Cukup lama tidak menulis disini...
Perjalanan yang ternyata cukup panjang, hingga akhirnya muncul lagi disini...
Kenapa ya?
Salah satunya, mungkin adalah karena harus WFH...
Ya, bisa jadi karena itu.
Ternyata, COVID ini cukup ampuh menahan kita semua untuk tidak berkeliaran, dan memaksa kita untuk duduk manis dirumah saja.
Apa yang kemudian harus kita lakukan dalam situasi ini?
Bukan berniat untuk sok tau, tapi mungkin untuk sedikit mengingatkan bahwa kita harus mulai untuk ;
1. Menerima diri.
Apa maksudnya ? Ya, kadang kita lupa atau bahkan kita tidak mengenali siapa diri kita. Kadang kita terlalu sibuk untuk memenuhi kebutuhan kita, hingga tidak sempat untuk mengenali kita ini siapa. Nah, dengan WFH, mungkin kita bisa mulai introspeksi. Kenal gak sih kita dengan diri kita ini? Bagaimana kita mau mengerima diri kita kalau kita sendiri tidak mengenali, SIAPA diri kita?
2. Melihat kebaikan.
Nah, kalau yang ini apa maksudnya? Kita kadang, atau bahkan seringkali lupa, bahwa apa yang sudah kita terima ini, adalah semua berkat dari kebaikan. Kebaikan dari siapa? ya dari semua... dari orang tua, keluarga, sanak saudara, kerabat, tetangga, kolega. Tentu saja yang terutama adalah Tuhan Allah yang telah memberi kita kehidupan. Semua pasti bertujuan baik. Nah, apakah kita selama ini, sempat untuk melihat kebaikan itu? Nah... ini waktunya.
3. Mintalah.
Ini dia... Saat inilah waktunya kita untuk rendah hati. Saatnya kita untuk meminta kepada siapapun yang memang bisa membantu kita. Heem... rasanya ini waktunya juga untuk mengatakan bahwa gengsi menjadi tidak ada artinya. Tentu saja, kembali lagi yang terutama dan utama adalah kita meminta kepada Tuhan Allah, agar kita dapat tetap hidup sesuai dengan kehendakNya.
Heem...
Sepertinya itu dulu ya, yang bisa disampaikan hari ini. Besok akan kulanjutkan lagi.
15 April 2020
Terisolasi di kamar 8
Mess Kampus
Yogyakarta
15 April 2020
09 November 2017
Malahayati
Selulerku hari ini harus bekerja keras....
Kenapa...?
Ternyata banyak sekali yang merespon keputusan Presiden RI Nomor 115/TK/Tahun 2017.
Tentang apa itu?
Penganugerahan gelar PAHLAWAN NASIONAL untuk Laksamana Malahayati.
Aku lunjak bahagia...
Tanpa sadar aku mengucap Alhamdulillah... "Ibu... akhirnya negeri ini mengakui kerja keras dan perjuanganmu"
Ibu, 9 tahun yang lalu buku tentangmu diterbitkan. Namun tetap semangatmu belumlah cukup dikenal. Namun aku yakinkan dalam hatiku, suatu saat nanti semua orang akan mengenal dan mengakui darah dan air mata yang pernah kau cucurkan untuk negeri ini.
Mau tahu perjuangannya...?
Semua tertulis dalam buku PEREMPUAN KEUMALA...
17 December 2015
Diujung waktu
Aliran sungai itu pada saatnya pasti akan tiba di samudra
luas...
Jangan hibur aku dengan kata "jangan sedih
sayang..." karena jelas aku pasti
akan sedih.
Jangan kau tanyakan "mengapa kita harus bicara
kematian?"
Sayangku... mungkin ini memang bukan pembicaraan yang akan
terjadi esok pagi... atau minggu depan... atau bulan depan... bahkan tahun
depan...
Tapi yang pasti... hal itu akan terjadi...
(Pembicaraan yang kudengar semalam... entah antara siapa
dengan siapa... mungkin diriku dengan diriNYA... "NYA" siapa? Tiada
jawab... hanya hening...)
Mampang , 17 Desember 2015
10 April 2015
Kunjungan Bapak TUKANG KEBUN pagi itu.
Foto Lukisan itu kuambil tanggal
19 Maret 2015. Lukisan itu tergantung disebuah dinding diluar Kapel St. Maria Magdalena yang berada di sebelah Timur Basilika Makam Suci.
Apa istimewanya lukisan itu? Heem... ada baiknya
aku sedikit mengulas tentang latar
belakang lukisan itu. Lukisan tua
itu menggambarkan sebuah peristiwa yang
diabadikan oleh pelukis Kuba Del Rio pada tahun 1855. Lalu peristiwa apa sih yang
digambarkannya? Kira-kira begini ; adalah suatu pagi, sehari setelah Yesus wafat, Maria Magdalena menangis, ketika melihat makam Yesus sudah terbuka dan kosong. Saat Maria
Magdalena kebingungan dan menangis, seseorang
laki-laki menyapanya dan bertanya, "Ibu, mengapa menangis?".
Karena menyangka bapak itu adalah
seorang TUKANG KEBUN, maka Maria Magdalena bertanya kepadaNYA. "Bapak, kalau Bapak
yang memindahkan dia dari sini, tolong katakan pada saya, dimana Bapak menaruh
dia, supaya saya dapat
mengambilnya."Seketika itu juga TUKANG
KEBUN itu
memanggilnya..."Maria..."dan Sontak
Mariapun mengenali suara itu dan menjawab..."Rabuni..." Sambil
kemudian langsung bersujud. Begitulah kira-kira
peristiwa yang kemudian diabadikan dalam lukisan ini.
Lalu .... apa alasanku untuk
mengulas lukisan itu?
Pagi itu, tanggal 05 April 2015,
dini hari sekitar pukul 01;35, saat airmata mengalir deras, membuncah
sesak dalam hati... Bapak TUKAN KEBUN itu .... berdiri disana, samping pohon
kamboja... Tanpa kata... namun PENDAR SIRAT SINAR MATANYA banyak BICARA...
Mampang, 10 April 2015.
23 November 2014
LEBAH
Minggu pagi yang cerah ini kubuka dengan latihan EM CARE dihalaman rumah.
Mata terpejam, napas serta gerak berjalan bersama dan mengolahnya dalam RASA....
Samar terdengar suara dengung....
Dahiku mulai berkerut.... suara itu lalu lalang beberapa kali ....
Kubuka mata perlahan...
Tertumbuk pandangan pada sekelompok lebah yang terbang beriringan menuju pohon kepel disamping garasi rumahku.
Kuikuti "penerbangan" mereka.... dan.... Aaaaaah...
Diatas pohon itu ternyata mereka telah membangun sarang lebah yang begitu besar.
Kuperhatikan mereka sibuk keluar masuk lubang sarang...
Ada yang hanya berkeliling disekitar sarang...
Ada yang keluar lalu terbang pergi....
Ada yang baru tiba dan segera masuk dalam lubang sarang....
Teringat cerita Bapak pembimbing spiritualkuku... beberapa tahun yang lalu, saat menceritakan tentang kehidupan lebah sambil membuka Kitab Suci AlQuran ; Surat An Nahl... Aaaaah....aku segera mengimajinasikannya dalam alam pikir... bagaimana kesibukan saudara-saudaraku lebah yang ada didalam sarang yang besar itu.... heeeem....
Segera terucap dari bibirku sebuah desis ...
"Subhanallah... Terima kasih ya Tuhan Allah... telah mempercayakan saudara pohon yang ada dihalaman rumahku... untuk menjadikannya tempat tinggal bagi saudara-saudara lebah... Jangan takut saudara-saudara lebah... aku takkan mengganggumu... tinggallah dengan nyaman disitu.. karena sesungguhnya... kita adalah sama... ciptaan Sang Pencipta.... Sang Maha Sempurna..."
Memandang takjub .... Puji Tuhan....
Mampang, 23 November 2014
08:54
Mata terpejam, napas serta gerak berjalan bersama dan mengolahnya dalam RASA....
Samar terdengar suara dengung....
Dahiku mulai berkerut.... suara itu lalu lalang beberapa kali ....
Kubuka mata perlahan...
Tertumbuk pandangan pada sekelompok lebah yang terbang beriringan menuju pohon kepel disamping garasi rumahku.
Kuikuti "penerbangan" mereka.... dan.... Aaaaaah...
Diatas pohon itu ternyata mereka telah membangun sarang lebah yang begitu besar.
Kuperhatikan mereka sibuk keluar masuk lubang sarang...
Ada yang hanya berkeliling disekitar sarang...
Ada yang keluar lalu terbang pergi....
Ada yang baru tiba dan segera masuk dalam lubang sarang....
Teringat cerita Bapak pembimbing spiritualkuku... beberapa tahun yang lalu, saat menceritakan tentang kehidupan lebah sambil membuka Kitab Suci AlQuran ; Surat An Nahl... Aaaaah....aku segera mengimajinasikannya dalam alam pikir... bagaimana kesibukan saudara-saudaraku lebah yang ada didalam sarang yang besar itu.... heeeem....
Segera terucap dari bibirku sebuah desis ...
"Subhanallah... Terima kasih ya Tuhan Allah... telah mempercayakan saudara pohon yang ada dihalaman rumahku... untuk menjadikannya tempat tinggal bagi saudara-saudara lebah... Jangan takut saudara-saudara lebah... aku takkan mengganggumu... tinggallah dengan nyaman disitu.. karena sesungguhnya... kita adalah sama... ciptaan Sang Pencipta.... Sang Maha Sempurna..."
Memandang takjub .... Puji Tuhan....
Mampang, 23 November 2014
08:54
26 May 2014
Tari Oleg Tamulilingan ; nostalgiku
Sinopsis :
Tari Oleg
Tamulilingan menceritakan tentang dua ekor kumbang ; jantan dan betina yang
sedang bercumbu berkasih-kasihan disebuah taman. Tarian ini diciptakan oleh I
Ketut Mario dari Tabanan pada tahun 1952.
Sabtu malam,
tanggal 24 Mei 2014 yang lalu aku menarikan lagi tarian ini sebagai sebuah
persembahan pada acara pernikahan putri seorang sahabat.
Lalu kenapa?
Apanya yang istimewa?
Heeeeeem….
Bagiku
menjadi menarik, karena….
Terakhir kali
aku menarikan tarian ini pada tahun 1984. Berarti sudah 30 tahun yang lalu… ya
ampuuuun… ternyata waktu begitu cepat berlalu… membangkitkan kembali nostalgi
saat usiaku 16 tahun.
Terima kasih
banyak kuucapkan pada :
1.
Mas
Toni dan Mbak Mieke yang membangkitkan kembali energiku untuk menarikan tarian
berat ini….
2.
Wayan
Debel, yang menemaniku menarikan tarian ini walau tanpa sempat latihan.
Medio Mampang
26 Mei 2014
00:39
24 May 2014
Hujan di PERMATA ; Ekspresi Reni Widiastuti 3
tiba tiba langit menjadi gelap,mendung bergulung-gulung
menelan mentari yang bersinar garang
angin berhembus kencang,suaranya ribut menyampaikan pesan kepada rumput di padang ilalang,margasatwa di hutan,nyiur ditepi pantai dan dan bunga bunga manggis merah kesumba di samping gereja
kesejukan bagaikan angin yang membawa titik titik air segar,atau wangi tanah gersang yang disirami titik titik hujan
hujan di permata menyapu debu jalanan,menghijaukan dedaunan,menyuburkan tanaman
irama titik titik hujan mengaliri hati yang mendamba sapaan cinta,berpadu lantunan doa rindu di malam syahdu
hujan di permata merangkai doa dari titik titik air hujan menjadi untaian manik manik cinta warna kesumba..
Permata Depok,April 014
Shalom,mb.Endang.GBU..
menelan mentari yang bersinar garang
angin berhembus kencang,suaranya ribut menyampaikan pesan kepada rumput di padang ilalang,margasatwa di hutan,nyiur ditepi pantai dan dan bunga bunga manggis merah kesumba di samping gereja
kesejukan bagaikan angin yang membawa titik titik air segar,atau wangi tanah gersang yang disirami titik titik hujan
hujan di permata menyapu debu jalanan,menghijaukan dedaunan,menyuburkan tanaman
irama titik titik hujan mengaliri hati yang mendamba sapaan cinta,berpadu lantunan doa rindu di malam syahdu
hujan di permata merangkai doa dari titik titik air hujan menjadi untaian manik manik cinta warna kesumba..
Permata Depok,April 014
Shalom,mb.Endang.GBU..
Subscribe to:
Posts (Atom)





