02 June 2013

MENARI DIATAS MENARA (TAMAT)








Dia adalah DEWA LANGIT…. Bersamanya aku akan MENARI diatas MENARA…. sebagai sebuah angan dan harapan….

Cafa menangis sejadinya… tak sanggup menatap mayat Rhea yang bersimbah darah, dipanggilnya Tora dengan lantangnya… langit tak jua bersuara… senyap… semesta sedang dalam dekap syukurnya… ALHAMDULILLAH…. Langit putih, bumi bersih….


EPILOG

Keduanya berjalan tanpa lelah menyusuri tebing curam bebatuan dibukit itu. Hira dengan penuh semangat berjalan lebih dahulu dari Leon. “Ayo abang… jalannya pelan-pelan banget sih… nanti keburu sore kita tiba di mercusuar itu…”
Leon hanya tersenyum memandangi perempuannya itu, kemudian mengedipkan sebelah matanya… “Iiiih genit abang… bukannya mempercepat langkah, malah kedip-kedip lagi… Ayo…” Hira kemudian menarik tangan Leon untuk mengikuti langkahnya. “Aaah lihat saja… nanti adek buru-buru begitu… pasti nanti cepat lelah… kita tidak diburu waktu kan dek?”
“Ya memang tidak diburu waktu bang… tapi nanti kalau terlalu sore kan repot lagi jalan kembalinya pulang…”
“Tenang saja dek…. “ tiba-tiba ponsel Leon berbunyi nyaring. Leon segera mengambilnya dari saku dan melihat nama penelpon diseberang sana. “Dek… Suheri telpon…” katanya menunjukkan nama penelpon dari seberang sana.
“Ya sudah angkat saja, bang…”
Leon mengangguk dan segera menjawab deringan dari selulernya itu. “ Yaaa mbak Cathy… baik-baik mbak… Hira juga baik-baik…”
“Sampai mana kalian…?” tanya Cathy yang selalu ingin tau itu.
“Sebentar lagi kami tiba didekat menara mercusuar itu...”
“Aduuuh udah deh… bilang Hira… nggak usah aneh-aneh … tempat itu berbahaya Leon…”
“Iya mbak… gak apa-apa… kan ada saya yang menemaninya…”
“Kamu juga jangan ikut-ikutan bego-begoan begitu Leon… Hira kalau dituruti, bisa minta yang aneh-aneh dia nanti… bisa-bisa minta nyebur kelaut… juga kamu ikutin lagi…”
“Ya enggak lah mbak… Tenang aja… saya jaga Hira…”
Hira mengernyitkan dahi, menunggu Leon yang masih berjalan perlahan sambil menjawab telepon dari Cathy Suheri.
“Hayoooooo abaaaang…. Buruaaaan…. Kak Cathy udah deeeh jangan berisik aaah….” Teriak Hira.
“Tuuuuh kan… dengar kan mbak… Hira baik-baik kok…” jawab Leon. Hira sudah tidak peduli lagi dengan Leon yang masih sibuk bicara dengan Cathy. Ia segera berjalan tanpa menoleh-menoleh lagi.
“Ya sudah… baik-baik kalian ya… bilang Hira jangan maksain kalau memang sudah gak kuat… lagian kenapa sih gak naik mobil aja kesananya… kenapa harus lewat jalur tebing…? Trus mobil kalian dimana?”
Aaaaah bukan Cathy Suheri namanya kalau tidak ingin tahu semua urusan… selalu ingin jadi ketua panitia penyelenggara semua acara.
“Mobil kami ada di penginapan, mbak. Hira mengajak berpetualang nih….”
“Haduuuuh… sudah deh… jangan terlalu diturut-turutin itu si Hira… Kamu juga mau aja lagi… anak itu sakit Leon… kamu harus ingat-ingatkan dia ya…”
“Tenang mbak… saya akan jaga Hira… Dia tidak akan sakit… dia aman bersama saya…”
“Ya sudah… baik-baik kalian ya… bla…bla…bla….” Leon memandang Hira sambil kemudian tertawa, melihat Hira yang memberikan isyarat tangannya menggambarkan kecerewetan Cathy Suheri sahabat mereka. Leon segera berjalan lebih cepat menyusul Hira, dan memeluknya dari belakang, setelah selesai pembicaraan dengan Cathy. Baru beberapa langkah, terdengar lagi dering seluler di tangan Hira… “Haduuuuuh… Suheri ini… “ Kata Leon sambil tertawa, saat Hira menunjukkan nama penelponnya. Keduanya tertawa terbahak-bahak, sambil berpelukan menyusuri tebing berbatas laut, menuju ke menara mercusuar. Tak dihiraukannya dering panggilan dari telpon seluler dari Cathy Suheri di ponsel Hira. “Tadi sudah bicara sama abaaaang kan kak…. Cukuplaaah…” Kata Hira bicara dengan benda berdering itu, tanpa mengangkat ponselnya. Leon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Perjalanan mereka kali ini adalah menuju menara mercusuar kuno di tepi pantai laut selatan. “Menara itu sebenarnya sudah tidak digunakan bang… hanya… dulu… konon kabarnya… menara ini adalah tempat seorang perempuan bumi yang merindukan kehadiran dewa langitnya. Ia menari diatas menara itu saat purnama, menanti hadirnya Dewa Langit sang kekasih….” Celoteh Hira dengan penuh semangat menceritakan cerita legenda yang pernah terjadi di menara itu. “Perempuan itu selalu menari disaat bulan purnama bang… berharap kekasihnya akan datang menghampiri dari atas langit sana… berjuta-juta malam ia menunggu dewa langit kekasihnya itu… “ Hira terhenti untuk menghela napas. “Aaaah perempuanku ini… kadang ada miripnya juga dengan Cathy Suheri kalau sudah bercerita… seakan-akan paling tau dia … sementara yang diceritakannya itu adalah hanya sebatas konon kabarnya… sebatas legenda” kata Leon dalam hati. “Ini bukan sekedar legenda bang… “ Hira melanjutkan lagi kata-katanya. Leon sempat tersentak, seakan Hira mendengar apa yang dikatakannya dalam hati. Namun Leon tetap diam dan menanti apa kelanjutan cerita Hira tentang perempuan tadi. “Jadi… karena sang dewa langit itu tidak muncul-muncul dari balik langit sana… kemudian perempuan itu bunuh diri bang…” Dada Leon tiba-tiba terasa sesak.

Hira menarik tangan Leon untuk segera beranjak dari tempat itu…  tepat dibawah menara tempat tujuan mereka yang saat ini padat dikerumuni penduduk setempat. “Abang, sudah yuk kita pulang… aku nggak nyaman bang ditengah-tengah kerumunan itu… aku gak tega lihat mayat itu… “ Hira memejamkan matanya. Leon terpaku disitu, masih berdiri menatap mayat perempuan itu sambil kemudian menoleh pada seorang laki-laki disebelahnya. “Bunuh diri mas…. Lompat dari menara itu… “ kata laki-laki itu. Leon tercekat. Hirapun sama.  
Keduanya bertatapan, saling melemparkan pandangan penuh makna. Dada Leon serasa bergemuruh, seakan mengingat dan merasakan sesuatu. Demikian pula Hira. Keduanya seakan-akan terlempar kembali pada suatu masa yang entah kapan, entah dimana…. mereka sendiri tak tahu. Hanya seperti sebuah kilat yang muncul sesaat lalu hilang. Keduanya hanya bisa diam.
Perlahan Hira menoleh pada mayat perempuan itu dan memicingkan matanya. Dikaki kanan mayat itu tersemat gelang kaki emas, seperti yang digunakannya. Seperti tersengat aliran listrik dengan daya yang sangat besar, tubuhnya mulai terasa dingin, bibirnya pucat dan keringatnya mulai mengucur. Leon melihat Hira mulai menggigil dan segera menariknya menjauh dari kerumunan itu dan membawanya ke warung tidak jauh dari sana. Didudukkannya Hira disalah satu sudut warung dan segera Leon memesan segelas teh panas manis. Hira masih terdiam. Pandangannya masih terasa berkunang-kunang.
“Hira….maafkan abang, seharusnya kita tidak berlama-lama ditempat itu. Seharusnya abang dengarkan tadi saat adek mengajak abang pergi dari tempat itu” Desis Leon sambil memeluk Hira erat. Seakan ia tak ingin terjadi sesuatu dengan perempuannya. “Abang tidak ingin kehilanganmu….” Leon menatap tajam bola mata Hira. “Sayangku … dengar abang…. abang tidak ingin kehilanganmu, untuk kedua kalinya… saat ini… abang disini, abang selalu ada untukmu… abang akan selalu disini…” pelukannya semakin erat. Hira ledak tangis tak tertahankan. Keduanya berpelukan, berciuman… Tenggelam dalam rasa, sepakat untuk membentuk makna, tanpa kata-kata…. dalam dunia nyata, mereka tak akan terpisahkan…. Untuk kedua kalinya…."berdua kita akan MENARI DIATAS MENARA, dek…. Selamanya…."


T A M A T


Mampang, Medio Juni 2013






29 May 2013

MENARI DIATAS MENARA (7)



DOSA itu telah tiada…..

Dewata Naraa berhadapan dengan para dewa dalam jamuan makan malam bersama dilangit sana, dalam purnama yang kesekian kalinya, mereka menikmati gerak Rhea yang menari diatas menara…. Semua hanya bisa terdiam, bisu dalam bangunan imajinya sendiri-sendiri. Dalam INGIN mereka adalah mereka untuk menikmati aroma wanginya, ada pula yang rindu sorot matanya, ada yang mendamba renyah derai tawanya hingga ada pula yang ber ingin untuk  bisa menyentuhnya… walau semua hanya bisa dilakukan dalam angan semata… tanpa ada yang berani melangkah…

Adalah Tora, yang telah berhasil menyentuhnya, merasakan hangat tubuhnya, menikmati gelora ciumannya yang hanya diperuntukkan untuknya… Disadari dirinya telah jatuh cinta pada perempuan bumi yang selalu menyajikan buru desahan napas saat berpelukan dalam lumat ciuman yang dahsyat… yang bagi Rhea adalah hanya untuk dewa langitnya….

Semua dalam angan dan imajinya masing-masing atas Rhea, perempuan bumi yang saat ini menjadi perhatian penghuni langit. Semua hanya bisa sampai disana… sampai pada tataran medan INGIN yang tak akan pernah ada wujudnya…. Adalah Rhea yang fana meliuk sendiri… dalam NISTA nya.

“Hendaknya disadari oleh kita semua,para saudara penghuni langit semesta… bahwa kemurnian harus tetap terjaga… diri kita ini adalah kenisah yang Maha Kuasa.Diri kita ini adalah perwujudan dari DIA sang pencipta. Oleh karenanya para saudara, segera tinggalkan niatan raga yang pasti akan menghempaskan kita semua pada kehidupan yang fana…” Dewata Naraa berkata-kata perlahan, dengan suara yang sedikit cekat tersendat. Bayangan Rhea masih saja menari dalam benaknya. Namun bibirnya harus mampu berkata-kata dalam ajakan pengingkaran bersama atas naluri dan keinginan birahi yang hanya milik manusia fana….

Tora dalam hatinya bersyukur dan bahagia… bahwa dirinya telah mampu untuk menghindari kutuk yang akan terjadi padanya apabila kereta kencana saat itu ditumpanginya dengan Rhea tidak segera dihentikannya. Gejolak hatinya bahagia, karena mampu mengingkari segala gelegak dalam diri yang bisa saja terlepas, apabila dirinya tak mampu kendali….

“Tora, bisakah kau hidup tanpa perempuan yang sedang menari di menara itu?” tanya Dewata Naraa
Tora masih terdiam, dalam balutan jubah putih bersih murni dan suci. Sudah bulat tekatnya untuk kembali pada kemurnian diri. Oleh karenanya disyukurinya… bahwa dalam kurun perjalanan hidupnya… pernah merasakan gelora birahi dahsyat, namun mampu untuk segera dihentikannya. Wajahnya dingin… menatap kedepan, sambil kemudian ia mencerna lagi kata-kata dewata Naraa…
“Tidak ada pemakluman untuk itu Tora, yang ada adalah HITAM atau PUTIH… kau ada disini… yang adalah PUTIH lah dirimu… “
Tora masih terdiam… dalam desah napas pengingkaran yang tinggi, Tora kemudian berkata “aku akan tetap disini… “ walau dalam hatinya ingin ia lanjutkan lagi kalimatnya… “aku rindu desah napasnya …”

“Semua sudah jelas… kita tidak akan melumuri diri kita dengan DOSA … menikmati birahi adalah SALAH dan berat hukumnya… ini telah menjadi sebuah suratan langit… tiada yang dapat merubahnya, walau satu katapun….Sekarang kembalilah kalian pada tugas masing-masing seperti sedia kala… anggpalah ini sebagai sebuah pengalaman hidup… bahwa langit pernah diguncang oleh seorang perempuan bumi fana yang hanya akan mendatangkan DOSA….” Dewata Naraa mengeluarkan suaranya sambil menatap satu-persatu para dewa yang semua tertunduk …. Masih dalam angan dan pikirannya sendiri-sendiri MENIKMATI PELUKAN Rhea sang perempuan bumi…

“Aku merindukan kenyal payudaranya …. Namun jadilah kau bahagia dalam bahagiamu perempuanku… bersyukur atas semua yang pernah kualami bersamamu…. aku selalu mencintaimu, aku selalu ada dalam dirimu dan kau selalu ada dalam diriku. Kita akan selalu satu dalam kehidupan… dalam tarian bersama… tanpa ada gejolak birahi yang akan muncul disana… kemurnianku adalah utama…. Alam semesta lebih mulia darimu… selamat tinggal kekasihku…” Dalam hati Tora berkata-kata. Dalam pengingkaran yang tinggi, Tora membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju biliknya…

Rhea mendengar suara desah itu melalui desau angin yang menggesek bunga-bunga ilalang… hatinya pedih… luka lama menganga kembali… Rhea menghempaskan diri… dari atas menara sana… kini dalam nyata… darah berceceran dimana-mana… sungging senyum selamat tinggal… pada raga yang membuatnya tersiksa….

Semua diam… semesta bisu… saat raga Rhea terbujur kaku tak bernyawa… dibawah menara, tempatnya menari kala purnama. Para dewa diatas sana hanya bisa diam… bersyukur atas kematiannya… sehingga mereka terhindar dari DOSA…. Hingga kemurnian diri tetap terjaga….

(BERSAMBUNG)

MENARI DIATAS MENARA (6)



TITIK KESEIMBANGAN… Pergilah kasih, datanglah saat kau membutuhkanku….

Rhea terpekur sendirian, pandangannya jauh kedepan menembusi hambaran padang berbunga ilalang didepan sana… diatas bangku berayun yang tersangkut pada pohon pinus bertumpu tali tambang yang kuat… Rhea terayun dalam buaian angin malam yang semilir menyentuhi kulitnya… INGIN, PIKIR dan HARAP nya hanya tertuju pada satu saja… Tora sang Dewa Langit kekasihnya….

“Gejolak itupun selalu datang padaku setiap saat, Rhea… tapi aku tidak dapat melakukannya… “ terngiang kembali kalimat Tora pada suatu hari memutus angan saat semua telah menjadi tinggi. Rhea terasa terhempas dari bubung ketinggian dan lesak jatuh ketanah… menerbangkan debu-debu yang menebal ditanah yang selalu kering itu…. Tidak pernah tersirami … tidak pula embun… walau hanya setetes…Rekah tanah kering, membentuk garis-garis bongkahan retak menangkap tubuh Rhea yang hempas tanpa alas… tubuhnya ngilu luar biasa… nyeri dirasa pada chakra Manipura yang berasal dari matinya chakra Svadistana… Rhea tak sanggup berkata-kata banyak…. Dia hanya bisa mengernyitkan dahinya… bingung harus berbuat apa, pula canggung harus bicara apa… semua kain telah tanggal dari tubuhnya… sementara kereta kencana yang telah berpacu membubung dalam kecepatan tinggi harus berhenti dengan tiba-tiba…
“Tidak masalah… tidak apa-apa… aku akan selesaikan sendiri masalahku…” jawab Rhea, sambil menarik lagi kainnya dan melekatkan kembali pada tubuhnya… nyeri hempasan dan sesak dari debu masih terasa sesak… walau Rhea masih berusaha sungging senyum disela-sela bibirnya… Kembali lagi teringat pembicaraan malam itu… “Bukan karena aku hanya memikirkan diriku sendiri, Rhea… tapi aku harus menjaga kemurnianku… “
“Jangan kau lanjutkan kata-katamu… aku telah paham dengan semuanya itu… sudah kukatakan tadi… sebagai sebuah janjiku padamu sampai kapanpun… aku akan selesaikan sendiri permasalahan kemanusiaanku…” Rhea hanya bisa memejamkan mata… hilang segala keinginan untuk menawar atas kalimat laki-laki yang sungguh dicintainya…. Ia hanya bisa menahan rasa panas dimatanya, yang bisa berubah menjadi butiran air mata deras mengalir bila tak dengan kekuatan dahsyat untuk menahannya… agar tak merasa semakin tercampakkan untuk kesekian kalinya lah Rhea… pada mereka yang sungguh dicintainya….

Rhea menyerahkan seluruh diri dan hidupnya, saat Korento menyematkan cincin ikatan dijarinya. Sungguh hanya laki-laki itu yang dicintanya… menjadi janjinya hingga akhir masa untuk mendampingi laki-laki kecintaannya … namun menjadi porak-poranda saat Korento mencampakkannya kedalam sebuah trauma besar yang kemudian membentuk dirinya menjadi manusia yang kosong dan hampa kehilangan cinta. Hempasan demi hempasan dialaminya… atas nama melayani laki-laki yang menjadi kepala dalam rumah tangganya. Segala bentuk keindahan cinta yang tertuang dalam senggama indah tinggal puing serpih yang terserak-serak kemana-mana. Membawanya untuk mencari sebuah selasar demi menyelesaikan sendiri permasalahan kemanusiaannya. Kemurnian diri yang sedianya dipersembahkan pada suami tercinta, tinggal kepingan harap tanpa asa… menjadi hari hidup sebagai raga tak berdaya bahkan tak bernyawa…

Kini kembali lagi Rhea merasa tercampakkan… oleh laki-laki yang dengan segala keutuhan… kepenuhan hati dan gelegak rasa dicintainya… atas nama satu kata… KEMURNIAN…. Aaaah bagai tersembar petir gemuruh luar biasa….Rhea menjadi merasa seperti kain lusuh yang tersangkut dipagar peternakan diujung sana… terterpa angin tanpa bisa terbang… hingga kemudian menjadi rapuh dan rombeng berkibaran. Rhea merasa begitu KOTOR, NISTA dan tak berDAYA… yang berujung pada rasa tak berHARGA… teriakanya pada DIA sang pencipta yang entah ada dimana….  tubuh ini KAU juga penciptanya… RASA ini KAU juga pemberinya…. BIRAHI ini juga KAU yang memberikannya… yang kataMU adalah sebagai sebuah roda penggerak agar denyut hidup tetap berjalan…. Namun kini yang harus dijalaninya bagai pemisah tegas antara HITAM dan PUTIH… GELAP dan TERANG…. DINGIN dan PANAS… BENAR dan SALAH… tanpa mau mencoba bergeser untuk mengganti sudut pandang untuk bisa lebih dimengerti… bahwa ada ABU-ABU diantara HITAM dan PUTIH… seakan semua telah terketok palu memastikan satu… pilih HITAM atau pilih PUTIH… HITAM adalah NISTA dan PUTIH adalah MURNI….. Rhea terpekur meratapi dirinya sendiri…. Terpicu untuk semakin menyelam dalam lumpur yang akan menjadikannya semakin HITAM tentunya….

Rhea menghela napas panjang… dalam INGIN, PIKIR dan HARAPnya akan DAYA yang ternyata berMAKNA NISTA…. Bila NISTA lah adanya mengapa PENCIPTA menciptakannya… menciptakan sebuah lingkar kehidupan dalam bentuk KESADARAN, TUBUH dan JIWA…KESADARANnya telah penuh dengan niatan tulus kasih yang tiada batasnya pada kekasih karena kehadirannya… JIWAnya terpenuhi oleh DAYA energi semesta yang dahsyat luar biasa saat berada disamping kekasih kecintaannya… Namun….TUBUHnya … “biarlah aku sendiri yang menyelesaikan… Pergilah kasih… biar kuselesaikan sendiri… datanglah padaku saat kau membutuhkan ku untuk semakin memurnikanmu… aku hanya mahluk bumi… NISTA atau SUCI kini adalah milikku sendiri…” desisnya melemah…. Rhea tenggelam dalam dekapnya sendiri… bergumul dengan dirinya sendiri yang kemudian memunculkan sebuah KESADARAN….bahwa hidupnya adalah NISTA …. Hidupnya adalah HAMPA….

(BERSAMBUNG)

25 May 2013

MENARI DIATAS MENARA (5)




SKETSA PURNAMA :  BERSAMAMU BUKANLAH KEBETULAN, BERSAMAMU ADALAH SURATAN

Malam ini Purnama… Rhea diatas menara. Berdiam dalam hening… matanya terkatup rapat, lengket terpejam…
Seluruh tubuhnya lepas… tanggalkan seluruh tulang-belulang yang menyangga tubuhnya. Lepas segala ketegangan dari sekujur tubuhnya. Rhea seakan mematikan seluruh aliran medan magnet yang menjalar pada tubuhnya. Tubuhnya bebas, siap mengembara dalam gerakan tarinya…. Napasnya teratur, terlihat dari turun naik dadanya dalam irama yang tetap… Rambutnya tersapu angin terkibas… tak dihiraukannya. Rhea bersimpuh lepas… tanpa penyangga dalam hening yang dalam… tanpa sebuah arah tertuju…

Rhea menarik napas dalam, untuk kemudian dilepaskan semua INGIN… agar keinginan dapat berlarian kesana-kemari sesuka hati… kebebasan ingin yang tiada kendali… agar ingin punya kesempatan mutlak sebagai ingin… tanpa ada yang membatasi.
Dilepas semua PIKIR… agar pikir dapat bebas merdeka melanglang buana…. Hingga temui kebebasan pikir yang tiada batasnya… agar pikir punya wujudnya sendiri sebagai pikir… tanpa ada yang mempengaruhi.
Dilepasnya semua HARAP… agar harap dapat bebas melangkah bahkan berlari… hingga dapat sungguh teryakini… harap apa yang dicari…
Dilepasnya semua DIRI… entah hidup entah mati… agar dapat bebas menentukan sendiri… berdaya hidup ataupun berdaya mati…
Karena rangkaian kenyataan hidup yang terperangkap dalam jelma kasat manusia Rhea saat ini… adalah ruh energi bebas tanpa batas dan kendali… sebagai DIRI SENDIRI…

Saat datang di bumi… dalam telanjangnya sendiri…
Saat menjalani napas hidup… dalam pakaian aturan dan kendali yang berlaku dibumi…
Saat menentukan arah… dalam kebingungan kesana-kemari sambil dengarkan celotehan manusia dari  sana-sini… yang makin membuat semua menjadi rumit…
Saat menjadi seseorang yang selalu terpantaui … kembali lagi merasa dipantau oleh celotehan dari sana-sini… mencela saat terjerembab, memuji saat bermahkota…. Ada yang sambil lalu berceloteh… ada yang sambil berpikir pula berkata-kata…. Semua lalu berjalan sesuai dengan putaran ….
Saat tiba jelang kembali…. Pun sendiri…. Dalam kotak mati, atau bungkusan putih untuk kemudian benam dalam tanah abu debu fana dibawah sana….
Lalu mau apa….? Aliran sungai bisa berliku kemana saja… entah berbelok kekiri ataupun kekanan… pula lurus maju terus kedepan sana… namun ingat… tidak ada aliran sungai yang berbalik mundur kebelakang…. Semua bermuara disana… disamudra lepas tanpa batas…. Bercampur dalam gemulung air laut yang tak akan pernah surut…

Mau kemana pergi… ? Tentukan sendiri… lepaskan agar diri dapat sungguh menjadi diri… untuk kemudian terbentuk sendiri… apa yang menjadi ingin, apa yang menjadi pikir, apa yang menjadi harap… Semua terangkum dalam ikat DIRI SENDIRI…. Karena memang semua ada dalam DIRI SENDIRI…

Untuk kemudian diserahkan semua pada alam semesta, diakhir hidup, apa yang sudah dilakukan disini … dihidup ini sebagai sebuah pertanggung jawaban sebagai DIRI yang terjerat dalam tubuh kasat  raga manusiawi…

Dalam hening… yang tanpa tuju… segala getar energi yang lalu lalang tanpa arah disekitar ditangkapnya … warna-warni alam semesta, merah, jingga, kuning, hijau, biru, lila dan ungu…. Diserapnya untuk mengaktifkan roda-roda pusat energi di dalam diri… roda-roda itu mulai bergerak tanpa aba-aba… ditempatnya masing-masing mereka bergerak mulai dari perlahan, makin kencang, makin cepat, makin kuat…. Yang kemudian berputar dahsyat tanpa bisa dan harus berhenti…. Bebas mereka berputar… hingga pancarkan sinar terang dari masing-masing roda dalam tubuhnya… warna-warna berbaur menjadi satu, melebur menjadi sebuah kekuatan dahsyat yang siap disemburkannya sebagai sebuah DAYA ….

Rhea menutup pengembaraan heningnya…. Sungging senyum masih dalam katup mata kekosongannya, bersiap untuk menggeleggakkan energi yang baru saja diserap melalui kekehingannya… untuk kemudian dibagikannya melalui gemulai tariannya, melalui liuk tubuhnya… melalui sinar mata dan sungging senyumnya pancarkan sinar-sinar yang telah berputar dahsyat pada roda-roda dalam dirinya… dan membagikannya pada manusia mana yang mampu untuk menangkapnya…

Semua mata dari segala penjuru telah siap tertuju padanya… adalah para dewata diatas langit sana… dan para manusia dibawah bumi fana… semua bersiap menantikan pancar RAGA yang penuh DAYA, dari atas menara….. siapa yang mampu menangkap gerakannya????....  Adalah semua… Namun pertanyaannya…. Siapa yang mampu menangkap MAKNA nya….??? Hanya yang paham akan keterlibatan alam semesta dalam dirinya…. Yang akan mampu mencerna MAKNA liuk tubuhnya… dalam gerak tarian persembahan pada alam semesta.

Saat gerakan telah diluncurkan… MAKNA menjadi sangatlah fana… tergantung dari siapa yang menikmatinya… Bagaimana kemampuan daya pikirnya… yang hanya sebatas raga… birahilah yang muncul disana… namun yang mampu menangkapnya melebihi batas raga… akan menjadi DAYA lah makna yang lahir disana…. Aaaah… Rhea mengembalikannya pada penikmat gerakannya… bukan urusannya… urusannya adalah mengasah RAGAnya… agar dapat menjadi DAYA… apapun penerimaan pemirsanya… bukan menjadi pikirnya… manusia bertanggung jawab sendiri atas DIRInya SENDIRI… atas INGIN, PIKIR dan HARAP nya sendiri-sendiri… Rhea tidak peduli…

Rhea tersenyum… ia mulai merentangan tangannya, menariknya kedada, tangkup tangan dan diangkatnya keangkasa… Sembah Purnama bagi seluruh jagad raya, alam semesta luas yang melingkupinya… Memasrahkan kembali pada pencipta jagad raya… untuk menentukan …. Apakah masih tetap dalam tugasnya hidup dalam raga… dibumi manusia. Karena sejatinya manusia memanggul tugasnya, saat menjalani hidup dalam jerat raga manusia. Diingatkannya kembali pada Sang Pencipta saat meniupkan roh hidup ketika ia masih dalam janin sana… Dalam gerak sembah purnama… Rhea memasrahkan kembali pada pencipta…. tugas yang harus diembannya saat menjadi manusia fana… lanjut atau hentilah kiranya…

Rhea mulai menari… dilatar belakangi Purnama bugil bulat penuh tanpa tertutupi…

Bumi chaos bila purnama tiba… ada yang hanya berani mengintip dari balik tirai…. Sampai yang berani mengayun langkah menuju menara. Mulai dari pengemis disudut negeri hingga para petinggi, semua bersiap berdiri dibawah menara, menggenggam berbagai macam upeti, mulai dari kuntum bunga melati hingga sunting hiasan sanggul emas murni… dari tahun ketahun… mereka hanya bisa membawa upeti-upeti itu ke menara, lalu membawanya kembali pulang… yang akhirnya diserahkan pula pada perempuan penguasa rumah tangga dalam negeri… karena upeti tidak akan pernah terjamahi oleh Rhea perempuan penari….

Adalah Kuomo, yang sedari tadi telah bersiap menikmati pertunjukan liuk tunggal diatas sana, disusul Uraim yang baru saja hadir dengan tergopoh-gopoh dan jengkel melihat sudah ada manusia terlebih dahulu tiba disana… Belum lagi Diema, dengan langkah tenang mendekati menara, sambil memegangi pelipisnya yang luka terkena lemparan sodet penggorengan Dienta istrinya saat ia mulai bersiap-siap melangkah menuju menara… suara Dienta makin sayup tak dihiraunya lagi…“Bedebah kau lelaki setaaaan… pergilah kau melihat pertunjukan alam setiap purnama bulat… kau tinggalkan aku menikmati selimut malam ini sendiri… “ teriaknya memaki.

Langit terang diatas sana… suara kibasan sayap membahana memekakkan telinga… dari seluruh penjuru mereka semua bersiap melesak turun … menuju menara… tepat disela-sela antara bumi dan langit sana… seperti biasa… para bidadari sudah lebih dulu berbaris bersusun rapi… menapaki selasar pelangi… turun dari langit … untuk curi gerak tari Rhea manusia bumi….

Seorang dewa bersayap nampak mulai terbang mendekati menara…. Namun kemudian lesak laju naik lagi keudara… saat dilihatnya seorang dewa bersayap lainnya muncul menuju arah yang sama…. Dewa itupun segera kepakkan sayapnya kuat berbalik mengangkasa,saat muncul dari kejauhan dewa bersayap lainnya yang laju menuju titik yang sama….  Setiap dewa bersayap memancarkan sinarnya… maka terang benderanglah langit yang seharusnya malam gulita… suara sinar bertabrakan menimbulkan bising seantero angkasa… semua dewa bersayap menuju arah yang sama… menara… hingga muncullah dari kejauhan sana… Dewa Naraa, perlahan ia mengepakkan sayapnya menuju menara… dan berdiri tepat dihadapan Rhea. Seluruh dewa yang sedianya bersiap pengepakkan sayap menuju menara, terhenti, dan hanya sanggup sembunyi dibalik apapun yang sekiranya sanggup untuk menutupi, dibalik bintang, dibalik awan, dibalik tiang langit bahkan dibalik benda-benda langit yang bertebaran diatas sana… nyali menjadi ciut, saat Dewata Naraa pula hadir dan berdiri dihadapan Rhea. Semua Dewa memicingkan mata, menatap tajam pada Rhea, apakah perempuan itu menyadari kehadiran Yang Mulia Penguasa Langit semesta raya….

Rhea tetap larut dalam gerak tarinya, matanya masih terpejam tanpa tengarai Yang Mulia Penguasa Langit telah berdiri dihadapannya. Naraa memandangi gerakan Rhea yang bebas penuh merdeka… dadanya sesak saat dilihatnya Rhea menundukkan kepalanya, menarik napas dan kemudian menengadahkan kepala sambil membuka matanya… Sinar mata Rhea terang memancar dari kedua bola matanya…. Tajam menatap kedepan…. Dewata Naraa siap sungging senyum dan merentangkan tangannya… Namun….. ada ragu disana… ketika disadarinya… tatapan Rhea bukan mengarah padanya…. Dewata Naraa masih memandangi Rhea, yang sungging senyum dan merentangkan kedua tangannya …. Rhea berlari menghampirinya… saat Dewata Naraa akan menangkap tubuh Rhea… dirasakannya seseorang berada dibelakangnya…. Rhea lari menghambur masuk dalam pelukan seseorang yang berada tepat dibelakannya…  

Semua terjadi dengan begitu cepatnya…. Seluruh langit gelegar gemuruh suara para dewa… memaki … menghujati… atas nama iri… mengapa diri tidak berani…. Para Dewa mulai menyalahkan diri sendiri, kembali ciut nyali… mengapa tidak seberani dewa nekat yang kini berdiri dibelakang Dewata Naraa pemimpin langit…. Menangisi diri mengapa tidak mampu seberani laki-laki bersayap yang saat ini dapat menikmati jemari Rhea membelai pipi. Tak berani menunjukkan dada bidangnya tempat untuk Rhea dapat meringkuk manja bagai bayi…. Dewata Naraa memejamkan mata merasa panas… segera lesak membubungi tinggi, menutup pintu langit untuk kemudian terpekur memandangi… dari tempat tersembunyi…

Semua lidah kelu… baik mahluk langit maupun bumi… seakan napas terhenti… laki-laki bumipun tak henti memaki, merasa tak memiliki peluang lagi… saat perempuan bumi rengguk dalam dekapan dewa langit yang tinggi….  
Dewa Tora memejamkan mata… merasakan betul keberadaan Rhea dalam peluknya… saat hatinya terasa bahagia… saat Rhea memilih untuk menyeruak masuk dalam pelukannya.

“Tak kuijinkan siapapun menyentuhmu, perempuanku…. Tak pula yang tertinggi sekalipun… karena aku telah memilihmu dan kau telah memilihku… “
“Namun Tora… jangan pernah kau tanggalkan sayapmu…”
“Serahkan semua padaku… apa yang akan kuhadapi diatas sana… jangan kau cemasi apa yang akan terjadi… menemukanmu bukanlah kebetulan, tetapi sudah suratan…”
“Kita akan menari bersama disini… Kita bisa MENARI DIATAS MENARA….saat kau merindukanku… ”
“Sssst… perempuanku… itu semua urusanku…. Adalah sebuah kebebasanku untuk bisa mencintaimu dan dicintaimu…” Dekapan hangat Dewa Tora membuat Rhea kemudian hanya sanggup berkata… “Jangan tinggalkan aku, kekasihku…”