02 January 2013

Surat untuk MIMI....

 Januari 2, 2013
 
Artikel ini adalah serangkaian jawaban, atas pertanyaan dari seorang gadis cantik, seorang penari balet, bernama MIMI sebagai sumber karya tulisnya. Mimi adalah putri dari sahabatku Maria Dewantini Dwianto Korompis, MIA panggilannya. Kami satu kelas sejak kelas II dan III SMA, di Santa Ursula jurusan A4. Kelas yang telah membentuk kami : aku dan MIA menjadi seorang yang kuat dan tangguh .... 

Aku yakin, MIMI pun akan sekuat dan setangguh MIA mamanya....


Dear Mimi sayang....

Tante minta maaf, karena keterlambatan membalas email Mimi. Mudah-mudahan masih bisa membantu Mimi untuk menyelesaikan karya tulisnya.


1. Cerita singkat pengalamanku di dunia seni tari tradisional.


Dalam keluargaku, semua anak harus bisa 4 hal : Musik, Menari, Berenang dan Sepatu Roda. Aku tidak tau apa alasan kewajiban harus bisa sepatu roda... hehehe. kalau untuk alasan yang lain masih masuk akalku...

Oleh karenanya kami ber 4 (aku bungsu) dari 4 bersaudara semua harus bisa ke 4 hal tersebut. termasuk kakak laki-lakiku. (yang hanya satu2nya itu).

aku mulai menari sejak aku usia 4 tahun (TK kecil) waktu itu, dan tari yang kupelajari ketika aku usia 4 tahun itu adalah BALLET. Setelah masuk SD kelas 1, aku mulai deiperkenalkan tari tradisional JAWA. Menurut ibuku, basic dari tari tradisional adalah tari JAWA. kalau sudah bisa tari JAWA, mau menari apaaapun akan lebih mudah. (itu alasan beliau, yang ternyata kubuktikan setelah aku belajar tari tradisional lainnya). Itu kata ibuku, padahal ibuku bukan penari… Hebat juga ibuku… darimana beliau tau yaaa….???

Selama aku berlatih tari JAWA, aku kemudian banyak pentas dimana-mana, karena kebetulan aku berlatih di P dan K  (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Guru tari Jawaku adalah almarhum Bapak Yono. Seorang laki-laki berbadan gemuk, dan berkacamata. Jadi banyak sekali kesempatanku untuk mengikuti acara-acara yang diselenggarakan oleh pemerintah. (jaman dulu, semua acara masih tersentral dari pemerintah, tidak seperti sekarang ini… ) Oleh karenanya pengalamanku menari untuk acara-acara pemerintah dan kenegaraan menjadi sangaaaat banyak.  Selain tari tradisional, aku juga mulai berlatih tari-tari kreasi baru. Saat itu aku dilatih oleh asalah satu putri angkat dari Alm Bapak Bagong Kusudiardjo yang bernama mbak Haryati Abelam. Oleh karenanya aku juga menguasai tari kreasi baru. Aku ingat kala itu aku sempat menari tari Angsa di acara Aneka Ria anak-anak asuhan Kak Seto dan Kak Henny Purwonegoro di TVRI, menari untuk peringatan hari Anak-anak Nasional, dan aaah masih banyak lagi....

Kelas 4 SD, aku mulai belajar tari Bali. Seperti yang telah kukatakan sebelumnya, bahwa kata ibuku bila memiliki dasar tari JAWA akan lebih mudah bagiku untuk mempelajari tarian daerah lain. Aku senang sekali bisa menari Bali. Aku ingat betul, ketika aku sudah menguasai tari pendet, lalu aku mulai diajari tari berikutnya yaitu tari Panji Semirang… Astaga aku girang luar biasa… sampai aku bilang ke kakakku… “ Mbik, besok kita mulai latihan tari Panji Semirang… Asiiiiiik….” Tentu saja aku berlatih bersama kakak-kakak perempuanku, mbak Budi dan mbak Yayik.
Ternyata ibuku benar. Aku dengan mudah belajar tari Bali. Bagiku ternyata tari Bali lebih cocok untuk karakter diriku. Akhirnya, aku lebih banyak menari Bali, dibandingkan tari JAWA dan daerah lainnya (tarian nusantara : seluruh daerah). Guru tari Baliku adalah mbak Ni Ketut Sukarni. Aku sangat mencintai mbak Karni. Karena mbak Karni lah aku kemudian tumbuh menjadi seorang penari. Bagiku, mbak karni adalah guru yang luar biasa. Beliau mengajariku dengan sangat keras, tanpa ragu-ragu beliau menarik pundakku sambil menahannya dengan lutut… tidak peduli jeritanku dan air mata yang meleleh menahan sakit yang luar biasa. Bagiku yang sangat penting adalah, mbak Karni juga mengajariku tentang ekspresi. Bagaimana menghayati sebuah tarian dan menampilkannya dalam sebuah ekspresi, sehingga membuat tarian menjadi begitu bernyawa. Istilah Balinya adalah me “TAKSU”.

Ditangan mbak Karni, aku mulai banyak mengikuti lomba-lomba tari bali Remaja, tidak langsung juara tentunya. Tapi terus ikut, lagi-lagi ikut… dan akhirnya berakhir di tahun 84 sebagai Juara I tari Bali remaja se DKI Jakarta setelah sudah sejak tahun 78 aku mengikuti lomba. Itu sudah paling tinggi, jadi ya sudah berhenti sampai disitu.
Pengalamanku yang sangat berharga lainnya, selain meraih juara I tari bali remaja se DKI tahun 84 itu adalah aku menjadi salah seorang penari istana, saat aku masih kelas VI SD. Kala itu tidak ada yang menyangka aku masih SD, karena badanku yang tinggi besar. Tugasku adalah menari untuk acara jamuan makan malam bersama dengan tamu-tamu negara yang bekunjung ke Indonesia. Antara lain, Raja Spanyol, Raja Brunei, Raja Thailand, Ratu Belanda, dan banyak tamu negara lainnya. Aku sangat bangga dengan semua itu.

Tapi pengalaman menariku tidak selalu membuatku bangga dan senang, tapi aku juga sempat kecewa. Kenapa? Aku mendapat surat tugas dari istana untuk menari di Belanda sebagai wakil dari Indonesia, dengan resiko aku menginggalkan sekolah selama hampir 2 (dua) bulan. Orang tuaku melarang. Aku harus tetap bersekolah. Selain juga ketika itu tidak diijinkan pula dari sekolah (you know Ursula as well… or ask your mom Mimi…).
Sejak itu aku benci menari…. Aku stooooop menari…. Aku mutung… aku ngambek… aku marah. Aku tidak mau lagi menari. Ada yang hilang rasanya dalam diriku. Kecewa luar biasa…. Dan jadilah diriku galau…. (hehehe…) akhirnya aku menyibukkan diri dengan mengikuti kegiatan Marching Band di Ursula, hingga aku lulus SMA tahun 1987. Aku tinggalkan dunia tari…. Dalam keadaan marah besar. Tari sudah menjadi jiwaku… kenapa aku dilarang  pergi ke Belanda untuk menari? Itu alasan mendasarnya. Walaupun aku menjadi seorang mayorette yang cukup dikenal, karena sempat pula meraih penghargaan sebagai mayorette terbaik, tapi jiwaku tidak sepenuh saat aku menari…. 

Aku mulai menari lagi tahun 2005… setelah 18 tahun aku vakum tidak bersentuhan lagi dengan dunia tari dan seni. Itupun entah kenapa, pada suatu hari mbak Karni menghubungiku dan mengajakku untuk ikut bergabung dalam sebuah kelompok kesenian Puri Gita Nusantara pimpinan Bapak DR. Permana Agung Drajatun. Ketika itu Puri Gita Nusantara akan melakukan kunjungan kesenian ke ISI, Bali. Agak ragu awalnya, karena badanku sudah melar dan melebar. Wajarlah… 18 tahun aku tidak pernah bergerak sama sekali. Tapi betapa gembiranya hatiku, saat aku mulai menari… dan sepertinya tubuhku bergerak sendiri. Gerakan-gerakan yang sudah kutinggal lama mewujud kembali secara otomatis… (yaaaah walaupun ada juga yang lupa-lupa…) tapi waaaah… masih oke juga aku ternyata …..
Ternyata memang seni tari sudah mendarah daging betul dalam diriku. Oleh karenanya sejak 2005 hingga kini, aku kembali lagi menari…. Gerakan-gerakan tari sudah seperti aliran darah yang terus bergejolak dalam diriku setiap detik tarikan napasku.

2, 3, 4, Perkembangan tari tradisional saat ini. Apakah benar bahwa semakin lama tari tradisional semakin kalah pamor dibandingkan tari modern/barat? bagaimana minat/apresiasi remaja masa kini terhadap tari tradisional? mengapa remaja cenderung lebih suka dengan tari modern/Barat atau tari2 seperti gangnam style, shuffle, dan lain-lain?

Jujur… Tari tradisional kita lebih mendapat apresiasi di luar negeri, dibandingkan dinegeri kita sendiri. Saat ini, yang terjadi honor penari tradisional jauh lebih kecil dibandingkan dengan honor penari latar, dengan basic tari modern. Padahal, tari tradisional (menurutku…) lebih sulit dibandingkan dengan tarian modern.
Ada 2 hal yang mungkin dapat dijadikan alasan ya… :
a.    1. Dari sisi gerakan tari : Mungkin ini disebabkan karena tarian tradisional gerakannya monoton, lamban dan tidak progresif. Sementara tarian modern sangat dinamis dan selalu mengikuti perkembangan. Ada saja gerakan-gerakan baru yang diciptakan untuk dapat mengikuti arus perkembangan jaman. Sementara Tari tradisional….. Tari Pendet, dari jaman dulu sampai sekarang ya begitu saja….
b.    2. Dari sisi kejiwaan/mental : Ini menurutku cukup penting adalah, bahwa kalau tarian tradisional itu dianggapnya tidak bergengsi, kuno. Dan akhirnya, supaya bisa dibilang modern maka anak-anak muda sekarang lebih memilih tarian-tarian modern. Disamping juga honornya lebih besar… hehehe… (ini bukan materialistis… tapi realistis…)


5. Bagaimana cara membuat remaja jaman sekarang lebih tertarik pada tari tradisional?
Dalam perkembangannya sekarang ini tarian tradisional sudah banyak dimodifikasi. Contohnya, Tari Trunajaya, yang tadinya durasi 15 menit, saat ini telah dipotong menjadi hanya 7-8 menit. Disesuaikan dengan selera pasar modern saat ini. Kenapa? Karena penonton modern saat ini bosan dengan tarian yang monoton dengan durasi yang panjang. ( aku cukup setuju dengan upaya ini. Dan ini aku katakan sebagai sebuah usaha untuk membuat tari tradisional kembali diminati).
Contoh lain : tahun 2005, aku membuat sebuah pagelaran tari Cak, dengan Tema acara : BALI 60 MENIT. Aku buat ketika itu di Kafe Tenda Semanggi (KTS)  sayang sekali sekarang ini area itu sudah ditutup. Tepatnya di belakang Pacific Place.
Acara tersebut aku buat dengan 3 alasan :
a.    1. Aku membuat pagelaran Tari Kecak, tetapi tidak lebih dari 60 menit. Dengan asumsi penonton akan bosan bila pagelaran tari tradisional disajikan dalam durasi yang lama.
b.    2. Aku membuat acara itu ditengah-tengah kafe, sehingga semua orang bisa menonton dengan gratis. Sehingga setiap orang (dari seluruh lapisan usia) dapat menikmati acara itu.
a.   3.  Memperkenalkan budaya tradisional kepada masyarakat kota.
Paling tidak, aku berusaha untuk memperkenalkan kepada anak-anak yang berada di tengah kota Jakarta tentang tari tradisonal. Tujuanku bukan untuk menekankan cerita atau filosofi dari Tari Sinta Obongnya. Tapi paliiiiiing tidak, anak-anak pernah melihat dan tahu bahwa tarian tradisional itu ada dan indah… itu dulu aja… waaah sudah lebih dari cukup.

Sebenarnya kegiatan itu mau kubuat berseri (berkelanjutan) : BALI 60 MENIT, KALIMANTAN 60 MENIT, PAPUA 60 MENIT, dll… tapi karena terbentur pendanaan, apalagi untuk kegiatan tradisonal tidak banyak sponsor yang berminat. Kalau menghadirkan artis-artis luar negeri malah banyak promoter yang berebut ya… Karena itulah maka cita-cita tersebut belum dapat kuwujudkan.
Itu salah satu usahaku untuk membuat anak-anak remaja tertari kedengan tari tradisonal.

Dear Mimi, itu pertanyaan no 2,3 dan 4 aku gabung, karena pada dasarnya jawabannya hampir2 sama ya….

Mudah-mudah2an tulisanku ini bermanfaat. Sekali lagi aku minta maaf atas keterlambatanku mengirim kembali tulisan ini ya Mimi…. Peaceee

Salam sayang
-EM-



SELAMAT TAHUN BARU



Januari 1 2013

PISAH SAMBUT 2012 - 2013

Semalam bertahun baru dirumah keluarga kecil, keluarga Aelan Surbakti dan Tantri Moerdopo di Pondok Kelapa. Dengar kata Pondok Kelapa…. Bayanganku tadinya jauuuuuh banget ya rumahnya Aelan dan Tantri. Karena sampai saat ini aku gak pernah pinter untuk paham daerah Jakarta Timur.
Dikasih ancer-ancer sama mbak Budi, “Pokoknya Non (panggilan kecilku dalam keluarga)… loe lewat Kasablanka…. Teruuuuusss aja… ketemu pasar gembrong tempat jualan maenan-maenan… itu luruuuus lagi…. Terus ngikutin aja jalan itu sampe ketemu Burger King, trus Mc Donald…. Naaah itu lurus lagi…. (ealaaaah… masih lurus lagi rupanya… kapan beloknya???…. pikirku). Naaah trus gak jauh dari situ ada lampu merah perempatan…. Nah loe belok ke kanan…. (akhirnya... belok juga).... Ngikutin jalan itu aja teruuuuuuuus lurus sampe loe ketemu di sebelah kiri perumahan Palem Indah…. Naaaah loe masuk situ.... ntar loe berenti di depan kolam renang, biar nanti dijemput Edo…. Oke yeeeh… bye…”

Ternyata gak susah juga ke rumah Aelan dan Titi… Jalanan lancaaaaaar... (ya mungkin karena udah malam juga siiiih... embuuuh kalau siang yooo)... jadi Taruli bisa nyupir sambil tetap dengan gaya joged-jogednya…  Tapi ya tetep… mama kalo naik mobilnya … backsound harus lagu-lagunya Taruli yang aku gak kenal itu… jlegar-jlegur … mbuh … aku ra mudeng… dari situ aku baru sadar… ealaaaah… wis tuwo toh aku ini… gak tau lagu-lagu baru… tapi ya menurutku masih lebih enak denger lagu-lagu… Stranger in the night… (hahaha … itu ketuaan ya…) eeem oke… Separuh aku deeeh… lagunya si Ganteng Ariel dari NOAH… ataaau… eeeem ini dia… sempet boleh lah dengerin si Cakra Khan… suara seksi yang rasanya di kupingku agak parau-parau dikit…. Tapi bagus… balik lagi kita ke topic rumah Aelan and Titi ya….
Ternyata kami sempat kelewatan…  Plang perumahan palem indahnya kelewatan… wah terpaksa harus balik arah… naaah ini dia…. Pas lagi mau u turn… eeeh ada motor… gaaaaaak ada berentinya… padahal jelas-jelas kita mau muter… gak tau rem nya blong atau emang semua kudu ngalah… karena setelah diperhatikan… mereka adalah orang-orang yang bawa bendera besaaaaarr banget… (gedean benderanya kayanya dari orangnya)  bergambar habib-habib… aaaah gak kelihatan … karena gelap kan…. Naaaah… kalau nyerobot gak pake rem… tapi pas mau ketabrak Taruli, kok bisa mereka ngerem… melotot-melotot gitu…. (hadeeew sabar mas… wong mau sembahyangan kok marah-marah…) lha wong kita sudah pasang lampu cetik-cetik (lampu sen maksudnya) itu sudah dari tadi… teman-temannya… (ada motor dan mobil lain juga…) yang sudah berenti saat mobilnya Taruli mau u turn…. Laaaah itu motor berbendera teteeeep .... sruuuueeet…. Hampir lah terjadi malapetaka…. Mana aku dan Taruli cuma berdua… cewek-cewek lagi…. Yang satu nenek-nenek lagi… (aku maksudnya….) kami berdua didalam mobil cuma bisa nahan napas…. Akhirnya mereka hanya sampai batas melotot-melotot aja kok…. Dan kita berdua juga cuma sampai batas bisa melempar senyum… mengkounter belalakan mata mereka. Daripada semua pihak melotot… waaaah… tahunbaru kita bisa gagal total…. balik lagi kita ke topic rumah Aelan and Titi ya…. Naaah akhirnya… seperti yang sudah dipesan sama mbak Budi, menunggulah kami di depan Kolam renang… gak berapa lama… datanglah Edo bersama Aelan menjemput kami dan memandu menuju rumah tempat kami mau melepas tahun 2012…. Dan menyambut 2013…..

Tibalah kami dirumah Aelan dan Titi…. Rumah ini pernah kudatangi 2 tahun yang lalu… Tepatnya saat kami mengantar air, untuk Aelah siraman di hari persiapan pernikanan mereka. Tanpa sengaja, almarhum ikut menemaniku mengantarkan air ke rumah ini….. aaah….
Sambil menunggu detik-detik pisah sambut 2012 – 2013 …. Edo memasang lagu-lagunya Dian Pisesha… dari piringan hitam jadulnya… aaaah… masih enak juga didengar… “malam ini tak ingin aku sendiri… kucari damai bersama bayanganmu…” uhuuuuy….. meloooow abeezzz…. Aku mendengarkan lagu itu sambil tiduran disofa … sambil pula menikmati tayangan panggung-panggung gembira menyambut tahunbaru di beberapa chanel televisi. Dian Pisesha masih sibuk nyanyi… terbersit ide… aaah ini aja jadi lagu koncian gue… hehehe…. Jadi kalau ke karaoke … atau kalau didaulat jadi penyanyi dadakan…. Naaaah… langsunglah kumulai dengan bait…. “aku masiiiiih seperti yang duluuuu…” astaga… resolusi 2013nya sederhana banget yaaaak….
Sebenernya ada yang mengganjal juga di hati… bbm ku dari tadi yang kukirim pada seseorang … D melulu… gak dibaca… aaah… ada beberapa kemungkinan…  berusaha untuk tidak menambah sedih krn tidak bisa sama-sama bertahun baru… atau … ya ketiduran… atau… ya punya kegiatan sendiri yang lebih mengasyikkan… atau… ya… mengasyikan diri dengan kegiatan lain supaya tidak terbelenggu dengan kekecewaan karena tidak bisa bertahun baru bersama… wis mbuuuuh … tapi dipihakku… aku berusaha untuk tetap bisa menikmati… (berusahaaaa lhooo… sukses atau enggaknya… Cuma dalam hati ini aja yang tauuu… uhuuuy…)  Tapi aku terhibur juga dengan gayanya Taruli… bu Mentriku yang galak itu… terhibur juga saat melihat Taruli dan Edo menari Pata-Pata…. Kembali teringat almarhum bapakku… yang dulu sering memutar lagu Afrika itu … (afrika atau mana yaaa…. Hehehe… main sebut afrika ajaaa….) tapi setelah aku konfirmasi.... bener kok Afrika... jadi gak ngarang-ngarang akunya... hehehe...
Kuperhatikan semua tingkah laku boruku… aaaaah anakku…. Sudah besarnya kamu… apalagi yang kurang dalam hidupku?  Aku dititipi bayi mungil saat aku masiiiih sangat muda… 24 tahun yang lalu… saat usiaku masih 19 tahun... dan sekarang dia sudah menjelma menjadi seorang perempuan cantik dan pintar (walau kalau kesenggol keluar taringnya…) Aaaah Taruli… anakku… sahabatku…. Ternyata setelah kuingat-ingat lahi.... ya sejak 24 tahun yang lalu… hingga saat ini… kami hanya berdua… sejak aku harus mengurusnya sendiri sejak dia kecil… dan saat inipun aku tetap hanya sendiri… setelah dia besar… saat kuperhatikan dia… dengan gayanya yang selalu membuat tertawa semua orang… aku jadi teringat… oooh ya… ini menjelang tahun 2013… berarti… aku harus mulai berpikir untuk mempersiapkan peringatan 1000 hari kepergian almarhum bulan maret yang akan datang…. heeeem.... nantilah dipikirkannya....

Kembali kesuasana rumah Aelan dan Titi….
Sejak datang… aku lebih banyak menjadi pendengar…  sementara mendengarkan… pikiranku melayang-layang… sambil ya itu tadi rebahan di sofa… sambil sekali-sekali komentar… tapi ya gak penting-penting amat… tak kusadari… ibuku duduk disofa… tepatnya disebelah kakiku… waaah aku segera mengangkat punggungku yang sejak tadi sudah enak rebahan…. Kutawarkan ibu untuk senderan… tapi ibu tidak mau… kenapa ya… kok jadi ibu milih duduk disebelahku… wis gak usah dibahas… ya mungkin kebetulan aja ya… tapi dalam hatiku bersorak…. Terima kasih Tuhanaku saat ini berada disamping ibuku… dengan tangannya yang memegangi kakiku yang selonjoran…  tapi aku lalu mengangkat punggungku untuk duduk tanpa nyender… wong ibuku aja gak nyender… mosok aku malah senderan….
15 menit sebelum jelang tahun 2013. Titi sebagai tuan rumah membagikan lotere…. Widiiiiih Titiiiii…. Ternyata dia sudah menyiapkan kado untuk semua tamu-tamunya…. Eeeeemmmm pantas aja… sejak kemarin dia Tanya… “Mbek… (itu panggilan Titi ke aku… kok koyo ngundang wedus yooo…) conform kan… yang datang 8 orang…” hehehhe… ternyata pertanyaan itu terjawab sekarang… dia akan menyiapkan kado untuk para tamu-tamunya…  Tapi ternyata yang datang cuma 7 karena Iyak bertahun baru dengan kawan-kawannya. Titi berkeliling membagikan gulungan lotere, dan aku dapat no 8… widiiiih nomor paling buncit… gak apa-apa… yang penting dapeeeet…. Asiiiiiiik….. acara pengambilan hadiah dimulai… semua boleh pilih kado yang sudah dijejer sama Titi di depan TV… Tapi kata Edo, kado baru boleh dibuka setelah dentang jam 00….. hurrraaaaayyyyy….. aku ambil bungkusan yang besaaar dooong…. Sesuai postur tubuhku…. Hehehe…..

SELAMAT TAHUN BARUUUUUUU…….. Kata pak Jokowi dengan baju abang jakartenya… tetap aja wajahnya ya mas-mas solo thoooo ya….

Kami semua saling bersalaman, berpelukan sambil menyampaikan cium sayang…. SELAMAT TAHUN BARU… semua mengucapkan kata yang sama… dalam hatiku terucap juga… “selamat tahun baru mas…” (curhat colongaaaaan….) huuuuraaaaay…. Waktunya buka kadoooo…. Semua sibuk membuka kadonya dan aku mendapatkan baju batik… Terima kasih banyak Titi…..Bisa dipake buat ngajar.... Taruli mendapat kantong cantik, untuk tempat botol…. Dan simbah dapat blouse pinky dan hijau…. Waaaah ternyata simbah bajunya kekecilan… dan akhirnya… kado simbah dan Taruli ditukar… God Bless Taruli…. Malah dapat blouse cantik untuk ke kantor… dan simbah mendapat kantong untuk botol jusnya…. Sekali lagi… thank you Titi…. Acara ditutup dengan foto bersama… aaah satu keluarga (itupun tidak lengkap…) aja sudah memenuhi layar kamera.... cheers…. Jepret…. Dan terabadikanlah moment TAHUN BARU bersama….
SELAMAT TAHUN BARU 2013…. Selamat datang kehidupan baru…. Tantangan baru… semangat baru yang lebih menghidupkan…. Yakin semua berbahagia… yakin semua bersuka cita…. Jalani dengan penuh rasa syukur yang mendalam, sebagai sebuah bukti kebesaran Tuhan….

Mampang, 01 Januari 2013
(revisi 13 Desember 2013)


08 October 2012

Himbauan untuk stasiun televisi, beranikah untuk berinvestasi sosial?



Sangat menggembirakan bahwa Hari Anak Nasional tahun 2005 ini mendapat perhatian yang cukup besar dari semua kalangan. Berita-berita di media masa pun tidak lepas dari adanya perhatian dari semua pihak untuk ikut memikirkan bagaimana nasib perkembangan anak-anak kita dimasa yang akan datang, baik secara fisik maupun mental. Secara fisik misalnya mulai terperhatikannya nilai kesehatan dan kebutuhan gizi yang baik bagi pertumbuhan anak-anak. Tetapi secara mental, apa yang telah dilakukan? Sampai saat ini, kehidupan sehari-hari dengan berbagai macam kegiatan yang ada secara tidak sadar justru telah membawa anak-anak kita menuju pada keadaan yang “sakit”.

Media yang paling jitu untuk dapat mendistribusikan nilai-nilai yang berlaku di dalam kehidupan masyarakat adalah media elektronik, bahkan mungkin justru malah kecenderungannya yang akan membentuk nilai-nilai yang berlaku.  Semakin banyaknya stasiun televisi yang muncul, membuktikan bahwa industri ini memberikan peluang besar untuk dapat memberikan keuntungan secara ekonomis. Tetapi nilai-nilai apa yang sebenarnya ingin dibentuk oleh bangsa ini? Jelas hanya himbauan bahwa mendampingi anak pada saat menonton tayangan televisi saja tidak cukup mengingat saat ini kebanyakan orang tua bekerja. Juga jelas hanya tulisan-tulisan dalam bentuk artikel  saja tentang keprihatian bahwa kondisi mental anak-anak saat ini sakit saja tidak cukup. Bila tidak juga diimbangi dengan hal konkrit bagaimana yang seharusnya.

Harus ada sinkronisasi dari semua element untuk dapat membentuk karakter bangsa melalui karakter manusianya. Tayangan televisi saat ini jelas pada kondisi yang sangat memprihatinkan, mulai dari tayangan berita-berita kriminal yang notabene dapat menjadi tolok ukur bagi mereka yang ingin melakukan tindak kriminal, tayangan sinetron baik bagi konsumsi dewasa, remaja maupun anak-anak, yang semuanya begitu gamblang mengumbar kata-kata kasar, makian, teriakan, perkelahian dengan cerita yang sangat miskin dengan nilai budi pekerti, tayangan mistis yang telah membuat orang kembali mundur ratusan tahun kebelakang, tayangan reality show yang kadang justru dapat mempermalukan orang dihadapan publik bila tidak dikemas secara baik dan benar. Sadar atau tidak sadar setiap hari tayangan-tayangan ini digelar di layar kaca di setiap rumah dan nilai-nilai itu terserap dalam kehidupan sehari-hari. Sementara tayangan yang bersifat pendidikan misalnya tentang tradisi, budaya yang justru akar dari seluruh kehidupan manusia Indonesia, tidak mendapat porsi. Terlebih lagi sekarang, dengan adanya pengurangan jam tayang membuat kesempatan program yang bersifat mengembangkan dan melestarikan tradisi semakin hilang. Misalnya tayangan wayang kulit –sudah diputarnya tengah malam, sekarang dihapus pula– sangat memprihatinkan. Seperti yang dapat ditemukan di media Kompas 25 Juli 2005, terdapat profil seorang animator Bagong Soedardjo yang telah mencoba untuk menawarkan program pendidikan anak dengan tokoh boneka, tetapi mendapat penolakan karena tidak mendapatkan iklan, sementara di halaman depan media tersebut sedang heboh dibicarakan tentang kepedulian tentang anak. Ironis dan menyedihkan.

Sudah saatnya di usia kemerdekaannya yang menjelang ke 60 tahun ini Indonesia mulai berani untuk menunjukkan akar budayanya. Yang suka atau tidak suka itulah yang menjadi pedoman kita sebagai manusia Indonesia untuk menunjukan karakter bangsa, dan ini mulai harus dipupuk sejak usia dini. Kenalkah anak-anak –yang saat ini sudah cukup terperhatikan dengan adanya peringatan hari anak– dengan tradisi dan budayanya? Mungkin untuk anak-anak yang berada di daerah masih bisa diarahkan mengingat secara sosial tradisi dan budaya di daerah masih membatasi mereka dengan nilai-nilai yang berlaku, tetapi bagaimana nasib anak-anak yang berada di perkotaan? Haruskah kita pupuk mereka dengan tayangan yang justru semakin menjauhkan mereka dari karakter bangsa yang kita inginkan?

Oleh karenanya sebagai himbauan kepada seluruh stasiun televisi, apakah visi dan misi membangun sebuah stasiun televisi tersebut sungguh hanya menuju pada keuntungan secara ekonomi, atau juga memiliki nilai sosial sebagai media yang dapat mentransformasikan nilai-nilai pendidikan dan karakter bangsa yang sehat. Pada dasarnya stasiun televisi sungguh dapat memposisikan diri  sebagai invisible hand dari pemerintah dalam upaya pembentukan nilai, norma dan karakter bangsa ini.

Pertanyaanya sekarang beranikan stasiun televisi untuk tidak mendapatkan banyak keuntungan secara material, tetapi mendapat keuntungan secara sosial sebagai agen perubahan bagi pembentukan karakter bangsa. Berilah sedikit keseimbangan dalam tayangan-tayangan yang bersifat komersial yang sudah pasti mendatangkan keuntungan dengan program-program pendidikan tradisi dan budaya yang juga sudah pasti mendatangkan keuntungan dimasa yang akan datang sebagai upaya menyehatkan jiwa anak-anak Indonesia. Ini adalah investasi sosial anda masa depan. Memang keuntungan bukan dalam bentuk materi, profit and lost semata. Tetapi jelas bahwa jiwa-jiwa anak-anak Indonesia akan terselamatkan. Beranikah anda?





                                                                                                            Endang Moerdopo
Merdeka Art Community
Mahasiswa Pasca Sarjana
Ilmu Kesejahteraan Sosial
FISIP UI
2005