23 November 2014

LEBAH

Minggu pagi yang cerah ini kubuka dengan latihan  EM CARE  dihalaman rumah.

Mata terpejam, napas serta gerak  berjalan bersama  dan mengolahnya dalam RASA....

Samar terdengar suara dengung....
Dahiku mulai berkerut.... suara itu lalu lalang  beberapa kali ....
Kubuka mata perlahan...

Tertumbuk pandangan pada sekelompok lebah yang terbang beriringan menuju pohon kepel disamping garasi rumahku.
Kuikuti "penerbangan" mereka.... dan.... Aaaaaah...

Diatas pohon itu ternyata mereka telah membangun sarang lebah yang begitu besar.
Kuperhatikan mereka sibuk keluar masuk lubang sarang...
Ada yang hanya berkeliling disekitar sarang...
Ada yang keluar lalu terbang pergi....
Ada yang baru tiba dan segera masuk  dalam lubang sarang....

Teringat cerita Bapak pembimbing  spiritualkuku... beberapa tahun yang lalu, saat menceritakan tentang  kehidupan lebah sambil membuka Kitab Suci AlQuran ; Surat An Nahl... Aaaaah....aku segera mengimajinasikannya dalam alam pikir... bagaimana kesibukan saudara-saudaraku lebah yang ada didalam sarang yang besar itu....  heeeem....

Segera  terucap dari bibirku sebuah desis ...
"Subhanallah... Terima  kasih ya Tuhan Allah... telah mempercayakan saudara pohon yang ada dihalaman rumahku... untuk menjadikannya tempat tinggal bagi saudara-saudara lebah...  Jangan takut saudara-saudara  lebah... aku takkan mengganggumu... tinggallah dengan nyaman disitu.. karena sesungguhnya... kita adalah sama... ciptaan Sang  Pencipta.... Sang Maha Sempurna..."

Memandang takjub .... Puji Tuhan....

Mampang, 23  November 2014
08:54

26 May 2014

Tari Oleg Tamulilingan ; nostalgiku



Sinopsis :

Tari Oleg Tamulilingan menceritakan tentang dua ekor kumbang ; jantan dan betina yang sedang bercumbu berkasih-kasihan disebuah taman. Tarian ini diciptakan oleh I Ketut Mario dari Tabanan pada tahun 1952.

Sabtu malam, tanggal 24 Mei 2014 yang lalu aku menarikan lagi tarian ini sebagai sebuah persembahan pada acara pernikahan putri seorang sahabat. 



Lalu kenapa? Apanya yang istimewa?

Heeeeeem….

Bagiku menjadi menarik, karena….

Terakhir kali aku menarikan tarian ini pada tahun 1984. Berarti sudah 30 tahun yang lalu… ya ampuuuun… ternyata waktu begitu cepat berlalu… membangkitkan kembali nostalgi saat usiaku 16 tahun.



Terima kasih banyak kuucapkan pada :

1.    Mas Toni dan Mbak Mieke yang membangkitkan kembali energiku untuk menarikan tarian berat ini….
2.    Wayan Debel, yang menemaniku menarikan tarian ini walau tanpa sempat latihan.
 


Medio Mampang 26 Mei 2014
00:39

24 May 2014

Hujan di PERMATA ; Ekspresi Reni Widiastuti 3

tiba tiba langit menjadi gelap,mendung bergulung-gulung
menelan mentari yang bersinar garang

angin berhembus kencang,suaranya ribut menyampaikan pesan kepada rumput di padang ilalang,margasatwa di hutan,nyiur ditepi pantai dan dan bunga bunga manggis merah kesumba di samping gereja

kesejukan bagaikan angin yang membawa titik titik air segar,atau wangi tanah gersang yang disirami titik titik hujan

hujan di permata menyapu debu jalanan,menghijaukan dedaunan,menyuburkan tanaman

irama titik titik hujan mengaliri hati yang mendamba sapaan cinta,berpadu lantunan doa rindu di malam syahdu

hujan di permata merangkai doa dari titik titik air hujan menjadi untaian manik manik cinta warna kesumba..

Permata Depok,April 014

Shalom,mb.Endang.GBU..

20 May 2014

HIDUP ; Ekspresi Reni Widiastuti 2

hidupku ini seakan-akan rangkaian
cerita tentang mimpi"ku dan
kenyataan yang ada

Tuhan seperti sedang
bercanda, ketika mimpi
mimpiku menjadi nyata, saat
asa nyaris hilang dan harapan
hampir tumbang

dan ketika kenyataan" hidup
menjadi seperti mimpi, aku
menemukan bahwa hidup
adalah misteri

misteri tentang cinta yang
baka yang membuat hidup ini
bermakna

misteri tentang kasih yang
selalu memberi, yang
membuat hidup ini berarti

sebab hidup adalah anugerah
cinta,yang diberikan Tuhan
dengan cuma-cuma, untuk
dibagikan kepada sesama....

Depok, 10 Juli 13

Mbak Endang, puisi
permenungan tentang
"HIDUP", semoga suka
membacanya Shalom .. GBU

Matur Nuwun, Bu Reni....





BILA SAATNYA TIBA ; Ekspresi RENI WIDIASTUTI 1

Senangnya aku... pada tanggal 3 Mei yang lalu mendapat kiriman sebuah puisi dari saudara ku terkasih Ibu RENI WIDIASTUTI....

Hati tidak dapat dipungkiri, menjadi sebuah ungkapan yang paling dalam saat semuanya dapat tumpah dalam bentuk puisi bermakna.

Kutuliskan disini sebagai bagian dari ekspresi ....
Ekspresiku...
Ekspresi Mbak Reni...

"BILA SAATNYA TIBA"

bila saatnya tiba, ingin aku menembus
batas cakrawala, terbang melayang
menyapa bintang" dan purnama
malam

akan kutemukan ceritaku dan
ceritamu terukir indah di awan", bagai
pelangi sehabis hujan

lalu matamu akan bercerita tentang
kasih yang mengalir dari luka hati
yang terbuka,bisu tanpa kata", hening
tanpa suara.

Bila saatnya tiba akan kutemukan
segala yang kurindukan, segala rahasia
yang terpendam

bila saatnya tiba, aku akan terbang
tinggi, melayang "diawan", melagukan
kidung cinta, karena segalanya telah
menjadi nyata.

Depok, 18 Juni 2013

Shalom mbak Endang, ini aku kirim
tulisanku, sekedar hobi corat
coret, semoga suka.... GBU

Terima kasih mbak Reni sayang...
Teruslah berekspresi....



06 May 2014

BERITA GEMBIRA di TENGAH MALAM GULITA



Malam itu mata Hira masih terbelalak memelototi layar laptop. Ia harus ngebut untuk menyelesaikan materi pelatihannya…”heeeem…” desisnya… “BM nih gue… keBanyakan Mau ini akunya eeeuuuy… jadi malah gak kelar-kelar”. Tapi itulah Hira… Tidak akan berhenti sebelum semua rapi. Tiba-tiba, lagu instrument tradisional “Gondang Sabangunan” yang jadi ringtone hp nya berbunyi nyaring….

“Jiiiiaaah…. Jam berapa ini? Astaga … jam 2 pagi… siapa ini yang telp…” Hira selalu was-was apabila hp nya berdering diatas jam 12 malam. Pasti ada berita yang sangat penting yang harus disampaikan pada saat itu juga… entah sakit atau berpulang atau mungkin kelahiran… biasayanya begitu… “Ya ampuuuuun… Nela… ada apa ini?” segera ia angkat panggilan dari Cornelia sahabatnya itu.

“Hiiiiirrraaaaa….. aku tau kamu pasti belum tidur kan?”
“Ada apa Nel…. Belum... gue masih nulis… kenapa… kenapa?”
“Hira… aku mau ngabari…”
Deg… jantung Hira tiba-tiba berdebar…. “Ada apa Nel…”
“Hira… loe adalah orang pertama yang gue kabari…”
“Kabar apa itu Nel…”
“Gue mau kasih kabar… kalau gue akhirnya memutuskan untuk menikah tahun ini juga….”
“Aaaaaiiiiiiih….. selamat yaaaa…. Aaaah Nelaaaa…. Senangnya…. Aduh Nela… selamat ya… heeem… tapi kenapa ngabarinnya tengah-tengah malem gini sih…”
“Iya Hir… maaaaaaaaaf banget ya, soalnya tadi setelah pertemuan keluarga besar, aku langsung ambruk bruk… dan ketiduran… gak pake ganti baju lagi… ini gue kebangun gara-gara gebelet pipis. Naaaah… gue keinget elo… dan kudu ngabarin elo secepatnya…”
“Aaaaah…. Mengharukan… makasih ya Nel… gue jadi ge er negh…”
“Bantuin gue siap-siapin kebutuhannya ya Hir….”
“Siaaaaaap komandan…. Kapan tho acaranya?”
“Bulan Desember Hir…. Masih agak lama sih…”
“Tapi ya sudah harus disiapkan dari sekarang dong Nel.... Waktu itu berjalan cepat sekali lho…”
“Itu dia.. jadi elo sudah gue daulat ya dari jauh-jauh hari bantuin gue…”
“Siiiiiip…”
“Ya udah ya… loe kerja lagi deh… gue Cuma mau ngabarin itu aja…. Doain gue ya Hir…”
“Pasti Nel… oke… tidur yang nyenyak ya… “
“Pastilah gue nyenyak tidur Hir… hidup gue rasanya kaya disurga…”
“Heeeem…. Okeeee…. Kaya loe tau aja surga kaya apaan….”
“Ya taulaaah….. surga itu kan saat hati kita senang dan bahagia… itulah surga…”
“Hahahahaha…. Sotoy loe…udah sana tidur… malah pidato tentang surga…”
“Nah elo yang tanya….”
“Iya… gue diem nih sekarang…”
“Udah ya… daaaag….”
“Bye Nel…”

Aaaaah…. Cornelia… akan menutup tahun ini dengan pernikahan yang diimpikannya… dengan seorang pria yang menjadi kecintaannya… Hira menghela napas panjang… segera ia memanjatkan doa … “Ya Allah… lancarkan semuanya… Amin …”. Kemudian ia kembali menyusun rangkaian kata di keyboardnya lanjut kerja hingga pagi tiba….

Medio Mampang, 06 Mei 2014
11:06



24 April 2014

MALAM GELAP PANJANG….



Ya ALLAH…
Bunyi Adzan Magrib mulai terdengar… pertanda waktunya matahari untuk pulang
Langit berubah warna… terang… bergeser lembayung dan perlahan menjadi GELAP.
Berjalan perlahan tak terasa… menuju malam…
Dan
Malam pun datang…

Hidup pulalah demikian adanya…
Subhanallah….
Sejak manusia lahir, besar, dewasa, tua … lalu mati… GELAP

Begitu pula masalah yang mengikuti…
Bila tak segeralah diatasi…
Masalah kecil menjadi besar, semakin besar, makin besar dan akhirnya meledak membuat GELAP….

Kekasihku…
Aku tak ingin berada dalam MALAM yang GELAP PANJANG…
Hari diisi dengan hati yang mengganjal…

Sayangku…
Malam akan berganti pagi…
Terang pasti akan datang lagi… itu sudah pasti…

Cintaku…
Kita akan terantuk batu… bila bertahan dalam GELAP
Mari kita nyalakan pemantik untuk mengalahkan GELAP walau hanya kecil…
Aku ingin mengajakmu … untuk membuat gelap panjang ini menjadi singkat saja…

Bisakah kita meyakini…
GELAP kita akan TERANG lagi….
Bisa sayangku… Bisa… dengan segala kedahsyatan cinta yang kita punya…
Mari sayang kita melepas sesak…
Tenangkan hati…
Bersama dalam dekapan…
Yakini diri… TERANG akan datang esok pagi….

Medio Mampang Prapatan
07:56

18 April 2014

Wafatnya ISA AL MASIH

Saat ini pukul tiga…

Seperti yang telah dituliskan dalam guratan pena
IA menghembuskan napasNYA pada sekitar pukul tiga….
Langit mendung gelap gulita pada saat kematianNYA

Kini... Hari ini... saat ini...
Tepat pukul tiga
Langit gelap gulita…
Bunyi guruh guntur… bersahutan….
Seperti yang telah dituliskan…

Langit diatas mampang… diselimuti awan tebal….
GELAP GULITA layaknya malam…
DIA sungguh menunjukkan kuasaNYA…

Aaaah…. merinding aku dibuatNYA

DIA sungguh HADIR….
DIA sunguh HIDUP....
DIA sungguh ADA….


Tersungkur ku dalam lemah… tak berdaya…


Medio Mampang ; Aku dalam keheranan....
18 April 2014
15:00

Happy Anniversary

Pagi ini aku terbangun karena selular disebelah tempat tidurku berdering-dering. Kulihat sebuah nama muncul disana. Cornelia… Heeeem… apalagi niiiih… belum kuangkat deringan telah berhenti. Hedeeeew… “Sabar dong Nel….” Kataku sambil menggeliat, meregangkan otot-otot yang semalam kuistirahatkan dalam tidur yang pulas. Ku buka menu pada gadgetku itu, dan ya ampuuuun… ternyata dia sudah menelponku lebih dari 6 kali… “Duuuuuh… sorry ya Nel… kagak denger daaah….” Kataku lagi. Tapi aku yakin… Nela pasti akan menelponku lagi. Hayo taruhan… wani piro… hehehehe… tiba-tiba… kriiiiiing… kring… segera kulihat nama pemanggilnya dan… Cornelia… “Lhaaaaa rak tenan…” [1]
“Opo siiiiiih…. Pagi-pagi udah kaya orang kesurupan kamu nih…”
“Hiraaaaa…. Manusia kalong… ini sudah siaaaaang…banggggooooon”
“Jiiiiaaah… berisiiiiiiiik….. apaan siiiiih?”
“Elo harus kasih selamat ke gue …. Hiraaaa….”
“Selamat apaan siiiih…???”
“Hari ini tepat peringatan 1 tahun hubungan gue sama si salelengna gue itu…. “
“Wooooalaaaaah…. Astagaaaaa….” Jawabku setengah berteriak. Ini menarik… aku segera terduduk ditempat tidur. Sambil masih mengerjap-ngerjapkan mata. Mungkin ada yang masih ingat tulisanku tentang ALFA DAN OMEGA. http://endangmoerdopo.blogspot.com/2013/09/alfa-dan-omega.html. Ketika itu Nela bercerita tentang perasannya, yang sangat mendalam. Lanjutku “ Jadi elo masih sama dia…? Hebaaaaaat….. gue pikir… loe gak ada kabar lagi… karena udah ciao dari tuh orang Nel….”
“Ya enggak laaaah… gue kan udah bilang…. Salelengna…. Ya berarti salelengna laaaah….” Jawabnya dengan nada super sumringah.
“Aduuuuuh… senengnya…. Traktir doooong….”
“Gak bisa hari ini Hira… kami akan merayakannya berdua ajaaaah….”
“Jiaaaah…. Dasar merki…”[2]
“Hira… tau tak… gak gampang lho ternyata… bisa bertahan dengan mas Hasto….”
“Hoooalaaah wong jowo thoooo…. Lha kamu bilangnya salelengna… tak pikir kamu itu pacaran sama wong mbatak Nela….”
“Denger Hir….” Lanjut Cornelia lagi. “Dengan segala keluguannya, dengan segala kebaikan hatinya…dalam perjalanan waktu ini… aku bisa belajar untuk menjadi orang yang sabar, rendah hati…dan… sangat menikmati kehadiran cinta”
“Wiiiiiih…. Dalem bangeeeet “ jawabku
“Selain itu… naaah… ini paling penting…”
“Heeem….” Jawabku lagi.
“Mas Hasto telah memperkenalkan aku tentang mulianya sebuah kesetiaan…”
“Widiiiiih…. Beraaaaat…. ” Tanyaku penuh dengan keterkejutan
Cornelia tertawa. Jelas aku terkejut. Memang, Setahun yang lalu Nela pernah mengatakan bahwa ia jatuh cinta. Dan kuyakin… pada saat itu, Nela bukanlah Nela yang kukenal. Sehingga walau  ketika itu aku bersyukur bahwa dia telah menemukan cintanya… tetapi tidak menutup kemungkinan ditengah jalan, Nela akan berubah. Cornelia gitu loooh… Banyak sekali laki-laki yang gigih ingin dekat dengannya. Aku mengenalnya sudah cukup lama. Bisa dikatakan bahwa akulah saksi perjalanan hidupnya. Nela tak pernah menyatakan cinta. Karena mungkin Nela sendiripun tak pernah tahu apa itu cinta, karena sudah direpotkan dengan banyaknya tawaran cinta yang disodorkan padanya. Hingga ia sendiri tak sempat untuk mengerti, memahami bahkan merasakan apa itu cinta. Setahun yang lalu, Nela memang pernah dengan begitu meluap-luap mengatakan padaku bahwa ia jatuh cinta. Pagi ini seturut katanya adalah peringatan 1 tahun hubungannya dengan mas Hastonya itu… (aku juga baru tahu tadi kalau ternyata sang dewa pujaan hati itu namanya Hasto…. Hahahaha… kupikir Parlin kek… atau Binsar kek… karena yang digunakan adalah kata SALELENGNA[3] tapi itu gak penting … hehehehe) Nela kembali berteriak-teriak padaku, tentang arti sebuah kesetiaan. Aaaaah…. Cornelia… berkah melimpah untukmu…. Kataku dalam hati.
“Hira…” panggilnya agak sedikit lebih pelan.
“Yupiii dear…”
“Aku bahagia… selama 1 tahun hubungan kami, aku merasakan cinta… dan saat ini …. Aku memiliki kesetiaan…”
“Great, Nel… aku ikut senang dengan kebahagiaanmu itu… selamat ya… sampaikan salamku untuk mas Hasto. Semoga aku tidak kau ganggu untuk berita anniversary mu ini hanya tahun ini…. Harapanku… setiap tahun loe akan menggangguku dengan letupan kebahagiaan yang sama… gue berharap perjalanan cinta loe ini akan salelengna… seperti yang kamu katakana setahun yang lalu….”
“Ya Hira…. Makasih banyak… aku memang harus banyak belajar…. Doain ya Hir…”
“Doaku selalu untukmu Nel… hanya ada 1 hal yang akan kuingatkan padamu…”
“Apa itu Hir…?”
“Pertemuan adalah awal dari perpisahan….”
Cornelia terdiam. Aku hanya bisa mendengar napasnya. Aku yakin diseberang sana Corneliapun terkejut dengan kalimatku.
“Hira… “ Panggilnya. “Hanya kematian yang akan memisahkan aku dan mas Hasto”
Oooooh mak…. Gantian, Cornelia yang membuatku kini menjadi terhenyak. Ternyata, sungguh Nela telah memiliki energy cinta yang luar biasa… Aaaah ya Allah… aku  memejamkan mata yang mulai memanas bahagia… (akhirnya jadi serius akunya)
“Sekali lagi… selamat ya Nel…”
“Terima kasih banyak Hira… doakan kami dalam setiap doamu….”
“Cornelia… tidak ada sedetikpun dirimu luput dari doaku…” Ingin rasanya kupeluk Cornelia yang sedang berbahagia itu.

Happy anniversary Cornelia sahabatku… kutunggu peringatan ini tahun depan… tahun depannya lagi…. Tahun depannya lagi… lagi… dan lagi…. Hingga maut memisahkan….. Alfa dan Omega ya Nel….

(Perlahan kudengar suara Elvis Presley dari radio disebelah tempat tidurku… hoooalaaah… semalam ternyata radio menjadi pengantar tidurku thooo…. Dan sekarang lagu SHE WEARS MY RING… mengalun lembut…. Menyempurnakan kebahagiaan Cornelia dan Hasto)



Mampang, 18 April 2014
09:07



[1]. Lha rak tenan = Lha… benar kan….
[2] Merki = pelit
[3] Salelengna (bahasa Batak) = selamanya.




15 April 2014

MISTERI



Saya teringat dengan pembicaraan dengan seorang sahabat, tentang MISTERI. Dikatakannya bahwa manusia hidup dengan MISTERInya masing-masing… Heeem… menarik….

Bahwa manusia itu melakukan segala sesuatunya, pasti dengan latar belakang dan alasannya masing-masing, yang sudah pasti tidak akan sama antara manusia satu dengan manusia lainnya karena kita ini unik, berpikir dan memiliki kehendak bebas. Oleh karenanya, kita sebagai manusia yang sangat minim dengan pengetahuan kehidupan, belumlah sanggup untuk dapat memastikan secara mutlak… ini adalah benar dan ini adalah salah… benar menurut siapa dan salah menurut siapa…. Karena segala sesuatu itu terjadi pasti ada alasan dan latar belakangnya sendiri…. inilah MISTERI…. Heeeem makin rumit…

Pikiran melayang pada pengalaman saat saya bertugas disebuah daerah, saya melihat seorang perempuan yang setiap pagi berada disamping sebuah rumah berdinding anyaman bambu. Gedeg kalau orang jawa bilang. Apa yang dikerjakan perempuan itu? Setiap pagi ia selalu mengintip dari celah-celah lubang anyaman bambu untuk dapat melihat apa yang terjadi dibalik bilik itu. Bisa dibayangkan, bila kita melihat sesuatu dari celah kecil, dalam hal ini adalah lubang celah kecil bilik bamboo, tentu area pandangan kita hanya seluas lubang itu. Kita tidak dapat melihat secara jelas, secara luas, karena minimnya area penglihatan kita itu. Kembali ke perempuan tadi, setiap pagi dia mengintip dari celah bilik untuk melihat apa yang terjadi didalam sana. Perempuan itu selalu memperhatikan gerak-gerik yang empunya rumah. Dilihatnya si empunya rumah nampak begitu mesra dengan seorang laki-laki, yang dia kenal sebagai seseorang yang cukup dikenal oleh masyarakat daerah itu. Dari hasil pengintaiannya, laki-laki itu sangat sering berada dirumah si empunya rumah. Dan akhirnya, perempuan itu tidak tahan lagi dengan kecamuk pikirannya, lalu mulailah ia yakin… bahwa hal ini harus diluruskan… yang empunya rumah sudah melakukan kesalahan besar, dan jelas ini adalah pelanggaran dan mutlak harus diluruskan… heeem… perempuan pengintip ini mulai repot dengan segala strategi untuk bisa “membantu” meluruskan…. Heeeem…. Bengkok rupanya menurut dia….

Mulailah perempuan ini sibuk untuk meluruskan apa yang dilihatnya dari celah bilik bamboo itu… ada yang membeli jualannya ada yang mengabaikan… hingga akhirnya..... Buuuuuzzzzz…… api membubung tinggi…. Semua orang melihat gumpalan asap yang gulung gemulung memenuhi langit…. Ada yang senang…. Tetapi banyak yang sedih… bertanya-tanya… mengapa rumah itu harus terbakar... atau dibakar?

Si empunya rumah berdiri menatap puing rumahnya, dengan mata memanas… dadanya sesak… tak ada yang tersisa… semua habis terbakar menjadi puing …. Ia memejamkan matanya… menarik napas panjang…. Membetulkan letak kerudung hitamnya… dan mulai melangkah masuk ke dalam sisa-sisa puing yang terlihat masih berkepulan asap. Seperti tak dirasakannya, kakinya melepuh menginjak bara-bara panas yang masih sedikit-sedikit menyala…. Ia mulai membereskan sendiri, puing-puing rumahnya… dengan segala kekuatannya. Tidak sepotong kalimatpun terucap dari sela bibirnya yang pucat. Ia diam… seribu bahasa….dengan segala kekuatannya... ia mendesis perlahan..."Terjadilah padaku seturut kehendakMu... yang aku mohon hanyalah kekuatan, agar aku mampu membangun dan menata kembali gubukku..." sambil terus mengais sisa-sisa puing ... dengan sisa-sisa tenaganya.

Apakah kita… dengan hanya melihat dari celah sempit bilah bilik… sudah dapat memastikan bahwa apa yang terjadi dibalik bilik itu adalah sebuah kesalahan? Ataukah sebuah kebenaran?

Segala sesuatu terjadi, atau dilakukan, adalah dengan alasan dan latar belakangnya sendiri. Dapatkah kita menentukan sesuatu, menjadi sebuah simpulan…. Apabila kita hanya melihatnya dari ruang penglihatan yang sangat sempit? Sepotong-sepotong… tidak utuh?  Atau hanya dibalik sebuah layar, walaupun transparan… sebagai sebuah kebenaran mutlak yang harus diluruskan…?

Heeeeem…. MISTERI….


EM
14 April 2014
09:29