10 August 2013

Sepiring ARSIK tanda cinta… Salelengna….



Biasanya ungkapan cinta selalu dalam bentuk yang indah… daaaan romantic… gimana lah mau kurus kan…? Kalau tanda cinta dipersembahkan dalam bentuk sepiring ARSIK… heeem…. Tapi pasti akan luluh juga… bukan karena arsiknya… tapi karena niat dan kesungguhan yang dipersembahkan melalui proses olahan dengan mandi keringat dan kepulan aroma asap dapur yang aduhai merangsang selera… mosok siiiih sudah begitu tetap berkeras hati…. Ooooh mak… lelakiku ini… pandainyaaa ambil hati… brengseeeeek……!!!!
“Heeem…. Enak sekali aromanya Leon…” Ibu Wian ternyata sudah berada tepat dibelakang Leon.
“Ini belum matang ibu… belum empuk dagingnya…” Jawab Leon masih sambil mengaduk masakannya.
“Tapi aromanya sudah merebak kemana-mana… Ayo Hira… kamu harus mulai belajar masak arsik ini…” Ibu Wian meneriaki Hira yang justru asik dengan kepulan rokok mentolnya di meja makan.
“Heeem… iya bu… biar sekarang abang dulu yang masak ya… “ jawab Hira sekenanya pada Ibu Wian ibundanya. Hatinya masih kesal dengan Leon. Sok mau ambil hati ibunya. Ibu mana tahu alasannya… mengapa laki-laki itu harus menyingsingkan lengan baju untuk memasak… dia kan lagi mau ambil hati aku… biar ajaaaaaaa…. Aku gak mau bantu…. Heeeeem…..
“Waaaah… keterlaluan kamu aaah…. “ Ibu Wian menepuk pundak Hira.
“Gak apa-apa ibu… Ibu, mbak Cathy dan Hira duduk saja manis-manis… tinggal menikmati… tidak usah repot-repot bu… kasian Hira nanti berkeringat dan bau asap….”Kata Leon masih sambil memegang sodet masakanannya.
“Heeem…. Mulai…rayuan gombal amoooh…. Males bener dengernya…” kata Hira dalam hati.
“Hooooi Leon… sudah belum… lama sekali kamu masak… ini kalau buka warung, sudah kabur semua tamunya… “ Teriak Cathy dari ruang tamu.
“Belum mbak… belum empuk ini dagingnya….” Jawab Leon
“Aaaaah… sudah sampai tertidur aku nunggunya… besok warungmu mau kukasih nama WARUNG SABAR MENANTI… aaaah… abis lambret banget masaknya….” Kata Cathy sambil tetap terus melanjutkan tidunya disofa ruang tamu.
“Naaaah… sudah selesai… dekku…maem kita yuk sayang…” Leon kemudian memeluk Hira, saat selesai ia mencuci tangannya.
“Abang aja maem duluan… adek masih kenyang….”
“Jangan merajuk terus lah dek… mari sini… maem sama abang…” Leon mengambil sepiring nasi, disendoknya daging arsik dan diletakkannya dipiring.
“Dicoba dulu ini dek masakan abang…” Katanya sambil menyuapkan nasi dan daging kearah mulut Hira.
“Heeeem…” Hira mengatupkan bibirnya sambil menggelengkan kepala.
“Ayolah dek… jangan merajuk begitu… cobalah dulu… satu ini saja dulu…” Katanya dengan wajah antusias menyuapi Hira.
Hira memandangi wajah lelakinya… aaaah… menyebalkan sebenarnya laki-laki ini… tapi aku mencintainya… sekarang dia dengan peluh yang masih mengalir dikening, sudah pula siap untuk menyuapinya hasil masakannya… Arsik… Luluh juga Hira… ia membuka mulutnya perlahan…
“Aaaah gitu dong sayangku…. Abang sayang adekku… maafin abang ya sayang… abang bikin adek kesel… abang bikin adek marah… abang bikin adek emosi… sepiring Arsik ini adalah permintaan maaf abang pada adek ya… abang mencintai adek selamanya… adek milik abang… salelengna…” sambil kemudian Leon mengecup kening Hira….
“Aaaaah abang Leon… manalah ada hati yang tak luluh mendengar lembutnya suaramu… Pendar sirat sinar matamu… itu yang membuatku jatuh cinta selalu padamu… Akupun mencintaimu… abangpun milik adek… salelengna…” Kata Hira dalam hati… Tetep dalam hati… gengsiiii doooong kalau sampai Leon dengar… besarlah kepalanya nanti….

Sepiring Arsik… tanda cinta… salelengna….

Mampang, 10 Agustus 2013
09:52

01 August 2013

Vespaku sayang... Vespaku malang....

Hira segera menghambur keluar kamar, ketika didengarnya suara lelakinya diruang makan. Wajahnya penuh senyum dan dengan mata berbinar, ia segera memeluk Leon kuat-kuat…
“Aaaah abang… segunung rinduku padamu…” desahnya dalam pelukan lelakinya.
“Aaah iya dek, abang juga rindu sekali pada adekku ini… aaaaiiih makin cantik saja adekku nih….”
“Heeeem pastinya bang… berani abang bilang adek gak cantik…”
“Enggak dek…. Gak berani… daripada abang nanti diparkir diluar pagar….”
“Hahahaha…..” Derai tawa keduanya terdengar renyah, yang kemudian makin tak terdengar saat keduanya tenggelam dalam sebuah ciuman kerinduan.
“Bagaimana pekerjaanmu,bang? Capek banget ya…” Hira menyapu kedua pipi Leon dengan kedua tangannya.
“Iya dek… memang capek sekali abang… jenuh dek… abang harus mengoreksi hasil kerja karyawan dari seluruh Indonesia. Jenuh juga dek… “
“Heeeem… keliatatan tu dari mata abang… teler ya...”
“Iya dek… dan yang paling terasa adalah…. Apa coba?”
“Apaan, bang?”
“Adek yang jauh dari abang….”
“Hasyaaaah….. Heeeem…gombal amoh…. rayuan maut…” Hira mengedipkan sebelah matanya.
“Betul dek… abang rindu sekali pada adekku ini… semakin terasa capeknya, lho dek…”
“Heeeem…. Tetep… perlambean…”
“Enggak dek… abang gak perlambean sayangku… betul itu…” Leon mempererat pelukannya.
“Eeeeehm… abang… adek gak bisa napaaaas kalau diengkek beginiiiii….” Teriak Hira sambil pura-pura meronta, padahal sebenarnya senang… aaaah perempuan, kadang-kadang suka bergaya… sok manja… sok ngambek… padahal hatinya berbunga-bunga.
“Biarin… biar … abang lagi pengen peluk adek erat-erat….”
Ya sudah… kita mau malming kemana ini, bang…? Oh ya… abang naik apa?”
“Naaaaah…. Ini dek… abang mau ajak adek jalan-jalan. Kita makan dulu di Baruna, abang juga sudah kepingin sekali makan ikan kuwe bakar di Baruna,sambal tomat, lalap timun dan kerupuk…. Wiiiih… sedap… lalu kita jalan-jalan ke Kemang ya…”
"Kali ini adek boleh pesan jus alpukat ya bang... pleaseeeee...."
"Boleh sayaaaang.... boleh...."


“Asiiiiiiik….. “ Teriak Hira, sambil berjingkat, memeluk Leon dan kemudian mendaratkan ciuman dibibir lelakinya itu. Kembali keduanya berciuman lagi, membuat orang yang melihatnya kesal… Huh… ciuman melulu… Ya sudah siiih… namanya juga sudah lama tidak jumpa... sebenarnya tidak lama juga perpisahan mereka itu, hanya eeeem…. Kira-kira lima hari saja kok. Tapi bagi Hira dan Leon, lima hari bagaikan lima tahun…. Uhuuuuy… ngelebihin ABG aja mereka ini. Membuat orang yang lihat menjadi kesal.
“Sebentar adek ambil tas dan jaket ya bang…”
Leon mengangguk, sambil kemudian meneguk air putih hangat yang sudah tersedia dimeja makan.
“Abang… ayo kita berangkat… adek sudah siap… eeem… adek udah can belum bang?” Tanya Hira sambil senyum-senyum meminta perhatian lelakinya.
“Can doooong…. Sudah… sudah… sudah cukup… nanti adek dilirik-lirik orang… pusing abang jadinya…”
“Lho… ya bagus kan bang… berarti gak malu-maluin kan adeknya?”
“Tanpa berhiaspun, adek itu sudah sangaaaaat cantik….”
“Heeeem… daripada….” Belum lagi Hira menyelesaikan kata-katanya, Leon sudah menyambungnya…
“Daripada abang diparkir diluar pagar, dek… kalau gak bilang adek cantik…”
Kembali lagi keduanya tertawa lebar, sambil berpelukan melangkah kehalaman.
“Naik apa kita bang?” Saat Hira mulai kebingungan, tidak dilihatnya motor lelakinya ditempat biasa Leon memarkir motornya.
“Naik ini dek….” Leon menunjukkan kendaraannya.
Hira mengeryitkan dahinya…
“Gimana… mau kan?”
“Motor abang kemana?”
“Sudah abang ganti ini dek….”
“Jadi….?”
“Ya kita naik ini dek… so sweet kan… ?“
Hira menghela napas… hayooooo…. Kira-kira mau komen apa ya Hira ini….? Sementara Leon mulai berkeringat, sibuk menstater motornya… yaaaang ternyata………...….


M O G O K… !!!! Aaaah… Vespaku sayang… Vespaku malang….


Mampang, 01 Agustus 2013

12:36