Mengenai Saya

Foto Saya
Nama saya Endang Moerdopo. Nama belakang itu nama orang yang mengukir hidup saya. Saya lahir tanggal 5 April 1968 di Yogyakarta. Menyelesaikan SD hingga SMA di St Ursula Jakarta, meneruskan study di Fisip Universitas Indonesia. Kemudian mengambil S2 di almamater dan fakultas yang sama. saat ini saya sedang melanjutkan studi doktoral, masih di jurusan, fakultas dan Universitas yang sama. Saya pernah terlibat dalam program Rehabilitasi dan Rekonstruksi BRR di Aceh pasca Tsunami, sekaligus menyusun thesis S2. Saya punya kegemaran lain di bidang kesenian, yakni menari dan menulis. Di bidang menari, saya dipercaya sebagai Wakil Ketua Kelompok kesenian Puri Gita Nusantara - yang diketuai Pak Permana Agung. Di dunia sastra, sudah beberapa tulisan saya hasilkan. Buku terbitan perdana saya berjudul PEREMPUAN KEUMALA, yang telah diterbitkan tahun 2008 oleh GRASINDO dan saat ini saya sedang menyelesaikan lanjutan dari novel PEREMPUAN KEUMALA. Nyanyi? jelas suka...., meski hanya untuk gumam sendiri. Traveling, baca buku, nonton pementasan, beberapa dari bagian kesenangan saya. Saya rasa ini dulu ya .... Best regards

13 Juli 2008

SUWUNG....

Jerat semakin kuat mengikatku. Aku muak dengan semuanya ini. Aku ingin lepas dari segala sandiwara membosankan ini. Namun seperti sebuah lingkaran sindikat yang tak dapat kutinggal pergi begitu saja. Sekali pergi, haruslah mati. Seakan takut aku akan bernyanyi sana-sini.

Jerat semakin kuat mencekik leherku. Seakan aku tak kuasa lagi untuk berteriak. Kalaupun kuberteriak, seakan tak ada suara yang terdengar. Sehingga orang-orang disekelilingkupun tak pernah tengarai ada apa denganku. Yang mereka tahu, aku hanya menebar senyum selalu selama hari berlalu. Tanpa beban kelu yang sebenarnya mengikatku.

Jerat semakin kuat mengikatku. Setelah tahun berganti tahun harus tetap berada disini, dijalan ini. Tak ada satupun yang menempatkanku menjadi nomor satu. Tak ada orang yang mau membawaku pergi dan berlari, walau mereka tahu begitu kuat ikat menjeratku. Tak satu orang yang kutuju, untuk membebaskanku dari jerat yang semakin membuatku kaku.

Hidupku adalah hampa, walau penuh warna. Kosong hanya nampak dinding yang penuh coretan beraneka rupa. Semua pergi, semua berlari dengan pikiran dan tujuannya sendiri. Saat membutuhkanku, kembali menoleh padaku. Dan mencoretkan lagi dengan kuas berwarna-warni di dinding yang semakin hari semakin padat berisi. Namun ruang itu tetaplah kosong... SUWUNG....

Medio 6 Desember 2007