08 October 2012

Himbauan untuk stasiun televisi, beranikah untuk berinvestasi sosial?



Sangat menggembirakan bahwa Hari Anak Nasional tahun 2005 ini mendapat perhatian yang cukup besar dari semua kalangan. Berita-berita di media masa pun tidak lepas dari adanya perhatian dari semua pihak untuk ikut memikirkan bagaimana nasib perkembangan anak-anak kita dimasa yang akan datang, baik secara fisik maupun mental. Secara fisik misalnya mulai terperhatikannya nilai kesehatan dan kebutuhan gizi yang baik bagi pertumbuhan anak-anak. Tetapi secara mental, apa yang telah dilakukan? Sampai saat ini, kehidupan sehari-hari dengan berbagai macam kegiatan yang ada secara tidak sadar justru telah membawa anak-anak kita menuju pada keadaan yang “sakit”.

Media yang paling jitu untuk dapat mendistribusikan nilai-nilai yang berlaku di dalam kehidupan masyarakat adalah media elektronik, bahkan mungkin justru malah kecenderungannya yang akan membentuk nilai-nilai yang berlaku.  Semakin banyaknya stasiun televisi yang muncul, membuktikan bahwa industri ini memberikan peluang besar untuk dapat memberikan keuntungan secara ekonomis. Tetapi nilai-nilai apa yang sebenarnya ingin dibentuk oleh bangsa ini? Jelas hanya himbauan bahwa mendampingi anak pada saat menonton tayangan televisi saja tidak cukup mengingat saat ini kebanyakan orang tua bekerja. Juga jelas hanya tulisan-tulisan dalam bentuk artikel  saja tentang keprihatian bahwa kondisi mental anak-anak saat ini sakit saja tidak cukup. Bila tidak juga diimbangi dengan hal konkrit bagaimana yang seharusnya.

Harus ada sinkronisasi dari semua element untuk dapat membentuk karakter bangsa melalui karakter manusianya. Tayangan televisi saat ini jelas pada kondisi yang sangat memprihatinkan, mulai dari tayangan berita-berita kriminal yang notabene dapat menjadi tolok ukur bagi mereka yang ingin melakukan tindak kriminal, tayangan sinetron baik bagi konsumsi dewasa, remaja maupun anak-anak, yang semuanya begitu gamblang mengumbar kata-kata kasar, makian, teriakan, perkelahian dengan cerita yang sangat miskin dengan nilai budi pekerti, tayangan mistis yang telah membuat orang kembali mundur ratusan tahun kebelakang, tayangan reality show yang kadang justru dapat mempermalukan orang dihadapan publik bila tidak dikemas secara baik dan benar. Sadar atau tidak sadar setiap hari tayangan-tayangan ini digelar di layar kaca di setiap rumah dan nilai-nilai itu terserap dalam kehidupan sehari-hari. Sementara tayangan yang bersifat pendidikan misalnya tentang tradisi, budaya yang justru akar dari seluruh kehidupan manusia Indonesia, tidak mendapat porsi. Terlebih lagi sekarang, dengan adanya pengurangan jam tayang membuat kesempatan program yang bersifat mengembangkan dan melestarikan tradisi semakin hilang. Misalnya tayangan wayang kulit –sudah diputarnya tengah malam, sekarang dihapus pula– sangat memprihatinkan. Seperti yang dapat ditemukan di media Kompas 25 Juli 2005, terdapat profil seorang animator Bagong Soedardjo yang telah mencoba untuk menawarkan program pendidikan anak dengan tokoh boneka, tetapi mendapat penolakan karena tidak mendapatkan iklan, sementara di halaman depan media tersebut sedang heboh dibicarakan tentang kepedulian tentang anak. Ironis dan menyedihkan.

Sudah saatnya di usia kemerdekaannya yang menjelang ke 60 tahun ini Indonesia mulai berani untuk menunjukkan akar budayanya. Yang suka atau tidak suka itulah yang menjadi pedoman kita sebagai manusia Indonesia untuk menunjukan karakter bangsa, dan ini mulai harus dipupuk sejak usia dini. Kenalkah anak-anak –yang saat ini sudah cukup terperhatikan dengan adanya peringatan hari anak– dengan tradisi dan budayanya? Mungkin untuk anak-anak yang berada di daerah masih bisa diarahkan mengingat secara sosial tradisi dan budaya di daerah masih membatasi mereka dengan nilai-nilai yang berlaku, tetapi bagaimana nasib anak-anak yang berada di perkotaan? Haruskah kita pupuk mereka dengan tayangan yang justru semakin menjauhkan mereka dari karakter bangsa yang kita inginkan?

Oleh karenanya sebagai himbauan kepada seluruh stasiun televisi, apakah visi dan misi membangun sebuah stasiun televisi tersebut sungguh hanya menuju pada keuntungan secara ekonomi, atau juga memiliki nilai sosial sebagai media yang dapat mentransformasikan nilai-nilai pendidikan dan karakter bangsa yang sehat. Pada dasarnya stasiun televisi sungguh dapat memposisikan diri  sebagai invisible hand dari pemerintah dalam upaya pembentukan nilai, norma dan karakter bangsa ini.

Pertanyaanya sekarang beranikan stasiun televisi untuk tidak mendapatkan banyak keuntungan secara material, tetapi mendapat keuntungan secara sosial sebagai agen perubahan bagi pembentukan karakter bangsa. Berilah sedikit keseimbangan dalam tayangan-tayangan yang bersifat komersial yang sudah pasti mendatangkan keuntungan dengan program-program pendidikan tradisi dan budaya yang juga sudah pasti mendatangkan keuntungan dimasa yang akan datang sebagai upaya menyehatkan jiwa anak-anak Indonesia. Ini adalah investasi sosial anda masa depan. Memang keuntungan bukan dalam bentuk materi, profit and lost semata. Tetapi jelas bahwa jiwa-jiwa anak-anak Indonesia akan terselamatkan. Beranikah anda?





                                                                                                            Endang Moerdopo
Merdeka Art Community
Mahasiswa Pasca Sarjana
Ilmu Kesejahteraan Sosial
FISIP UI
2005

Ambilkan Bulan, Bu...

“Ambilkan bulan bu…
Ambilkan bulan bu…
Yang selalu bersinar dilangit….
Dilangit bulan benderang, cahyanya sampai ke bintang.
Ambilkan bulan bu…
Untuk menerangi, tidurku yang lelap dimalam gelap….”

Lagu itu terus terdengar perlahan kadang berdesis, dari bibir perempuan setengah baya sambil memandangi goresan turus yang tak terasa telah memenuhi keempat sisi dinding rumahnya. Butiran bening air mata yang setiap pagi mengalir dari kedua kelopak matanya saat ia menggoreskan turus semakin membanjir, ketika ia harus menggoreskan turus terakhir yang masih bisa ia gariskan di sisi ujung dinding terakhir di rumahnya sudah penuh terisi. Satu, dua, tiga, empat dan lima melintang… satu, dua, tiga, empat, lima melintang…. Namun Adnan tak juga pulang.  “Dimana lagi nak, harus kugores tangkai turusku ini, bila seluruh dinding telah penuh…?”
Sebelas kotak berisi 100 batang kapur putih sudah pula habis untuk menggoreskan tiang turus didinding rumahnya yang sempit. Perempuan itu berdiri, masih sambil bergumam lagu ambilkan bulan dan melangkah perlahan ke ruang dapur. Masih ada dinding disana, namun tak mungkin ia menggoreskan tiang turus karena dindingnya terbuat dari gedeg anyaman bambu. “Adnan, dimana kau nak…? Tak adakah rindumu untuk ibu? kalaupun harus kuambil bulan untuk menyinari tidurmu, akan segera kuambilkan untukmu. Dilangit… bulan benderang… cahyanya sampai ke bintang…” desisnya lagi melanjutkan lagu yang sempat terputus oleh kata-katanya memanggil-manggil Adnan Basuki anak laki-laki yang pernah lahir dari rahimnya.
“Apa cita-citamu, le[1]?” Tanyanya lembut pada buah hatinya pada suatu sore di balai-balai teras rumah. Belaiannya tak kunjung henti mengusap rambut lurus anak laki-laki yang meletakkan kepalanya dipangkuan ibunda.
“Aku pengin jadi astronot mbok…”
“Astronot? Apa itu le?”
“Itu lho mbok, orang yang bisa terbang ke bulan”
“Oaaalah le… le… kamu itu kok ya punya cita-cita aneh. Mana mungkin manusia kok bisa sampai di bulan?”
“Bisa, mbok.”
“Bagaimana carane, le? Kamu terbang gitu opo piye?”
“Ya naik pesawat toh, mbok…”
“Oalaah le… pesawat opo?”
“Ya ada, mbok. Pesawat luar angkasa namanya…”
“Ojo ngimpi kamu, le… ngimpi yang ketinggian bisa membuat kamu itu kebablasan. Kamu itu Cuma terpengaruh lagu to, le…”
“Ndak, aku mau merakit pesawat, mbok. Supaya bisa terbang ke bulan. Aku tekat mbok, mau ke bulan.”
“Ada apa toh le, dibulan? Kok kamu itu pengin banget kesana?”
“Ada bapak, mbok… Ada bapak…” jawab Adnan lirih.
Perempuan itu tersentak, terdiam. Tak terasa matanya panas, penuh air mata. Laki-laki itu sudah tak lagi teringat oleh mereka berdua, mengapa Adnan yang dibesarkannya seorang diri, justru malah mencari laki-laki yang tak pernah peduli itu?
***
Perempuan itu bernama Wasti. Seorang perempuan penjual tempe, yang tinggal bersama anak laki-laki satu-satunya bernama Adnan Basuki. Setiap pagi ia berjalan perlahan menuju pasar sambil menjinjing tempe-tempe dagangannya. Seperjalanan sejak goresan tiang turus pertamanya ia selalu menghentikan semua orang yang ditemuinya.
“Yu Par, lihat Adnan tidak?”
“Tidak je… coba tanya sama kang Tum disana itu? Biasanya anakmu main dibengkelnya kang Tum toh..?”
Perempuan itu melanjutkan lagi jalannya. Begitulah dia setiap harinya. Seluruh desa akhirnya geger karena ternyata Adnan Basuki anak Yu Wasti penjual tempe itu hilang. Setiap hari ada saja yang mendatangi yu Wasti yang menanyakan tentang kepergian Adnan, anak semata wayangnya.
“Lha terakhir dia itu pamit kemana toh, yu?” Parjiah bertanya dengan wajah cemas.
“Ya ndak pernah pamit kemana-mana, wong dia itu juga ndak pernah pengin pergi kemana-mana.”
“Trus apa dia punya teman dikota toh, yu?” Sutinem ganti bertanya dengan wajah ingin tahu.
“Kayanya ya ndak ya… wong dia itu juga ke sekolah, trus pulang. Ya paling ke bengkelnya kang Tumiran itu…”
Berjuta pertanyaan yang dikemas oleh seluruh tetangga yang hampir setiap hari hilir mudik ke rumah yu Wasti menanyakan keberadaan Adnan, tanpa ada yang memberikan solusi. Semua hanya bertanya. Yu Wasti mulai putus asa. Awal hilangnya Adnan dulu pak Kepala Dusun turut sibuk menghimbau seluruh warga dusun untuk turut membantu mencari Adnan, sampai kepelosok hutan dan bukit. Seluruh warga dusun dengan suka rela membunyikan seluruh peralatan dapur, mulai dari panci, dandang, soblok[2], tampah, dan semua peralatan memasak lainnya dan berbaris mengitari seluruh dusun. Memanggil-manggil nama yang hilang agar kembali pulang. Seminggu berturut-turut seluruh warga turun ke jalan hingga pelosok-pelosok dan dusun tetangga.
“Adnan Basuki, anake Yu Wasti sudah seminggu ini tidak kembali. Minta bantuan kepada seluruh warga dusun dan seluruh aparat dusun untuk membantu mencari, dimana keberadaan Adnan Basuki. Kalau ada yang kebetulan ke kota, nyuwun tulung [3] juga untuk diawat-awati[4], siapa tahu anak ini kesasar sampai ke kota dan ndak tahu jalan pulang.” Itu pidato pak Kepala Dusun saat dulu ketika baru 3 hari Adnan tidak pulang.
Tapi sekarang sudah hari ke 1008. Adnan belum juga pulang, dan seluruh warga dusun sudah tidak lagi ada yang menanyakannya. Semua sudah menanggap Adnan mati, atau memang sengaja minggat. Tapi setiap pagi, Wasti tetap saja menanyakan keberadaan anaknya kepada siapapun yang ditemuinya.
“Darmi, lihat Adnan ndak…?” perempuan Wasti yang kehilangan anaknya itu setiap pagi tetap menanyakan keberadaan anaknya.
“Yu, sudah lebih 3 tahun anakmu itu tidak pulang. Ya sudah berarti tidak didusun ini … Aku ya ndak tahu dimana dia sekarang toh ya…”
Perempuan Wasti terus berjalan perlahan sambil masih menggendong tenggok[5] isi tempe bikinannya sendiri menuju pasar.
“Eh..eh.. Yono… sini le…” panggilnya pada Yono kawan main Adnan di sekolahnya dulu.
“Dalem bude…” jawab Yono.
“Kamu kan satu sekolah dengan Adnan… kamu lihat ndak Adnan dimana?”
“Lho bude, sekarang saya sudah tidak satu sekolah lagi dengan Adnan. Saya sekarang sudah di SMP dusun sebelah.” Jawab Yono
“Oh, jadi kamu juga tidak pernah ketemu lagi sama anakku ya Yon…”
“Mboten bude..” jawab Yono sopan. Dari orang tuanya dan seluruh warga dusun Yono dan kawan-kawan Adnan sudah dibekali jawaban, apabila ditanya oleh Wasti. Jawab sesopan mungkin agar perempuan itu tidak sedih karena anaknya sudah tiga tahun ini tidak pulang. Tetapi tetap saja, akhirnya warga dusun menjadi bosan juga dengan pertanyaan Wasti. Dan yang menyedihkan lagi, sudah mulai ada hembusan angin tak sedap yang mengatakan Wasti mulai gila. Tapi pak Kepala Dusun masih menanggap Wasti masih waras, karena masih bisa membuat tempe yang baik dan menjualnya di pasar.
“Pak Kadus… itu si Wasti sudah mulai ngengleng[6]… “ Jupari mengadu pada bapak kepala dusun.
Ngengleng gimana toh maksudmu?” tanya pak Kepala Dusun lagi.
“Ya ngengleng pak, wong sejak anaknya ndak pulang itu setiap hari dia tanya sama semua orang apa lihat anaknya… sampe sekarang.”
“Ya wajar toh Par… coba kalau anakmu yang ilang…”
“Ya jangan gitu toh pak Kadus… jangan trus mendoakan anak saya juga hilang”
“Lho bukan gitu, Par. Itu wajar, kalau dia masih terus menanyakan keberadaan anaknya.”
“Tapi kan dia itu seharusnya sudah tahu bahwa seluruh warga dusun ini tidak tahu anaknya ada dimana. Seharusnya tidak setiap hari dia tanyakan sama seluruh warga toh pak…”
“Sudah… dijawab saja setahu mu. Tapi ingat pesanku, jangan semakin membuat dia sedih.” Selalu itu jawaban pak Kepala Dusun, setiap kali ada orang yang membicarakan tentang perempuan Wasti si penjual tempe.
Setiap lepas Adzan magrib, selalu terdengar lirih suara yu Wasti menyanyikan lagi ambilkan bulan. Terus… terus dan terus hingga lepas tengah malam buta. Itu dilakukan sejak Adnan hilang hingga saat ini. Dan paginya Wasti menggoreskan tiang turus di dinding rumahnya. Kini Wasti tak lagi dapat bertahan. Dinding rumahnya sudah penuh tiang turus, dan kini tak ada lagi tempat untuk menggoreskannya. Wasti memutuskan untuk menggoreskan tiang turus pada dinding gedheg di dapur. Wajahnya makin nampak tua sejak ditinggal anaknya. Kadang ia merasa melihat kelebat anaknya dihalaman dan segera mengejar sambil memanggil namanya. Banyak tetangga yang akhirnya mengelus dada. Prihatin dengan keadaan perempuan yang kini nampak begitu tertekan. Banyak yang kemudian mengajaknya bergabung dalam kegiatan dusun, mulai dari mengikuti kegiatan kesehatan, pengajian, arisan, atau sekedar menonton TV di rumah juragan Semin di ujung gang sana. Tapi Wasti jarang mau ikut. Cuma sekali dua kali saja ia bergabung. Dalam kekalutannya, Wasti kini jarang keluar rumah. Ia hanya berkutat dengan kedelai, ragi dan tempe-tempenya. Bisa dibilang ia masih waras, karena masih bisa bekerja, membuat tempe dan menjualnya. Tapi tidak juga, ketika ia sudah mulai mengejar-ngejar dan memanggil-manggil nama anaknya.
***
Entah ada angin apa, sore itu Wasti mau ikut kerumah juragan Semin oleh Mbak Yuni. Entah karena perempuan muda itu pintar merayu yu Wasti atau karena memang perempuan penjual tempe itu sudah bosan juga seharian ini hanya bercengkerama dengan ember-ember rendaman kedelainya. Yang jelas, Mbak Yuni datang bersama Yu Wasti sore itu ke rumah juragan Semin untuk menonton TV. Biasanya kalau mbak Yuni datang, juragan Semin kemudian membuka pintu rumahnya lebih lebar, dan diapun ikut juga bersama warga dusun lainnya menikmati siaran TV. Warga dusun juga ikut senang bila mbak Yuni ada diantara mereka, karena kemudian juragan Semin akan menghidangkan rebusan singkong dan gorengan tahu bacem.
Malam itu berita di TV sungguh menghebohkan. Dua hotel modern di Jakarta di bom. Mungkin itu juga yang membuat mbak Yuni ikut nonton, karena biasanya kalau tidak ada berita yang heboh, mbak Yuni juga jarang ikut serta. Sejak sore hingga malam tak lepas dari berita pengeboman di kedua hotel itu.
Mbak Yuni dan Yu Wasti datang dan segera berbaur ditengah-tengah mereka. Melihat Mbak Yuni, juragan Semin langsung mendaulat pembantu-pembantunya untuk menyiapkan kudapan. Senyum-senyum juragan Semin berusaha menarik perhatian mbak Yuni yang masih sibuk berbasa-basi dengan warga yang sudah lebih dahulu berada disana.
“Waduuuuh… tumben Yu Wasti ikut nonton… nah mbok gitu toh Yu, biar punya wawasan luas dan tambah pengetahuan…”
Yu Wasti hanya tersenyum ketika celetukan itu terdengar. Ia hanya bisa menggut-manggut ketika banyak lagi celetukan yang muncul untuknya. Entah menghibur, atau juga hanya sekedar ikut-ikutan bersuara, yang penting ambil bagian.
“Katanya setelah iklan, akan disiarkan rekaman gambar dari kamera di hotel lho, kang…” Juminten menepuk pundak Joko yang baru saja datang dan duduk bersila disebelahnya.
“Waaah… sebentar lagi, yu… beruntung aku  belum telat beritanya…” Jawabnya singkat.
“Weleeeh… kok ya tega banget ya, bikin orang susah. Apa ya kalau orang itu makin pinter malah makin keblinger ya…?” celetuk seseorang ditengah-tengah penonton yang duduk lesehan didepan layar TV.
“Orang itu ndak punya hati…”
“Iyo… kaya gitu kok mati syahid…”
“Ndak… itu mati konyol namanya…”
“Iyo… bener itu… mati konyol”
“Gusti Allah ndak pernah ngajari begitu kan…?”
“Wong edan…”
“Iyo… wong gendheng…”
“Pasti ndak pernah dapet pendidikan dari orang tuanya…”
“Orang kok ndak ada hatinya… pasti wulunen kuwi atine[7]…”
“Ora slamet itu orang…”
“Masuk neraka dia…”
Masih banyak celetukan lainnya yang semua bernada hujatan pada pelaku bom bunuh diri itu. Semua penonton pada malam itu nampak geram, marah, dan banyak pula yang tak tega melihat puluhan orang yang menjadi korban keganasan bom itu.
 “Selamat malam…” terdengar suara reporter TV menyapa penontonnya, setelah tayangan iklan selesai.
“Ssst… sudah mulai lagi itu… sekarang ini mau dikasih lihat film rekaman dari kamera di hotel itu…”
“Iyo… iyo… wis ngerti… sudah kamu diem saja… malah tidak konsentrasi nanti nontonnya.”
Suasana mendadak menjadi sepi… mencekam. Seluruh penonton ditempat itu seakan tercekat. Dengan perasaan marah mereka memelototi layar kaca di rumah juragan Semin itu.
“Pemirsa, berikut adalah tayangan dari CCTV yang merekam seluruh kegiatan pelaku bom bunuh diri di hotel berbintang di Jakarta pagi tadi…”
Suara musik terdengar, dan tayangan rekaman kamera mulai terlihat. Seorang laki-laki muda bertopi, membawa ransel berjalan melangkah masuk ke dalam hotel. Wajah laki-laki itu sungguh tertangkap dengan jelas di layar kamera perekam. Semua orang di rumah juragan Semin itu memicingkan matanya. Mencoba untuk mengenali wajah pelaku dalam gerak lambat. Masih mencoba menerka, walau merasa telah terpastikan. Masih terus menerawang, walau sudah bisa ditentukan. Tiba-tiba seperti berbarengan seluruh warga dusun yang menonton TV malam itu tercekat, melihat wajah yang tertampilkan di layar sebagai pelaku bom bunuh diri yang mereka hujati. Tayangan itu diulang kembali beberapa kali…. Dan Semua menahan napas, satu persatu mulai memalingkan muka, menoleh pada Yu Wasti. Yu Wasti tiba-tiba merinding, ia nampak begitu ketakutan, ketika semua wajah memandanginya. Tiba-tiba dari dalam TV terdengar suara… “JLEGAAAAAAAAAAAR….” Dan tayangan di layar kaca itu kemudian penuh dengan titik-titik hitam….. “Ambilkan bulan bu….”

EM
Mampang, 3 Agustus 2009.


[1]. Panggilan anak laki-laki jawa.
[2]. Sejenis dandang
[3]. Minta tolong
[4]. Dipantau
[5]. Keranjang
[6]. Sakit jiwa
[7]. Hatinya berbulu

23 September 2012

Mungkin besok air mata bisa mengering...


LEBIH DARI INDAH

Bergetar hati ini
Saat mengingat dirimu
Mungkin saja diri ini
Tak terlihat olehmu
Aku pahami itu

Bagaimana caranya
Agar kamu tahu bahwa
Kau lebih dari indah
Di dalam hati ini

Lewat lagu ini
Ku ingin kamu mengerti
Aku sayang kamu
Ku ingin bersamamu

Nanananana
Nanananana
Nanananana

Meski ku tak pernah tahu
Kapan kau kan mengerti
Ku coba tuk berharap

Bagaimana caranya
Agar kamu tahu bahwa
Kau lebih dari indah
Di dalam hati ini

Lewat lagu ini
Ku ingin kamu mengerti
Aku sayang kamu
Ku ingin bersamamu

Bagaimana caranya
Agar kamu tahu bahwa
Kau lebih dari indah
Di dalam hati ini

Lewat lagu ini
Ku ingin kamu mengerti
Aku sayang kamu
Ku ingin bersamamu

Malam ini...
aku tidak tahu, mengapa airmata bercucuran tak terbendung...
Hingga larut malam yang seharusnya mata telah terpejam....

Lirik lagu diatas membuat air mata semakin membanjiri wajahku,
ketika kulihat lagi rangkaian gambar tubuh kaku terbujur dihadapanku...

Aaaaaah....

Mungkin besok, saat matahari mulai terbit...
air mata ini bisa mengering...

Medio Mampang,
23 September 2012
00:42





01 July 2011

Pesona Topeng Bali



Saat ini aku sedang terpesona dengan keindahan topeng Bali...
Daya tarik yang begitu kuat membuatku ingin menyajikannya dalam sebuah pertunjukan topeng yang dahsyat.

06 September 2010

Emptiness



Duh Gusti...

Kenapa rasanya kok KOSONG begini...?
Letih sekali...
Apa sebenarnya yang terjadi...?
Rindukah? Nelangsakah? Cintakah? Bencikah? atau kah... kah... yang lain kah?
Astaga...
Kenapa aku tidak bisa menjelaskan dengan baik, runut, teratur, sistematis...?
Ada apa ini...?
Analisa S3 yang biasa kulakukan runtuh seperti tak pernah mengenal bangku sekolah...
Semakin banyak kubaca... semakin pula kumerasa tak mengerti apa-apa...?
Apa ini...?

Duh Gusti...

KOSONG... HAMPA... GALAU melanda...
semoga tak lah lama...
Ingin kubuang semua... hingga habis perkara...

Bisakah...?
Ku tak tahu jawabnya....


Mampang, 06 September 2010

30 August 2010

Pesona Pulau Seribu



Sepoi angin pulau... menebar CINTA... bukan semata makna CINTA pada manusia... namun juga pada semesta, serta KHALIK penciptanya....

18 August 2010

Surat untukmu 1




“ Pa…
Singapura saat ini sudah banyak berubah dari terakhir kunjungan kita…
Banyak bangunan baru lho, pa…
Rasanya baru kemarin kita bertahun baruan disini bersama…
Dan menjadi hal yang aneh rasanya menjejakkan kaki disini, karena kunjungan terakhirku ke tanah temasek ini adalah bersamamu… bergidik kudukku menyadari itu…

Pa,
Memang bukan kali pertama aku kesini, tapi dalam berkali-kali kunjungan itu, yang terakhir adalah bersamamu dan itu memang pula akan kunjungan pertama dan terakhir bagi kita …. Agak berlibet ya pa, aku menyampaikannya… tapi mudah-mudahan kau mengerti maksudku itu…

Pa,
Saat ini aku ada di bandara, menunggu pesawat yang akan membawaku kembali ketanah air. Kuingat waktu itu, aku makan bebek panggang dengan Uli dan kau menghampiri, setelah kau habiskan nasi goreng basi yang kita beli semalam sebelumnya. Padahal kalau kau mau, akupun sudah menawarkanmu untuk ikut makan bersama kami… Pertimbangan yang dahsyat… -three dollar… tidak lebih… aaahhhh-

Pa,
Banyak derita yang saat ini kurubah menjadi suka cita, pa… karena kalau tidak begitu tentu akan memberatkan langkahmu.

Pa,
Perjalanan kita yang kala itu sangatlah jauh dari sempurna, menjadi indah rasanya…. Ketika saat ini aku harus sendiri…

Pa,
Ketika tulisan ini kutulis, aku sedang sendiri, menyulut rokok di teras bandara Changi yang dulu kita lakukan bersama… Walau tanpa saling berkata-kata, yang ada hanya diam…. –tepatnya sebal dan kesal dihatiku… entah aku tak tahu apa yang ada di kepala dan hatimu-…. Namun saat ini semua menjadi terasa begitu sepi…

Pa,
Kamu baik-baik ya …
Aku selalu berdoa untukmu, agar ringanlah langkahmu.
Dampingi aku dan Uli ya pa…
Aku yakin… Jauh didasar hatimu… selalu ada cinta untukku…”


Changi, 17 Agustus 2010
14:27 Local Time

Casino




“Semua orang sibuk mengorek tas dan saku, untuk mencari tanda identitas diri, didepan selasar yang terbelah untuk Singaporean dan untuk foreigner …
Petugas yang sangat informative tersebar disemua sisi, agar tak lah orang akan kesasar kesana-kesini… well prepared… luar biasa…

Casino Marina Bay Sand barulah beberapa bulan berdiri…
Namun telah mampu merebut hati jutaan orang yang ingin mengadu nasib.
Kocek tebal menjadi tipis
Kocek tipis bisalah menjadi tebal.
Ada yang impas…
Tapi yang paling menyedihkan adalah yang sudah tipis makin menjadi tipis…. Bahkan habis…

Casino Marina Bay Sand…
Lahan yang tak pernah lengang…
Lahan yang selalu dipenuhi manusia…
Tak kenal senyap…
Gemerincing suara mesin, tawa, tangis, teriakan, mata sembab, wajah cerah ditengah kepulan asap rokok dilantai bawah dari manusia-manusia yang mengadu nasib… semua tertumpuk disana…”


Singapura 17 Agustus 2010
09:15 local Time

Untuk Franki



“Franki…
Terima kasih atas hari-hari kita ini…
Bersama merajut tawa, canda, tangis, duka dalam kemasan yang langka.
Hanya tiga hari kita bersama, namun sangatlah sarat dengan makna… Pinguin dimana-mana…

Franki…
Jujur aku tak mengerti arti tatapan matamu,
Jujur aku kadang tak mampu menyelami arti diammu,
Kau hanya menyajikan banyak tatapan dan senyuman padaku tanpa kata-kata.
Alasanmu, kau sedang mengaggumi apa yang sedang berada dihadapanmu… ya… yaitu aku… -tersanjunglah kiranya diriku, Frank….-

Franki…
Sekali lagi, terima kasih atas hari-hari kita yang sungguh singkat ini.
Imagi penguin yang menari-nari dan bunyi music pengiringnya, sungguh melesak dalam hati. Dan Franki… akan kupanggil memori ini bila rindu menghampiri…”

Singapura, 17 Agustus 2010
09:00 Local time

Orchard Road pagi hari





“Hangat pagi, disela semilir angin… matahari membuka lembar hari.
Lalu lalang manusia penghuni bumi, mulai bergerak kesana-kemari dengan urusannya sendiri-sendiri.

Lali-laki berdasi, perempuan ber rok mini, anak-anak dan remaja berseragam rapi. Ibu-ibu tua menarik tali anjing pudel manis yang kadang tak terkendali lari-lari. Tak tertinggal pula bapak-bapak tua melangkah perlahan menapaki hari yang baru lagi.
Tak lah terlihat beban diraut pagi, berbagai ras berkumpul dan tertumpuk disini.
Bersama-sama mengadu hidup, mengais rejeki agar dapat terus menjalani hari.
Memenuhi naluri atas perintah Sang Pemilik Hidup itu sendiri.
Orchard Road pagi hari…

Menyadarkan ku kembali… -yang sedang ditemani segelas kopi dan sebatang rokok tidak sehat- akan indahnya hidup ini…”

Singapura, 17 Agustus 2010
08:50 local time

14 August 2010

Catatan untuk Taruli Anakku


"Hari kita kedepan akan menjadi hari yang melelahkan, nak... Berdua kita berjuang untuk tetap bertahan hidup...
Perjuangan kita masihlah panjang... Namun bekal kerja keras sudah terpatri dihati kita bukan? Ayo nak, sekarang sungguh tinggal kita berdua...
Bayang-bayang itu memang sudah tidak ada, tetapi ia tetap akan hidup ditengah kita berdua...."

Kenanganku untukmu



Tulisan ini dibacakan saat Misa Peringatan 40 hari kepergian Ir. Sahala Parlindungan Situmeang, M.Sc, yang dipimpin oleh Romo Jourdan, OFM


Dalam piluku yang tak pernah orang tahu….

Aku selalu ingin kau ada didekatku…
Tak hanya saat-saat terakhir hidupmu…
22 tahun aku selalu berusaha meraihmu…
Ingin selalu mendekapmu…
Kupegang teguh janji itu, dengan segala gelombang pasang surut untuk tetap hidup bersamamu.
Bukan hal yang mudah.
Lelah, letih… hingga rasanya tak kuat lagi… aku tahankan rasa gemuruh hatiku untuk lari menjauh darimu. Tapi kutahankan itu…

Sering kulantunkan lagu James Ingrams dalam hatiku…
“… to make the magic last for more than just one night….”
Aku menanti keajaiban…. Sekaliiiiii saja
Sekali saja…
Harapanku hanya ingin sekaliiiii saja kau ungkapkan rasamu untuk ingin selalu dekat denganku.
Sekaliiiii saja kau sampaikan rasa cintamu padaku.
Lalu kita kembali berjalan bersama … bertiga… menapaki jalan hidup yang kukira masih panjang untukmu.
Harapanku hanya sekali…

Tetapi… ternyata kau beri aku lebih banyak dari itu…
“Aku mau ikut kamu…” dengan gaya ucapmu yang kaku
“Aku mau dekat kamu…” tetap dengan gaya bicaramu yang beku
“Aku mau selalu dekat kamu…” katamu sekenanya dengan langkahmu yang selalu buru-buru itu.

Tiga kalimat pendek yang kau tinggalkan untukku…
Sebagai jawaban penantian 22 tahun hidup bersamamu…
Dan setelah itu….

Kau pergi …

Jangan takut sayangku…. kau akan selalu dekat aku… karena memang itu adalah harapanku
Jangan cemas cintaku… kau akan selalu dekat denganku… karena memang itu adalah impianku sejak dulu.

Selamat jalan, Sahala…
Selamat jalan, Suamiku…
Kita akan selalu dekat… sangat dekat….
Karena memang selalu ada cinta diantara kita…


Mampang,
Medio, 3 Juli 2010 - 22:15

24 January 2009

Gado - gado yu Lasmi

Bingung... Mas...

Yu Lasmi si penjual gado-gado di ujung perempatan gang itu, tidak pernah kesiangan. Ia selalu sudah siap dengan segala macam sayur-mayur bahan gado-gadonya sejak matahari meletik di pagi hari dan baru kemas-kemas pulang setelah matahari mulai condong ke barat.
“Kok rajin banget sih Yu… pagi-pagi selalu sudah buka” Tanya Amin si tukang ojek, sambil menyedot rokoknya hingga kempot.
“Laaah… bang Amin ini gimana toh… orang itu kadang suka bingung cari sarapan. Pagi-pagi suka bingung cari warung, belum ada yang buka…”
“Lah, Yu… apa ya gado-gado pantes toh buat sarapan… “
“Yo pantes-pantes aja toh bang, wong buktinya orang ya antri mau pesan gado-gadoku buat sarapan juga lho…”
“Eh.. jangan salah, Min. Kalo gado-gado Yu Lasmi ini cocok-cocok aja buat makan disetiap waktu… nggeh mboten Yu? Kamu tau nggak, Min, orang nyari gado-gadonya Yu Lasmi bukan cuma karena rasanya saja, tapi gara-gara Yu Lasminya… gimana gak ngantri wong yang jualan uuuayuuuu tenan…” Sarwono ikutan bicara.
“Wezz gombal kamu Sar, kamu ngomong gitu biar dapet sarapan gratis, yo Sar”
“Mboten, Yu… ini bener. Wong saya itu kemarin, pagi-pagi nganter tamu ke daerah Tomang sana… kan jauh toh ya. Lha kok waktu mau balik, ada penumpang yang minta dianter ke sini, cuma gara-gara mau beli gado-gadonya Yu Lasmi. Waktu aku tanya, lho tau gado-gado Yu Lasmi juga toh mas? Trus dia jawab, ya tau toh mas… wong gado-gado itu gak cuma bikin kenyang perut, tapi juga bikin kenyang mata… Trus kutanya lagi… bikin kenyang mata gimana toh mas? Dia jawab lagi… lha kalo yang jual semlohe begitu kan itu namanya kenyang lahir bathin toh mas… itu dia… mantab kan? Bisa buat sangu seminggu. Min… bayangin dari Tomang lho… nyampe kesini, Cuma mau makan gado-gado sambil nontonin Yu Lasmi ngulek… weeeuedaaan tenan…”
“Lambe mu, Sar… wis kamu mau apa? Pedes atau ndak?”
“Waduuuuh Alhamdulillah… aku dapet sarapan ini? Yo jangan pedes toh Yu… wong pagi-pagi gini… bisa panas nanti perutku sampai siang…” jawab Sarwono langsung mendekat ke gerobak Yu Lasmi… Lumayan, dapat sarapan. Tapi anehnya Sarwono gak pernah tega kalau mau nge bon. Padahal Yu Lasmi sudah beberapa kali bilang kalau belum bisa bayar, bisa di catat saja dulu. Tapi ya namanya juga Sarwono, gak pernah bisa kalau gak bayar, malah kadang harga gado-gado yang cuma lima ribu tanpa telur, atau enam ribu pake telur itu bisa jadi dibayar sepuluh ribu tanpa kembali. Mantab kan? Tapi kalau tidak pake uang kembali seperti itu, Sarwono biasanya dikasih gratis krupuk, biar makan bisa jadi lebih meriah kata Yu Lasmi. Weleeh...
“Yu… gado-gadonya dua…” Pinta seorang laki-laki perlente bersama seorang temannya yang baru saja turun dari mobilnya.
“Oooh.. iya mas, pedes ndak?”
“Kamu pedes gak?” Tanyanya pada laki-laki kawannya yang sudah duduk di bangku panjang.
“Dikit…”
“Sedeng saja ya mas…kalau mas yang ini?” sambar Yu Lasmi.
“Sama in aja lah…”
“Ooh iya mas… silahkan duduk dulu. Sebentar ya saya buatkan.”
Laki-laki yang tadi berdiri disamping Yu Lasmi membuka kaleng krupuk, mengambil krupuk yang berwarna putih itu dan segera menyusul duduk dihadapan kawannya yang sudah asyik tenggelam oleh berita-berita di Koran pagi, yang diambilnya dari meja panjang. Yu Lasmi tidak pernah menyediakan koran di meja warungnya, tapi ada saja loper koran yang meletakkannya disana. Akhir bulan, entah siapa juga yang membayar tagihan korannya, sampai sekarang Yu Lasmi sendiripun tidak pernah paham.
“Walah… partai apa lagi… ini? Milih logo kok ya aneh-aneh… kepala kucing. Apa coba maknanya?” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lah biasa kan… demokrasi… semua boleh punya aspirasi. Kalau merasa aspirasi tidak terpenuhi… ya bikin partai lagi…”
“Heem… iya ya… trus kalau sudah bikin partai baru, dan gak sepaham, trus bikin partai tandingan…”
“Ya iya… kaya partai yang tadi kamu lihat… apa? Partai kucing? Kalau nanti pecah, namanya jadi Partai Kucing tandingan… seru juga lho, Men…Atas nama demokrasi toooh? Sah-sah saja…”
“ Heeeh… demokrasi kok malah jadi kaya main-mainan aja…”
“Itulah… trus masyarakat dicekokin harus milih… lha… nongol aja barusan, gimana orang bisa kenal? Pe de banget?”
“Sebentar lagi banyak muncul selebritis-selebritis baru nih… semua orang balapan masang foto diri… wah… makin bingung. Akhirnya malah milih gara-gara ganteng atau cantiknya aja, bukan karena partainya…”
“Ya bisa jadi… atau malah nggak milih sama sekali… lha wong pusing mau milih yang mana…”
“Semua partai pasti tujuannya baik toh?”
“Lha ya harus yang baik-baik toh kalau mau nyusun visi misi partai…”
“Tapi kita gak tau pelaksanaannya kaya apa…”
“Bisa jadi… itu kawan kita si Haris, kemarin bilang sama aku, setiap liat titik strategis penginnya pasang baliho foto dia gede-gede. Biar orang kenal katanya. Berapa duit itu? Trus yang dipikirin gimana caranya untuk bisa pasang foto gede-gede. Bukannya mikirin program kerja yang bisa ditawarkan demi memenuhi kebutuhan rakyat itu apa, tapi malah mikir gaya foronya gimana?”
“Eh … kalo Haris kan memang berduit, man… Biarin aja…”
“Lah trus kalau caleg-caleg yang lain itu gimana? Apa ya semua orang punya duit?”
“Ya itu resiko dia lah… pinter-pinternya dia cari sponsor… semua itu kan tergantung kepentingannya…”
“Sedih juga…”
“Kenapa harus sedih…?”
“Apa lagi kepentingannya sekarang ini… kalau nggak UUD…?
“Ujung-Ujungnya Duit maksudmu?”
“Ya iyalah… mana ada sekarang orang yang mbahas UUD itu Undang-Undang Dasar. Sekarang ini kan singkatan UUD lebih dikenal Ujung-Ujungnya Duit. Coba tanya sana sama anak SD, mana mereka tau UUD itu Undang-Undang Dasar? Wong pelajaran sekarang ini gak lagi mikirin itu. Kemajuan dan perubahan jaman katanya.”
“Iya juga ya… “
“Ya memang iya… bukan sekedar iya juga… lihat saja, berapa persen sih dari caleg-caleg itu yang bener-bener bisa njalanin program kerja sesuai dengan kebutuhan rakyat? Yang jadi targetnya kan kesejahteraan… diri sendiri maksudnya… bukan kesejahteraan rakyat. Lihat saja jumlah partai bererot begitu banyaknya. Berapa duit itu? Bikin partai kan gak kecil duitnya…? Semua aliran dana tumplek blek di situ. Bagaimana bisa mbangun Negara, wong uangnya malah muter disitu…”
“Yang katanya Pesta Demokrasi ya…”
“Ya iyalah… Berapa dana yang muter di tahun 2009 yang katanya atas nama pesta demokrasi.”
“Iya mas, mbok ya buat nambahin modal gado-gado saya aja ya mas, malah karuan. Kelihatan hasilnya. Atau buat nyekolahin anak-anak di kampung-kampung pelosok sana…” Celetuk Yu Lasmi sambil mengelap tangannya ke celemek dan siap mengangkat piring gado-gado pesanan.
“Nah… loe denger sendiri? Yu gado-gado aja cerdas… kok malah orang-orang ini balapan mau pada nge top sendiri. Ya nggak Yu?”
Yu Lasmi Cuma tersenyum sambil meletakkan piring ke hadapan kedua orang tamunya.
“Ealaaah, cerdas apanya toh mas, lha wong orang kaya saya ini kan mikirnya yang gampang-gampang aja. Buat masang foto sebesar rumah begitu ongkosnya sepuluh kali lipat dari modal saya bikin warung mas… padahal ya cuma dipasang sebentar. Selesai pemilu ya sudah harus dicopot-copot lagi. Abis itu orang sudah lali meneh… Kalau buat modal warung kaya saya gini kan bisa buat hidup sampai tua toh… Bisa buat nyekolahin anak… sukur-sukur bisa buat naik haji.”
“Nah kalo Yu sendiri mikirnya gimana?”
“Lah, lha wong sekarang ini banyak banget mas partainya. Saya malah jadi bingung. Apa itu namanya orang yang pada mau jadi anggota dewan itu?”
“Caleg… Calon Legislatif, Yu…”
“Iya… itu …. Calegnya buaaanyak banget. Mulai dari tukang kulkas sampe artis semua bisa jadi caleg. Yang penting punya duit toh mas, supaya bisa pasang-pasang foto kaya gitu itu.”
Kedua tamu Yu Lasmi manggut-manggut. Tanpa ragu yu Lasmi kemudian ikut duduk di bangku panjang warungnya.
“Waah… aneh kok mas, kalo jaman saya kecil dulu, kita gak pernah tau siapa anggota dewannya. Sekarang ini foto-foto dipajang-pajang, tapi ya tetep juga kita ndak kenal siapa dia. Lha yang untung kan ya artis-artis itu toh ya mas. Mending jadi artis dulu aja baru ikutan nyalon jadi caleg. Jadinya sudah pasti menang toh? Nah… Kalo sudah menang trus bingung kalo dah disuruh kerja, lha wong biasanya cuma baca scenario bikinan orang, trus acting di depan kamera, sekarang disuruh beneran mikir sendiri. Opo yo iso kuwi? Jangan-jangan dia merasa lagi acting di depan kamera. Lah ini kehidupan nyata je… bukan cuma sekedar dongeng, Trus yang memang sudah sekolah tentang ilmu pemerintahan mau pada jadi apa ya mas?”
“Ya itu yang namanya demokrasi, yu. Semua mempunyai hak yang sama untuk memilih dan dipilih.”
“Lha kalo partainya sebanyak gitu ya gimana milihnya toh mas?”
“Ya tergantung… Yu ini sreg dengan partai yang mana?”
“Laah lha wong semua partai itu ngomongnya sama je mas…pasti yang bagus-bagus toh ya…”
“Nah kalo menurut yu sendiri gimana?”
“Kalau saya sih mikirnya gini mas… Nuwun sewu lho ini ya mas, bukannya mau ngajari. Tapi ini cuma pikiran saya saja. Lha wong namanya juga cuma tukang gado-gado… ya pasti lah kepinterannya cuma sebates gado-gado aja…”
“Lho… gak apa-apa toh, yu. Justru omongan wong cilik seperti Yu Lasmi ini yang malah natural. Gimana Yu? Ayo ngomong aja…”
“Kalo menurut saya… ini menurut saya lho mas…”
“Iya Yu… kita berdua ndengerin kok…” Kata seorang tamu sambil menyuapkan gado-gado ke mulutnya.
“Partai itu ndak usah banyak-banyak, mas…”
“Heem… gitu?”
“Iyo… misale dua aja, atau yaaah paling tidak tiga lah kaya dulu itu lho… Pe tiga, golkar sama PeDeI. Jadi kita nggak bingung. Itu tadi cuma contoh lho mas…”
“Heeem… Trus…”
“Nah kalau partainya cuma ada dua atau tiga… em… buat contoh aja nih mas, Indonesia ini partainya ada dua. Misalnya Partai Korek sama Partai Gunting. Nah… masing-masing partai itu maju atas dasar program kerja mas… “
“Wah Yu Lasmi ini ternyata paham juga dengan yang namanya program kerja toh yu…”
“Lah kalau saya kan ya cuma denger-denger saja kalau orang-orang ngomongin apa itu yang namanya program kerja. Program kerja itu kan Itu toh mas ya kegiatan-kegiatan gitu toh mas…?”
“Yah… kira-kira begitu lah… trus gimana yu?”
“Ya partai itu berdasarkan program kerja saja… jadi ndak usah banyak-banyak… bingung mas… yang milih nanti. Wong-wong cilik kaya saya ini kan ya kasian toh…”
“Maksud Yu Lasmi?”
“Gini… untuk masa pemerintahan lima tahun kedepan ini, misalnya Partai Korek menawarkan program kerja pembenahan pendidikan. Nah trus Partai Gunting menawarkan program pembenahan kesehatan. Nah kita masyarakat ini tinggal milih, kita cocok sama programnya siapa? Jadinya rakyat itu gak Cuma dibujuk-bujuk untuk milih aja, tapi juga diajak mikir… Negara kita ini lima tahun kedepan mau mbenahi apa? Kesehatan atau pendidikan. Nah kan rakyat malah jadi pinter toh mas, wong diajak mikir. Jadi partai itu gak usah yang muluk-muluk gede-gede maunya… yang pendidikan, ekonomi, kesehatan, agama, semua dijadikan satu, mau di pek sendiri. Ya gak ketanganan toh?”
Kedua tamu Yu Lasmi manggut-manggut.
“Kan lebih baik mbenerin satu bidang aja tapi yang bener-bener gitu lho mas… dari pada maunya ini dan itu, tapi malah bingung mau mulai dari mana.”
Kedua laki-laki itu mengernyitkan dahinya.
“Nah trus juga kita ini kan katanya Pancasila, eh tapi ngomong-ngomong kita ini masih Negara Pancasila ndak toh mas?” Yu Lasmi mengernyitkan dahinya.
“Laaah, Yu ini gimana toh? Ya masih lah”
“Ndak, saya cuma tanya saja, takut salah… siapa tau sudah diganti. Lha wong sekarang ini kok kayanya Pancasila itu sudah kurang top kaya jaman saya dulu.”
Keduanya saling pandang. Nampaknya muncul keraguan dalam raut wajah mereka. Ada benarnya juga… kemana Pancasila sekarang ya?
“Trus hubungannya dengan Pancasila opo Yu?”
“Ndak… saya melihatnya, sekarang ini kok jadi ada partai-partai untuk gplongan-golongan dan kepercayaan-kepercayaan tertentu. Wah ndak berani ah mas… nanti saya dianggap ngomongin… opo… mas… itu lho… sar..sar… gitu…
“Maksud Yu, SARA?”
“Lha… ya itu… SARA… salah omong malah warung saya digulung…”
“Ndak lah yu… ini kan cuma omong-omongan pinggir jalan aja… hayo apa yu?”
“Ndak… gini lho mas, kan lebih bagus kita ini rukun toh? Jadi ya ndak usah pake partai yang pake dasar agama-agama gitu. Soalnya agama itu artinya dalem banget je mas… urusan kita sama Gusti Allah. Yang penting kita ini hidup percaya dengan adanya Gusti Allah… mau pake jalan yang mana, itu kan pilihan kita sendiri toh ya…ndak usah bengak-bengok kita ini opo.”
“Ya… ya… trus hubungannya dengan partai tadi apa yu?”
“Ya itu tadi mas, jadi partai itu ya sifatnya umum saja, jadi malah bisa menjaring keinginan orang banyak. Ndak dibatasi. Misale… saya ini kan orang islam yo mas, tapi kalo saya tertarik sama programe partai yang bukan islam kan malah jadi keliatannya saya ini murtad toh…padahal yang saya turut itu bukan agamane tapi program partai ne… Trus misalnya, partai buruh lah, partai petani lah, partai gado-gado lah… lha nanti kan yang milih jadi Cuma sedikit toh ya mas, lha kaya saya ini pasti akan milih partai gado-gado wong saya ini tukang gado-gado… lha gimana ngitung menang kalahnya? Malah jadi Cuma sedikit toh dapet suaranya… weleeeh kan jadi bingung toh mas? Gitu maksud saya… Wis ah mas… saya tak ngelayanin tamu yang lain dulu ya…” Yu Lasmi beranjak bangun dari duduknya dan kembali menuju gerobak gado-gadonya. Meninggalkan kedua tamunya yang masih melenggong melihat sosok Yu Lasmi si penjual gado-gado dengan segala ocehan panjang lebarnya. Ya pantas saja kalau banyak orang datang ke warung gado-gado Yu Lasmi ini. Ternyata tamu-tamu tidak hanya dilayani dengan sepiring gado-gado dengan ulekan yang yahud, tetapi juga diajak mikir.
“Oh ya mas, doyan susu kedele ndak? Kalau doyan, saya kasih panjenengan berdua susu kedele bikinan ku sendiri lho…”
“Wah ya doyan banget Yu… boleh-boleh…” Jawab salah satu dari kedua tamu yang tadi asyik bincang-bincang dengannya.
“Le… tolong ambilkan susu dele nya dua ya, buat mas-mas yang itu…” teriak Yu Lasmi pada Kamal, anak laki-laki tanggung yang membantu seluruh akrifitas warungnya. Asisten kalau kata orang gedongan.
“Men, kalau orang kaya Yu Lasmi ini dapet kesempatan sekolah udah jadi professor kali ya…”
“Hehe… bisa jadi… tuh duit daripada dibuang-buang buat bikin baliho mending buat nyekolahin anak-anak di pelosok sana. Biar orang-orang makin pada pinter. Yu Lasmi aja gak sekolah bisa mikir. Apalagi kalo dikasih kesempatan sekolah…”
“Jadi kamu mau pilih mana? Partai Korek atau Gunting?”
“Aku pilih partai gado-gado aja, kalau si Yu Lasmi ini bikin partai gado-gado… “ Jawab laki-laki itu sambil menyuapkan gado-gado pamungkasnya.

Mampang, 19 Desember 2008.