Mengenai Saya

Foto Saya
Nama saya Endang Moerdopo. Nama belakang itu nama orang yang mengukir hidup saya. Saya lahir tanggal 5 April 1968 di Yogyakarta. Menyelesaikan SD hingga SMA di St Ursula Jakarta, meneruskan study di Fisip Universitas Indonesia. Kemudian mengambil S2 di almamater dan fakultas yang sama. saat ini saya sedang melanjutkan studi doktoral, masih di jurusan, fakultas dan Universitas yang sama. Saya pernah terlibat dalam program Rehabilitasi dan Rekonstruksi BRR di Aceh pasca Tsunami, sekaligus menyusun thesis S2. Saya punya kegemaran lain di bidang kesenian, yakni menari dan menulis. Di bidang menari, saya dipercaya sebagai Wakil Ketua Kelompok kesenian Puri Gita Nusantara - yang diketuai Pak Permana Agung. Di dunia sastra, sudah beberapa tulisan saya hasilkan. Buku terbitan perdana saya berjudul PEREMPUAN KEUMALA, yang telah diterbitkan tahun 2008 oleh GRASINDO dan saat ini saya sedang menyelesaikan lanjutan dari novel PEREMPUAN KEUMALA. Nyanyi? jelas suka...., meski hanya untuk gumam sendiri. Traveling, baca buku, nonton pementasan, beberapa dari bagian kesenangan saya. Saya rasa ini dulu ya .... Best regards

14 Agustus 2010

Kenanganku untukmu


Dalam piluku yang tak pernah orang tahu….
Aku selalu ingin kau ada didekatku…
Tak hanya saat-saat terakhir hidupmu…
22 tahun aku selalu berusaha meraihmu…
Ingin selalu mendekapmu…
Kupegang teguh janji itu, dengan segala gelombang pasang surut untuk tetap hidup bersamamu.
Bukan hal yang mudah.
Lelah, letih… hingga rasanya tak kuat lagi… aku tahankan rasa gemuruh hatiku untuk lari darimu. Tapi kutahankan itu…

Sering kulantunkan lagu James Ingrams dalam hatiku…
“… to make the magic last for more than just one night….”
Aku menanti keajaiban…. Sekaliiiiii saja
Sekali saja…
Harapanku hanya ingin sekaliiiii saja kau ungkapkan rasamu untuk ingin selalu dekat denganku.
Sekaliiiii saja kau sampaikan rasa cintamu padaku.
Lalu kita kembali berjalan bersama … bertiga… menapaki jalan hidup yang kukira masih panjang untukmu.
Harapanku hanya sekali…

Tetapi… ternyata kau beri aku lebih banyak dari itu…
“Aku mau ikut kamu…” dengan gaya ucapmu yang kaku
“Aku mau dekat kamu…” tetap dengan gaya bicaramu yang beku
“Aku mau selalu dekat kamu…” katamu sekenanya dengan langkahmu yang selalu buru-buru itu.

Tiga kalimat pendek yang kau tinggalkan untukku…
Sebagai jawaban penantian 22 tahun hidup bersamamu…
Dan setelah itu….

Kau pergi …

Jangan takut sayangku…. kau akan selalu dekat aku… karena memang itu adalah harapanku
Jangan cemas cintaku… kau akan selalu dekat denganku… karena memang itu adalah impianku sejak dulu.

Selamat jalan, Sahala…
Selamat jalan, Suamiku…
Kita akan selalu dekat… sangat dekat….
Karena memang selalu ada cinta diantara kita…


Mampang,
Medio, 3 Juli 2010 - 22:15