30 September 2008



Mengucapkan

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, 1 Syawal 1429 H.

Mohon maaf lahir dan batin.

Salam,

Endang Moerdopo

19 September 2008

Sebuah perjalanan dalam lorong kepenulisan

Seperti yang dikatakan seorang kawan dari Banda Aceh, bahwa dia tidak menyangka bahwa tulisan yang pernah kusodorkan padanya pada suatu hari, kini telah menjadi sebuah buku. Komentarnya singkat namun bagiku, ungkapan itu adalah ungkapan yang sangat objetif dan spontan dari seorang kawan yang baru kukenal di tanah Aceh. "Akhirnya, jadi juga barang itu.Saat saya baca prolog dulu, sempat terpikir bahwa tulisan itu bukan garapan serius.Cuma mencoba menghilangkan rasa suntuk di wilayah yg sdg "sakit"." Kurasa wajar saja dia berkomentar itu, karena memang dia mengenalku bukan sebagai seorang penulis atau paling tidak gemar menulis.

Jangankan dia, aku sendiri pun tidak menyangka bahwa akhirnya aku memasuki sebuah koridor baru dalam dunia tulis menulis, yang sebenarnya dari dulu sudah kulakukan.

apa yang terjadi dulu???

Sejak SD, aku memang sudah sering mencorat-coret kertas dengan cerita-cerita pendek yang kemudian kertas itu hilang, terbang tertiup angin tanpa sempat kuselesaikan. Mengapa begitu? aku pun tidak tahu secara pasti, apakah karena terlalu liarnya imaginasi, sehingga otakku yang kecil ini tidak sanggup menampung ribuan hal indah yang sebenarnya dapat kuungkapkan dalam sebuah rangkaian kata. Atau karena "keset" (malas;dalam bahasa jawa) yang sering diteriakkan ibuku, untuk menulis. Atau juga karena pada saat itu, banyak hal yang lebih menarik untuk kulakukan, sehingga imajinasi dan kreatifitasku untuk merangkai kata menjadi mendua.

Tapi ternyata tidak ada kata terlambat !!!!

Setelah melalui perjalanan panjang kehidupan dalam kurun waktu yang tidak singkat. Juga dengan berjuta pengalaman hidup yang beraneka warna yang juga sempat kujalani, kualami dan mungkin juga kunikmati.... ditanah seberang yang tidak pernah kuduga pula yaitu Aceh... aku mulai menangkap kata-kata yang tadinya hanya terbang-terbang disekelilingku, mengumpulkannya dan kemudian merangkainya dalam sebuah karya yang kemudian bisa bermakna dalam hidupku.

Kini, namaku sebagai seorang penulis sudah mulai muncul... paling tidak di toko buku Gramedia, sebaris namaku sudah mulai terbaca orang. Baik yang sengaja mencari, sengaja melihat, atau tidak sengaja, atau sambil lalu, atau terbaca tapi tidak sangkut di pikiran, karena memang bukan bukuku yang dituju. Tidak apa-apa.... ini sebuah rintisan baru dalam sejarah hidup diusiaku ke 40 tahun.... Tidak muda lagi.... Kadang menyesal juga kenapa baru diusiaku tepat 40 tahun, baru jadi barang itu....

Kembali kukatakan ... Tidak ada kata terlambat... !!!

Saat bukuku sedang dalam proses penerbitan, ada rasa gamang juga dalam diriku.... apakah buku ini dapat diterima oleh calon pembacaku nanti? Bagus atau tidak? menarik atau sampah? Pergumulan hebat telah terjadi padaku saat itu. Mungkin itu wajar, karena ini adalah tulisan pertamaku yang akan diterbitkan oleh sebuah kelompok penerbitan yang di labelkan "bergengsi" yaitu GRASINDO. Banyak juga yang mengomentari kehebatanku, bahwa tulisanku bisa diterima oleh kelompok penerbitan GRAMEDIA. Memang sudah rejekiku.... seperti kata orang tua-tua dan sampai saat ini masih menjadi pegangan.... "Rejeki nggak kemana..."

Saat ini bukuku sudah mulai beredar, dan bagiku sangat mengharukan karena kegamangan yang terjadi sebelum buku itu terbit sirna. Mengapa? karena sebagian besar pembaca memberikan tanggapan yang luar biasa..... Positif dan sangat membangun.... Hingga pada suatu malam, kubolak-balik lagi lembar demi lembar tulisanku.... PEREMPUAN KEUMALA.... hingga akhirnya tersadar olehku buku itu tetap dalam dekapanku hingga pagi menjelang.... "Ya Tuhan... terima kasih banyak".

Mudah-mudahan bukuku ini, dapat mem"virus"i para calon pembaca untuk menjadi pembaca, untuk kemudian dapat memaknai tulisanku sebagai sebuah tambahan warna dalam kehidupan pembacaku.... itu sungguh harapanku.

Bukan waktunya lagi aku untuk berdiam diri, karena aku harus mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk karyaku berikutnya... Identitas baru, baru saja tersemat dipundakku. Oleh karenanya aku harus semakin banyak membekali diri, agar semakin mantab kiranya langkahku melaju.

Seperti kata Adi, seorang sobatku "mbak, loe dah buka pintu. Sekarang waktunya untuk mulai menapaki sebuah lorong baru yaitu lorong kepenulisan...."

Salam
Endang Moerdopo

10 September 2008

Ungkapan Rasa Terima Kasih

Alhamdulillah, akhirnya tiba juga waktu yang sangat mendebarkan itu.
Dengan penuh kebanggaan, aku bisa mempersembahkan karyaku ini bagi pembaca semua.

Kini PEREMPUAN KEUMALA telah lahir, sebagai sebuah tanda kasihku pada bangsaku dan tumpah darahku, Indonesia tercinta.

Dan sejak ini pula, PEREMPUAN KEUMALA bukan hanya milik masyarakat Aceh saja, namun juga milik masyarakat Indonesia, bahkan milik dunia. Semoga kita bisa meneladani nilai-nilai perjuangan yang telah dibuktikannya bagi tanah tercinta.

PEREMPUAN KEUMALA, juga kupersembahkan kepada pembaca tercinta saudara-saudaraku di tanah Nanggroe. Ini adalah hasil jerih payahku selama aku berada disana. Hasil ini tak akan pernah habis dimakan waktu. Bagiku tulisan ini adalah abadi seumur hidupku.

Ini bukan sebuah akhir, namun ini adalah tonggak awal aku harus memulai lagi kerja kerasku untuk langkah selanjutnya.

Terima kasih banyak atas semua dukungannya, baik moril maupun materiil.

Salam.

Endang Moerdopo

23 August 2008

Apresiasi dari seorang Arswendo Atmowiloto










Aku tercengang saat mas Wendo dengan begitu lancar menceritakan kembali bab 7 dari tulisanku PEREMPUAN KEUMALA. Dengan gaya bicaranya yang keras namun lugas beliau mengatakan bahwa aku mampu dengan baik dan detil menggambarkan gejolak suasana hati Keumala. Beberapa kali mas Wendo mengulang kembali menceritakan tentang bagaimana ikan-ikan dan angsa-angsa yang berkejaran di kolam istana.... baginya bagian itu merupakan bagian yang paling menyentuh dan DAHSYAT...!!!

Mengapa aku tercengang? Karena pernyataan itu muncul dari seorang ARSWENDO ATMOWILOTO ; seorang budayawan kawakan yang tentu tidak sembarangan bagi orang sekelas beliau memberikan ulasan untuk ku yang notabene seorang pemula. Walaupun adapula kelemahan yang beliau sampaikan, namun bagiku itu justru merupakan sebuah masukan yang sungguh sangat membangun.

Moody... itu adalah komentarnya saat membaca tulisanku. "Emosimu tidak stabil" tambahnya lagi. Yaaah... begitulah kira-kira aku. Dengan "sharp" beliau langsung menembak sisi ruang hatiku yang terdalam. Aku mengangguk membenarkan.

Dalam kesempatan ini, kepada yang terhormat, mas Wendo.... sekali lagi terima kasih banyak atas apresiasi yang sangat tinggi dan atas berkenannya memberikan ulasan atas karya PERDANA ku.

Juga atas buku barunya yang berjudul "BLAKANIS" yang diserahkan padaku dengan tak lupa membubuhkan tanda tangannya, serta sebuah tulisan DAHSYAT untukku :

" Salam buat CUT ENDANG MOERDOPO" dari sesama pengarang..... "

Sebuah pengakuan yang sungguh luar biasa dari seorang ARSWENDO ATMOWILOTO untuk seorang pendatang baru ENDANG MOERDOPO.

Matur Nuwun Sanget mas.....

22 August 2008

Dream Come True

Selembar undangan kini ada di tanganku. Oooh My GOD.... Mimpikah aku....? Ternyata tidak... aku tidak sedang bermimpi.

Dua tahun bukan waktu yang pendek... namun juga bukan waktu yang panjang untuk sebuah kesempurnaan....

Semua berpulang kepada pembaca....
Aku sudah terlalu banyak bicara melalui buku ini, oleh karenanya mohon tanggapan dan masukannya untuk memperkaya warna...

Mohon doa restu atas segala daya dan upaya yang telah kulakukan untuk menyumbangkan sedikit warna, bagi NANGGROE tercinta.....

Sekaligus mohon kehadirannya untuk lebih menghidupkan kobaran jiwa yang kini sedang menyala di dalam dada.....

Saleum

Endang Moerdopo

Persembahan untuk NANGRROE tercinta

Judul : PEREMPUAN KEUMALA ; Sebuah EPOS untuk NANGGROE
Ukuran buku : 14 x 20 cm
Jumlah Halaman : 360 halaman
Penerbit : PT. GRAMEDIA WIDIASARANA INDONESIA (GRASINDO)
Harga : Rp. 52,000,-
Peluncuran Buku : Tanggal 27 Agustus 2008, di Toko Buku GRAMEDIA Matraman, Pukul 16 - 18 WIB.

SINOPSIS

Prolog dalam cerita ini menggambarkan pengalaman Hira, seorang pekerja sosial yang sedang bertugas di Nanggroe Aceh Darussalam pasca bencana. Kekagumannya pada pahlawan perempuan Keumalahayati membuatnya ingin menggali lebih jauh siapa sosok perempuan itu. Keprihatinan atas kurangnya penghargaan generasi muda saat ini kepada Laksamana Malahayati, membawanya masuk dalam kehidupan Laksamana perempuan itu.

Cerita dalam buku ini dimulai sejak Keumalahayati masih menjalani pendidikan di tempat belajar militer kerajaan yaitu Mahad Baitul Maqdis. Tempat inilah yang mencetak para perwira tangguh yang memperkuat pertahanan Kerajaan Aceh Darussalam. Di tempat belajar ini pulalah Keumalahayati bertemu dengan Tuanku Mahmuddin Bin Said Al Latief taruna senior yang kemudian menjadi suaminya.
Setelah lulus dari tempat pendidikan militer tersebut, keduanya menikah dan mereka mengabdikan diri menjadi pejabat tinggi kerajaan. Tuanku Mahmuddin Bin Said Al Latief menjadi Panglima Armada Selat Malaka dan Keumalahayati menjadi Komandan Protokol Istana. Kisah sepak terjang keberanian Keumalahayati di kerajaan Darud Donya Darussalam berawal dari kematian suaminya yang tewas dalam pertempuran di teluk Haru. Tak lama setelah kematian suaminya, Keumalahayati harus lagi mengalami cobaan yang disebabkan oleh penculikan putri tunggal tercintanya yang dilakukan oleh sesama petinggi kerajaan.

Sejalan dengan malapetaka yang terus menerus menderanya, membuat Keumala tak mampu untuk menjalankan tugas dengan baik. Hal ini disebabkan karena kekacauan yang terjadi di tanah nanggroe, baik dari luar kerajaan, antara lain karena para orang kaya yang bersekutu dengan Portugis pendatang yang hanya mencari keuntungan diri sendiri, maupun dari dalam lingkungan kerajaan, yaitu rencana kudeta yang akan dilakukan oleh Sultan Muda, putra Baginda Sultan sendiri.

Pada masa-masa kesedihannya inilah yang membuat Keumala seakan menjadi putus asa, dan situasi ini dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki kepentingan untuk melenyapkan Keumala. Mereka mengirimkan mantera Tapak Tuan (mantera yang membuat orang menjadi tak berdaya) agar Keumala dipecat dari Kerajaan. Namun Keumala adalah seorang yang kuat, baik secara fisik maupun keimanan, maka dengan segera mantera yang sempat mempengaruhinya tersebut hilang dan Keumala menyadari keadaan negerinya yang semakin kacau dan carut marut.

Berangkat dari rasa tanggung jawab dan rasa kehilangan inilah yang memacunya untuk bangkit berdiri membela negeri sekaligus membela kebenaran, dengan membentuk ARMADA INONG BALEE (Armada janda) yang semuanya terdiri dari kaum perempuan yang telah menjadi janda, karena suami-suami mereka tewas dalam pertempuran di teluk Haru, yang juga menewaskan suami Keumalahayati. Selama memimpin Armada Inong Balee, Keumalahayati telah mampu unjuk gigi dengan melenyapkan siapa saja yang berani melawan daulat (perintah) Baginda Sultan. Seluk beluk kehidupan kekacauan yang disebabkan oleh intrik-intrik yang terjadi di Kerajaan Aceh Darussalam justru semakin membuat Laksamana Keumalahayati menjadi sosok manusia yang tegar, tangguh dan seakan tanpa hati. Sementara jauh dibalik semua itu, ia tetaplah seorang manusia biasa, perempuan biasa, yang juga memiliki kasih, memiliki cinta dan memiliki naluri seorang ibu. Cerita dalam novel ini ditutup dengan perkelahian sengit antara Laksamana Keumalahayati dengan pendatang Belanda pertama di Nusantara yaitu Cornelis De Houtman dengan kemenangan berada di pihak Laksamana Keumalahayati. Ia berhasil membunuhnya melalui pertempuran satu lawan satu diatas geladak kapal.

Dalam Epilog digambarkan keprihatinan Laksamana Malahayati terhadap Nanggroe Aceh Darussalam yang saat ini seakan telah porak poranda, sejak konflik hingga bencana besar gempa bumi dan tsunami yang telah membuat sendi-sendi kehidupan seakan luluh rantak. Melalui titian waktu sosok Laksamana Keumalahayati ingin meneriakkan semangat perjuangan kepada seluruh manusia yang seakan tertidur dalam tenang, sementara kehidupan tetap harus diperjuangkan.

14 August 2008

Mereguk Restu "IBU" ; 3


Inilah waktuku untuk melakukan permenungan....
Disambut dengan hembusan angin kencang diseputar makam....
Ku runut kembali sebuah perjalanan dalam sebuah kehidupan.
Kau pernah ada....
dan kini aku ada....
Dihadapan makam Ibu, dengan segala kerendahan hatiku....
Kumohon restumu....
Amin Ya Robal Alamin.....
Wass Wr Wb