Lihat profil lengkapku

21 Februari 2009

Siapakah seorang PEKERJA SOSIAL PROFESIONAL?

Tak kenal maka tak sayang


Kata sosial sepertinya sudah sangat fasih dikatakan dan didengar oleh masyarakat secara umum maupun dalam kamus bahasa, dipahami sebagai sebuah bentuk kehidupan yang berkelompok, saling tergantung dan membentuk kerjasama. Mengacu pada kehidupan masyarakat sehari-hari, kata sosial akhirnya selalu dimengerti sebagai sebuah generosity yang memiliki pengertian tidak semata-mata menggambarkan dinamika masyarakat saja, tetapi juga pada sikap dan tindakan. Oleh karenanya kemudian tidak asing lagi bila kita membicarakan seseorang yang royal, mudah memberi kepada orang dan sikap memberi lainnya, maka istilah ringan yang diberikan adalah orang itu sosial sekali.


Mungkin ini pula yang membuat pengertian kata sosial menjadi sangat luas, sangat beragam makna sekaligus menciptakan kerancuan. Namun tidak menutup kemungkinan setiap orangpun akan dengan segera paham apa yang dimaksud dengan kata sosial, tergantung dari konteks yang sedang dibicarakan.


Contoh lain adalah tentang istilah pembangunan sosial. Orang awam langsung menangkap bahwa pembangunan sosial adalah pembangunan dibidang sosial. Sementara pengertian sesungguhnya justru lebih luas dan lebih besar dari hanya sekedar pembangunan di bidang sosial. Pembangunan sosial adalah pembangunan masyarakat disegala bidang, termasuk juga didalamnya, bidang-bidang lain yang akan menunjang pembangunan secara menyeluruh. Dalam pembangunan sosial, terkait pula bidang kesehatan, hukum, budaya, ekonomi dan juga tehnologi. Semua itu terangkum dalam sebuah mekanisme sistemik untuk menciptakan sebuah bentuk masyarakat sosial yang sejahtera.


Kebingungan tentang pengertian kata sosial ini pulalah yang kemudian melahirkan sebuah perbincangan panjang tentang apa itu pekerjaan sosial dan pekerja sosial. Selama ini bagi orang awam atau masyarakat umum, pekerja sosial adalah seseorang yang bekerja diranah bidang sosial. Akhirnya tibalah kita pada pengertian bahwa semua orang yang bekerja di bidang sosial adalah seorang pekerja sosial. Termasuk juga masalah pendanaan. Karena bidangnya adalah bidang sosial, maka orang kemudian menjadi sungkan untuk mengajukan sebuah angka dalam bentuk budget dalam melaksanakan pekerjaan sosial.


Sedikit memberikan gambaran awal, bahwa pengertian pekerjaan sosial adalah salah satu bidang ilmu sosial terapan yang mempelajari aktivitas-aktivitas pertolongan dengan menggunakan prinsip dan metodologi yang dapat diukur. Dalam hal ini kegiatan pekerjaan sosial berfokus pada interaksi manusia dengan lingkungan sosialnya. Friedlander (1961) mengatakan bahwa pekerjaan sosial adalah suatu pelayanan profesional yang didasarkan pada Ilmu dan ketrampilan dalam relasi kemanusiaan yang bertujuan untuk membantu, baik secara perorangan maupun didalam kelompok untuk mencapai kepuasan dan ketidak tergantungan secara pribadi dan sosial. Selain itu dapat pula dijadikan acuan adalah Undang-undang No. 6 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pembangunan Kesejahteraan Sosial yang mendefinisikan Pekerjaan Sosial sebagai semua ketrampilan teknis yang dijadikan wahana bagi pelaksanaan Usaha Kesejahteraan Sosial.


Adapun pelaksana dari pekerjaan sosial tersebut adalah seorang pekerja sosial. Sampai saat ini kehadiran seorang pekerja sosial sebagai pelaksana pekerjaan sosial belum dapat sepenuhnya diterima dalam masyarakat. Mengapa demikian? Karena masyarakat belum mengenal siapakah seorang Pekerja Sosial? Dan apa fungsinya?


Seorang pekerja sosial mengacu kepada seseorang yang telah memiliki dasar pengetahuan, ketrampilan dan nilai-nilai pekerjaan sosial yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial. Penguasaan ilmu, metode dan ketrampilan secara formal –dalam hal ini melalui pendidikan formal yang diselenggarakan oleh institusi-institusi pendidikan– merupakan dasar bagi seseorang untuk menyatakan bahwa dirinya adalah seorang pekerja sosial. Dengan demikian, maka apabila seseorang yang tidak memiliki ilmu, metode dan ketrampilan secara formal tidak dapat dinyatakan sebagai seorang pekerja sosial.


Lalu bagaimana dengan mereka yang selama ini aktif dalam membantu program-program pekerjaan sosial? Apakah mereka dapat pula dikatakan sebagai pekerja sosial? Jawabannya adalah tidak. Sejauh seseorang memiliki bekal keilmuan, metode dan ketrampilan secara legal formal, jawabnya adalah ya. Namun, bila orang tersebut hanya bekerja dibidang sosial, mereka inilah yang disebut sebagai voulenteer atau juga dikenal dengan sebutan relawan. Oleh karenanya maka para relawan ini berkerja dalam lingkup yang reaktif-simptomatif dan partial.


Peran pekerja sosial dalam menanggulangi masalah sosial tidak bersifat reaktif-simptomatif maupun partial. Seorang pekerja sosial akan selalu berusaha untuk tidak hanya sebagai seorang outsider (diluar sisitem) tetapi juga bergabung dan masuk ke dalam sistem masyarakat sebagai sebuah bentuk pelayanan sosialnya, dengan menggunakan langkah-langkah dan tahapan-tahapan intervensi dalam pekerjaan sosial. Hal ini sesuai dengan fungsinya sebagai enabler, broker, organizer, fasilitator dan mediator. Oleh karenanya faktor nilai-nilai memegang peran yang sangat penting dalam kegiatannya sebagai seorang pekerja sosial dalam bentuk etika pekerja sosial. Lingkup intervensi (bantuan) yang diberikan mencakup individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Oleh karenanya lingkup intervensi itu sendiri dibagi dalam dua besaran yaitu Makro yaitu pekerjaan sosial dalam bentuk luas, mencakup kelompok masyarakat secara luas dan Mikro untuk penanganan individu, keluarga dan kelompok-kelompok dalam masyarakat. Dalam perkembangannya saat ini, seorang pekerja sosial harus pula terlibat dalam perancangan kebijakan sosial strategis dalam menghadapi perubahan sosial yang terjadi. Dimana pekerja sosial masa kini dituntut pula untuk juga menanggapi permasalahan global –sebagai konsekuensi logis dari perubahan sosial yang terjadi– dengan cara berpikir dan tindakan yang disesuaikan dengan kebutuhan perubahan itu sendiri.


Lalu apa yang dimaksud dengan pekerja sosial profesional? Pertama yang harus dipahami adalah kata profesional itu sendiri. Profesional berasal dari kata profesi yang memiliki arti atas kemampuan seseorang terhadap bidang tertentu dalam menjalankan tugasnya. Koehn (2000) mengatakan bahwa profesional adalah sebuah istilah yang diterapkan pada pernyataan publik yang dibuat orang dengan maksud mendudukan jabatan kepercayaan publik. Dengan demikian, kaum profesional harus dapat dipercaya atas bidang yang dikuasainya tersebut dalam melakukan tugas dan kewajibannya dalam masyarakat.


Mengacu pada pekerja sosial profesional, intinya adalah bahwa :

a. Pekerja sosial dapat diterima secara umum sebagai sebuah profesi pelayanan.

b. Memiliki nilai dan tujuan atas profesi itu sendiri

c. Praktis, dalam pengertian pengetahuan dan teknik

d. Adanya batasan yang jelas, antara profesi pekerjaan sosial dengan bidang lainnya.


Berangkat dari uraian diatas, maka dapat ditarik sebuah benang merah bahwa seorang pekerja sosial profesional adalah seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan formal bidang pekerjaan sosial sebagai sebuah kemampuan yang dapat diterapkan secara profesional, untuk memberikan ataupun melakukan intervensi (bantuan) sosial, kepada individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat, sesuai dengan perannya, untuk mencapai sebuah tingkat keberfungsian dan kemandirian menuju kesejahteraan sosial. Mudah-mudahan profesi pekerjaan sosial ini dapat dikenal dan diterima dalam masyarakat luas. Karena bila tak kenal maka tak sayang….

Endang Moerdopo

(Mahasiswa Program Doktoral

NPM : 0806475366

Ilmu Kesejahteraan Sosial

FISIP – UI

Februari 2009)


23 Januari 2009

Gado - gado yu Lasmi

Bingung... Mas...

Yu Lasmi si penjual gado-gado di ujung perempatan gang itu, tidak pernah kesiangan. Ia selalu sudah siap dengan segala macam sayur-mayur bahan gado-gadonya sejak matahari meletik di pagi hari dan baru kemas-kemas pulang setelah matahari mulai condong ke barat.
“Kok rajin banget sih Yu… pagi-pagi selalu sudah buka” Tanya Amin si tukang ojek, sambil menyedot rokoknya hingga kempot.
“Laaah… bang Amin ini gimana toh… orang itu kadang suka bingung cari sarapan. Pagi-pagi suka bingung cari warung, belum ada yang buka…”
“Lah, Yu… apa ya gado-gado pantes toh buat sarapan… “
“Yo pantes-pantes aja toh bang, wong buktinya orang ya antri mau pesan gado-gadoku buat sarapan juga lho…”
“Eh.. jangan salah, Min. Kalo gado-gado Yu Lasmi ini cocok-cocok aja buat makan disetiap waktu… nggeh mboten Yu? Kamu tau nggak, Min, orang nyari gado-gadonya Yu Lasmi bukan cuma karena rasanya saja, tapi gara-gara Yu Lasminya… gimana gak ngantri wong yang jualan uuuayuuuu tenan…” Sarwono ikutan bicara.
“Wezz gombal kamu Sar, kamu ngomong gitu biar dapet sarapan gratis, yo Sar”
“Mboten, Yu… ini bener. Wong saya itu kemarin, pagi-pagi nganter tamu ke daerah Tomang sana… kan jauh toh ya. Lha kok waktu mau balik, ada penumpang yang minta dianter ke sini, cuma gara-gara mau beli gado-gadonya Yu Lasmi. Waktu aku tanya, lho tau gado-gado Yu Lasmi juga toh mas? Trus dia jawab, ya tau toh mas… wong gado-gado itu gak cuma bikin kenyang perut, tapi juga bikin kenyang mata… Trus kutanya lagi… bikin kenyang mata gimana toh mas? Dia jawab lagi… lha kalo yang jual semlohe begitu kan itu namanya kenyang lahir bathin toh mas… itu dia… mantab kan? Bisa buat sangu seminggu. Min… bayangin dari Tomang lho… nyampe kesini, Cuma mau makan gado-gado sambil nontonin Yu Lasmi ngulek… weeeuedaaan tenan…”
“Lambe mu, Sar… wis kamu mau apa? Pedes atau ndak?”
“Waduuuuh Alhamdulillah… aku dapet sarapan ini? Yo jangan pedes toh Yu… wong pagi-pagi gini… bisa panas nanti perutku sampai siang…” jawab Sarwono langsung mendekat ke gerobak Yu Lasmi… Lumayan, dapat sarapan. Tapi anehnya Sarwono gak pernah tega kalau mau nge bon. Padahal Yu Lasmi sudah beberapa kali bilang kalau belum bisa bayar, bisa di catat saja dulu. Tapi ya namanya juga Sarwono, gak pernah bisa kalau gak bayar, malah kadang harga gado-gado yang cuma lima ribu tanpa telur, atau enam ribu pake telur itu bisa jadi dibayar sepuluh ribu tanpa kembali. Mantab kan? Tapi kalau tidak pake uang kembali seperti itu, Sarwono biasanya dikasih gratis krupuk, biar makan bisa jadi lebih meriah kata Yu Lasmi. Weleeh...
“Yu… gado-gadonya dua…” Pinta seorang laki-laki perlente bersama seorang temannya yang baru saja turun dari mobilnya.
“Oooh.. iya mas, pedes ndak?”
“Kamu pedes gak?” Tanyanya pada laki-laki kawannya yang sudah duduk di bangku panjang.
“Dikit…”
“Sedeng saja ya mas…kalau mas yang ini?” sambar Yu Lasmi.
“Sama in aja lah…”
“Ooh iya mas… silahkan duduk dulu. Sebentar ya saya buatkan.”
Laki-laki yang tadi berdiri disamping Yu Lasmi membuka kaleng krupuk, mengambil krupuk yang berwarna putih itu dan segera menyusul duduk dihadapan kawannya yang sudah asyik tenggelam oleh berita-berita di Koran pagi, yang diambilnya dari meja panjang. Yu Lasmi tidak pernah menyediakan koran di meja warungnya, tapi ada saja loper koran yang meletakkannya disana. Akhir bulan, entah siapa juga yang membayar tagihan korannya, sampai sekarang Yu Lasmi sendiripun tidak pernah paham.
“Walah… partai apa lagi… ini? Milih logo kok ya aneh-aneh… kepala kucing. Apa coba maknanya?” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lah biasa kan… demokrasi… semua boleh punya aspirasi. Kalau merasa aspirasi tidak terpenuhi… ya bikin partai lagi…”
“Heem… iya ya… trus kalau sudah bikin partai baru, dan gak sepaham, trus bikin partai tandingan…”
“Ya iya… kaya partai yang tadi kamu lihat… apa? Partai kucing? Kalau nanti pecah, namanya jadi Partai Kucing tandingan… seru juga lho, Men…Atas nama demokrasi toooh? Sah-sah saja…”
“ Heeeh… demokrasi kok malah jadi kaya main-mainan aja…”
“Itulah… trus masyarakat dicekokin harus milih… lha… nongol aja barusan, gimana orang bisa kenal? Pe de banget?”
“Sebentar lagi banyak muncul selebritis-selebritis baru nih… semua orang balapan masang foto diri… wah… makin bingung. Akhirnya malah milih gara-gara ganteng atau cantiknya aja, bukan karena partainya…”
“Ya bisa jadi… atau malah nggak milih sama sekali… lha wong pusing mau milih yang mana…”
“Semua partai pasti tujuannya baik toh?”
“Lha ya harus yang baik-baik toh kalau mau nyusun visi misi partai…”
“Tapi kita gak tau pelaksanaannya kaya apa…”
“Bisa jadi… itu kawan kita si Haris, kemarin bilang sama aku, setiap liat titik strategis penginnya pasang baliho foto dia gede-gede. Biar orang kenal katanya. Berapa duit itu? Trus yang dipikirin gimana caranya untuk bisa pasang foto gede-gede. Bukannya mikirin program kerja yang bisa ditawarkan demi memenuhi kebutuhan rakyat itu apa, tapi malah mikir gaya foronya gimana?”
“Eh … kalo Haris kan memang berduit, man… Biarin aja…”
“Lah trus kalau caleg-caleg yang lain itu gimana? Apa ya semua orang punya duit?”
“Ya itu resiko dia lah… pinter-pinternya dia cari sponsor… semua itu kan tergantung kepentingannya…”
“Sedih juga…”
“Kenapa harus sedih…?”
“Apa lagi kepentingannya sekarang ini… kalau nggak UUD…?
“Ujung-Ujungnya Duit maksudmu?”
“Ya iyalah… mana ada sekarang orang yang mbahas UUD itu Undang-Undang Dasar. Sekarang ini kan singkatan UUD lebih dikenal Ujung-Ujungnya Duit. Coba tanya sana sama anak SD, mana mereka tau UUD itu Undang-Undang Dasar? Wong pelajaran sekarang ini gak lagi mikirin itu. Kemajuan dan perubahan jaman katanya.”
“Iya juga ya… “
“Ya memang iya… bukan sekedar iya juga… lihat saja, berapa persen sih dari caleg-caleg itu yang bener-bener bisa njalanin program kerja sesuai dengan kebutuhan rakyat? Yang jadi targetnya kan kesejahteraan… diri sendiri maksudnya… bukan kesejahteraan rakyat. Lihat saja jumlah partai bererot begitu banyaknya. Berapa duit itu? Bikin partai kan gak kecil duitnya…? Semua aliran dana tumplek blek di situ. Bagaimana bisa mbangun Negara, wong uangnya malah muter disitu…”
“Yang katanya Pesta Demokrasi ya…”
“Ya iyalah… Berapa dana yang muter di tahun 2009 yang katanya atas nama pesta demokrasi.”
“Iya mas, mbok ya buat nambahin modal gado-gado saya aja ya mas, malah karuan. Kelihatan hasilnya. Atau buat nyekolahin anak-anak di kampung-kampung pelosok sana…” Celetuk Yu Lasmi sambil mengelap tangannya ke celemek dan siap mengangkat piring gado-gado pesanan.
“Nah… loe denger sendiri? Yu gado-gado aja cerdas… kok malah orang-orang ini balapan mau pada nge top sendiri. Ya nggak Yu?”
Yu Lasmi Cuma tersenyum sambil meletakkan piring ke hadapan kedua orang tamunya.
“Ealaaah, cerdas apanya toh mas, lha wong orang kaya saya ini kan mikirnya yang gampang-gampang aja. Buat masang foto sebesar rumah begitu ongkosnya sepuluh kali lipat dari modal saya bikin warung mas… padahal ya cuma dipasang sebentar. Selesai pemilu ya sudah harus dicopot-copot lagi. Abis itu orang sudah lali meneh… Kalau buat modal warung kaya saya gini kan bisa buat hidup sampai tua toh… Bisa buat nyekolahin anak… sukur-sukur bisa buat naik haji.”
“Nah kalo Yu sendiri mikirnya gimana?”
“Lah, lha wong sekarang ini banyak banget mas partainya. Saya malah jadi bingung. Apa itu namanya orang yang pada mau jadi anggota dewan itu?”
“Caleg… Calon Legislatif, Yu…”
“Iya… itu …. Calegnya buaaanyak banget. Mulai dari tukang kulkas sampe artis semua bisa jadi caleg. Yang penting punya duit toh mas, supaya bisa pasang-pasang foto kaya gitu itu.”
Kedua tamu Yu Lasmi manggut-manggut. Tanpa ragu yu Lasmi kemudian ikut duduk di bangku panjang warungnya.
“Waah… aneh kok mas, kalo jaman saya kecil dulu, kita gak pernah tau siapa anggota dewannya. Sekarang ini foto-foto dipajang-pajang, tapi ya tetep juga kita ndak kenal siapa dia. Lha yang untung kan ya artis-artis itu toh ya mas. Mending jadi artis dulu aja baru ikutan nyalon jadi caleg. Jadinya sudah pasti menang toh? Nah… Kalo sudah menang trus bingung kalo dah disuruh kerja, lha wong biasanya cuma baca scenario bikinan orang, trus acting di depan kamera, sekarang disuruh beneran mikir sendiri. Opo yo iso kuwi? Jangan-jangan dia merasa lagi acting di depan kamera. Lah ini kehidupan nyata je… bukan cuma sekedar dongeng, Trus yang memang sudah sekolah tentang ilmu pemerintahan mau pada jadi apa ya mas?”
“Ya itu yang namanya demokrasi, yu. Semua mempunyai hak yang sama untuk memilih dan dipilih.”
“Lha kalo partainya sebanyak gitu ya gimana milihnya toh mas?”
“Ya tergantung… Yu ini sreg dengan partai yang mana?”
“Laah lha wong semua partai itu ngomongnya sama je mas…pasti yang bagus-bagus toh ya…”
“Nah kalo menurut yu sendiri gimana?”
“Kalau saya sih mikirnya gini mas… Nuwun sewu lho ini ya mas, bukannya mau ngajari. Tapi ini cuma pikiran saya saja. Lha wong namanya juga cuma tukang gado-gado… ya pasti lah kepinterannya cuma sebates gado-gado aja…”
“Lho… gak apa-apa toh, yu. Justru omongan wong cilik seperti Yu Lasmi ini yang malah natural. Gimana Yu? Ayo ngomong aja…”
“Kalo menurut saya… ini menurut saya lho mas…”
“Iya Yu… kita berdua ndengerin kok…” Kata seorang tamu sambil menyuapkan gado-gado ke mulutnya.
“Partai itu ndak usah banyak-banyak, mas…”
“Heem… gitu?”
“Iyo… misale dua aja, atau yaaah paling tidak tiga lah kaya dulu itu lho… Pe tiga, golkar sama PeDeI. Jadi kita nggak bingung. Itu tadi cuma contoh lho mas…”
“Heeem… Trus…”
“Nah kalau partainya cuma ada dua atau tiga… em… buat contoh aja nih mas, Indonesia ini partainya ada dua. Misalnya Partai Korek sama Partai Gunting. Nah… masing-masing partai itu maju atas dasar program kerja mas… “
“Wah Yu Lasmi ini ternyata paham juga dengan yang namanya program kerja toh yu…”
“Lah kalau saya kan ya cuma denger-denger saja kalau orang-orang ngomongin apa itu yang namanya program kerja. Program kerja itu kan Itu toh mas ya kegiatan-kegiatan gitu toh mas…?”
“Yah… kira-kira begitu lah… trus gimana yu?”
“Ya partai itu berdasarkan program kerja saja… jadi ndak usah banyak-banyak… bingung mas… yang milih nanti. Wong-wong cilik kaya saya ini kan ya kasian toh…”
“Maksud Yu Lasmi?”
“Gini… untuk masa pemerintahan lima tahun kedepan ini, misalnya Partai Korek menawarkan program kerja pembenahan pendidikan. Nah trus Partai Gunting menawarkan program pembenahan kesehatan. Nah kita masyarakat ini tinggal milih, kita cocok sama programnya siapa? Jadinya rakyat itu gak Cuma dibujuk-bujuk untuk milih aja, tapi juga diajak mikir… Negara kita ini lima tahun kedepan mau mbenahi apa? Kesehatan atau pendidikan. Nah kan rakyat malah jadi pinter toh mas, wong diajak mikir. Jadi partai itu gak usah yang muluk-muluk gede-gede maunya… yang pendidikan, ekonomi, kesehatan, agama, semua dijadikan satu, mau di pek sendiri. Ya gak ketanganan toh?”
Kedua tamu Yu Lasmi manggut-manggut.
“Kan lebih baik mbenerin satu bidang aja tapi yang bener-bener gitu lho mas… dari pada maunya ini dan itu, tapi malah bingung mau mulai dari mana.”
Kedua laki-laki itu mengernyitkan dahinya.
“Nah trus juga kita ini kan katanya Pancasila, eh tapi ngomong-ngomong kita ini masih Negara Pancasila ndak toh mas?” Yu Lasmi mengernyitkan dahinya.
“Laaah, Yu ini gimana toh? Ya masih lah”
“Ndak, saya cuma tanya saja, takut salah… siapa tau sudah diganti. Lha wong sekarang ini kok kayanya Pancasila itu sudah kurang top kaya jaman saya dulu.”
Keduanya saling pandang. Nampaknya muncul keraguan dalam raut wajah mereka. Ada benarnya juga… kemana Pancasila sekarang ya?
“Trus hubungannya dengan Pancasila opo Yu?”
“Ndak… saya melihatnya, sekarang ini kok jadi ada partai-partai untuk gplongan-golongan dan kepercayaan-kepercayaan tertentu. Wah ndak berani ah mas… nanti saya dianggap ngomongin… opo… mas… itu lho… sar..sar… gitu…
“Maksud Yu, SARA?”
“Lha… ya itu… SARA… salah omong malah warung saya digulung…”
“Ndak lah yu… ini kan cuma omong-omongan pinggir jalan aja… hayo apa yu?”
“Ndak… gini lho mas, kan lebih bagus kita ini rukun toh? Jadi ya ndak usah pake partai yang pake dasar agama-agama gitu. Soalnya agama itu artinya dalem banget je mas… urusan kita sama Gusti Allah. Yang penting kita ini hidup percaya dengan adanya Gusti Allah… mau pake jalan yang mana, itu kan pilihan kita sendiri toh ya…ndak usah bengak-bengok kita ini opo.”
“Ya… ya… trus hubungannya dengan partai tadi apa yu?”
“Ya itu tadi mas, jadi partai itu ya sifatnya umum saja, jadi malah bisa menjaring keinginan orang banyak. Ndak dibatasi. Misale… saya ini kan orang islam yo mas, tapi kalo saya tertarik sama programe partai yang bukan islam kan malah jadi keliatannya saya ini murtad toh…padahal yang saya turut itu bukan agamane tapi program partai ne… Trus misalnya, partai buruh lah, partai petani lah, partai gado-gado lah… lha nanti kan yang milih jadi Cuma sedikit toh ya mas, lha kaya saya ini pasti akan milih partai gado-gado wong saya ini tukang gado-gado… lha gimana ngitung menang kalahnya? Malah jadi Cuma sedikit toh dapet suaranya… weleeeh kan jadi bingung toh mas? Gitu maksud saya… Wis ah mas… saya tak ngelayanin tamu yang lain dulu ya…” Yu Lasmi beranjak bangun dari duduknya dan kembali menuju gerobak gado-gadonya. Meninggalkan kedua tamunya yang masih melenggong melihat sosok Yu Lasmi si penjual gado-gado dengan segala ocehan panjang lebarnya. Ya pantas saja kalau banyak orang datang ke warung gado-gado Yu Lasmi ini. Ternyata tamu-tamu tidak hanya dilayani dengan sepiring gado-gado dengan ulekan yang yahud, tetapi juga diajak mikir.
“Oh ya mas, doyan susu kedele ndak? Kalau doyan, saya kasih panjenengan berdua susu kedele bikinan ku sendiri lho…”
“Wah ya doyan banget Yu… boleh-boleh…” Jawab salah satu dari kedua tamu yang tadi asyik bincang-bincang dengannya.
“Le… tolong ambilkan susu dele nya dua ya, buat mas-mas yang itu…” teriak Yu Lasmi pada Kamal, anak laki-laki tanggung yang membantu seluruh akrifitas warungnya. Asisten kalau kata orang gedongan.
“Men, kalau orang kaya Yu Lasmi ini dapet kesempatan sekolah udah jadi professor kali ya…”
“Hehe… bisa jadi… tuh duit daripada dibuang-buang buat bikin baliho mending buat nyekolahin anak-anak di pelosok sana. Biar orang-orang makin pada pinter. Yu Lasmi aja gak sekolah bisa mikir. Apalagi kalo dikasih kesempatan sekolah…”
“Jadi kamu mau pilih mana? Partai Korek atau Gunting?”
“Aku pilih partai gado-gado aja, kalau si Yu Lasmi ini bikin partai gado-gado… “ Jawab laki-laki itu sambil menyuapkan gado-gado pamungkasnya.

Mampang, 19 Desember 2008.

04 Oktober 2008

Mengenang seorang MOERDOPO 3


15 Tahun kemudian, kujawab tulisan mas Wahyu Wibowo dengan goresan penaku, dalam sebuah acara peringatan kepergiannya....
Kubayangkan bagaimana rasa ibuku dalam usia rentanya, seorang diri bersama kami garuda-garuda buah cintanya....
"GARUDA TUAKU.......
Lereng gunung itu masih tetap pekat dan dingin.....
Dingin telah menyampaikan rindumu pada GARUDA CINTAMU ....
pekat juga telah menyampaikan rindumu pada GARUDA-GARUDA KECILMU....

KINI......

GARUDA CINTAMU masih disini.... masih tetap mencintaimu tanpa terbagi.....
Lihatlah kami saat ini....... GARUDA-GARUDA KECILMU dulu......
saat ini telah menjadi GARUDA-GARUDA PERKASA....
yang siap untuk terus menjaga GARUDA CINTAMU......
yang siap untuk mulai mengepakkan sayap, terbang tinggi melesat, menggantikan pertempuranmu .....
karena kami selalu.... punya kobaran apimu di dada.....
; kita tetap saling menyinta.....

( EM ; media 2005 )
Bapak dan ibuku....
adalah segalanya untukku.....

Mengenang seorang MOERDOPO 2



Walaupun binatang favoritnya adalah KUDA, namun bapak selalu membahasakan dirinya sebagai seekor GARUDA.....

Lonely Eagle.... itu adalah simbol dirinya......

Oleh karenanya pada saat kepergiannya, mas Wahyu Wibowo menulis serangkai kata, sebagai ucapan selamat jalan baginya.....

"di lereng gunung itu
pada senja berkabut yang pekat dan dingin
sang Garuda tak kuasa lagi mengepakkan sayapnya
tubuhnya lunglai, bola matanya meredup.... diam
“ aku ingin terus terbang....... meneruskan pertempuran..... tapi.....
itu tak mungkin, karena nyanyian pada dewa terdengar...... begitu dekat.
Katakanlah pada dingin..... betapa aku rindukan GARUDA CINTAKU....
Katakanlah pada pekat..... betapa aku rindukan GARUDA-GARUDA KECILKU.....
Aku masih punya kobaran api di dadaku.....
yang ingin kuberikan pada mereka........“
; kita tetap saling menyinta.....

(WW ; media 1990 )

Kenangan akanmu tak akan terhapus oleh waktu....

03 Oktober 2008

Mengenang seorang MOERDOPO 1


Pringgondani TAWANGMANGU, di lereng Gunung Lawu...

Tanggal 26 Februari 1990, seorang MOERDOPO terkulai lemah dan menghadap Sang Khalik....






Tepat dilokasi inilah ayahku mangkat, 18 tahun yanga lalu.
Perjalanan hidup bersamanya terhenti dengan begitu tiba-tiba. Tanpa ada pertanda yang aku rasakan.

Semua sirna dengan begitu cepatnya.....

Ditempat ini.... Pringgondani, di Lereng Gunung Lawu

29 September 2008



Mengucapkan

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, 1 Syawal 1429 H.

Mohon maaf lahir dan batin.

Salam,

Endang Moerdopo

18 September 2008

Sebuah perjalanan dalam lorong kepenulisan

Seperti yang dikatakan seorang kawan dari Banda Aceh, bahwa dia tidak menyangka bahwa tulisan yang pernah kusodorkan padanya pada suatu hari, kini telah menjadi sebuah buku. Komentarnya singkat namun bagiku, ungkapan itu adalah ungkapan yang sangat objetif dan spontan dari seorang kawan yang baru kukenal di tanah Aceh. "Akhirnya, jadi juga barang itu.Saat saya baca prolog dulu, sempat terpikir bahwa tulisan itu bukan garapan serius.Cuma mencoba menghilangkan rasa suntuk di wilayah yg sdg "sakit"." Kurasa wajar saja dia berkomentar itu, karena memang dia mengenalku bukan sebagai seorang penulis atau paling tidak gemar menulis.

Jangankan dia, aku sendiri pun tidak menyangka bahwa akhirnya aku memasuki sebuah koridor baru dalam dunia tulis menulis, yang sebenarnya dari dulu sudah kulakukan.

apa yang terjadi dulu???

Sejak SD, aku memang sudah sering mencorat-coret kertas dengan cerita-cerita pendek yang kemudian kertas itu hilang, terbang tertiup angin tanpa sempat kuselesaikan. Mengapa begitu? aku pun tidak tahu secara pasti, apakah karena terlalu liarnya imaginasi, sehingga otakku yang kecil ini tidak sanggup menampung ribuan hal indah yang sebenarnya dapat kuungkapkan dalam sebuah rangkaian kata. Atau karena "keset" (malas;dalam bahasa jawa) yang sering diteriakkan ibuku, untuk menulis. Atau juga karena pada saat itu, banyak hal yang lebih menarik untuk kulakukan, sehingga imajinasi dan kreatifitasku untuk merangkai kata menjadi mendua.

Tapi ternyata tidak ada kata terlambat !!!!

Setelah melalui perjalanan panjang kehidupan dalam kurun waktu yang tidak singkat. Juga dengan berjuta pengalaman hidup yang beraneka warna yang juga sempat kujalani, kualami dan mungkin juga kunikmati.... ditanah seberang yang tidak pernah kuduga pula yaitu Aceh... aku mulai menangkap kata-kata yang tadinya hanya terbang-terbang disekelilingku, mengumpulkannya dan kemudian merangkainya dalam sebuah karya yang kemudian bisa bermakna dalam hidupku.

Kini, namaku sebagai seorang penulis sudah mulai muncul... paling tidak di toko buku Gramedia, sebaris namaku sudah mulai terbaca orang. Baik yang sengaja mencari, sengaja melihat, atau tidak sengaja, atau sambil lalu, atau terbaca tapi tidak sangkut di pikiran, karena memang bukan bukuku yang dituju. Tidak apa-apa.... ini sebuah rintisan baru dalam sejarah hidup diusiaku ke 40 tahun.... Tidak muda lagi.... Kadang menyesal juga kenapa baru diusiaku tepat 40 tahun, baru jadi barang itu....

Kembali kukatakan ... Tidak ada kata terlambat... !!!

Saat bukuku sedang dalam proses penerbitan, ada rasa gamang juga dalam diriku.... apakah buku ini dapat diterima oleh calon pembacaku nanti? Bagus atau tidak? menarik atau sampah? Pergumulan hebat telah terjadi padaku saat itu. Mungkin itu wajar, karena ini adalah tulisan pertamaku yang akan diterbitkan oleh sebuah kelompok penerbitan yang di labelkan "bergengsi" yaitu GRASINDO. Banyak juga yang mengomentari kehebatanku, bahwa tulisanku bisa diterima oleh kelompok penerbitan GRAMEDIA. Memang sudah rejekiku.... seperti kata orang tua-tua dan sampai saat ini masih menjadi pegangan.... "Rejeki nggak kemana..."

Saat ini bukuku sudah mulai beredar, dan bagiku sangat mengharukan karena kegamangan yang terjadi sebelum buku itu terbit sirna. Mengapa? karena sebagian besar pembaca memberikan tanggapan yang luar biasa..... Positif dan sangat membangun.... Hingga pada suatu malam, kubolak-balik lagi lembar demi lembar tulisanku.... PEREMPUAN KEUMALA.... hingga akhirnya tersadar olehku buku itu tetap dalam dekapanku hingga pagi menjelang.... "Ya Tuhan... terima kasih banyak".

Mudah-mudahan bukuku ini, dapat mem"virus"i para calon pembaca untuk menjadi pembaca, untuk kemudian dapat memaknai tulisanku sebagai sebuah tambahan warna dalam kehidupan pembacaku.... itu sungguh harapanku.

Bukan waktunya lagi aku untuk berdiam diri, karena aku harus mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk karyaku berikutnya... Identitas baru, baru saja tersemat dipundakku. Oleh karenanya aku harus semakin banyak membekali diri, agar semakin mantab kiranya langkahku melaju.

Seperti kata Adi, seorang sobatku "mbak, loe dah buka pintu. Sekarang waktunya untuk mulai menapaki sebuah lorong baru yaitu lorong kepenulisan...."

Salam
Endang Moerdopo

Have a great day

Have a great day