25 May 2013

MENARI DIATAS MENARA (5)




SKETSA PURNAMA :  BERSAMAMU BUKANLAH KEBETULAN, BERSAMAMU ADALAH SURATAN

Malam ini Purnama… Rhea diatas menara. Berdiam dalam hening… matanya terkatup rapat, lengket terpejam…
Seluruh tubuhnya lepas… tanggalkan seluruh tulang-belulang yang menyangga tubuhnya. Lepas segala ketegangan dari sekujur tubuhnya. Rhea seakan mematikan seluruh aliran medan magnet yang menjalar pada tubuhnya. Tubuhnya bebas, siap mengembara dalam gerakan tarinya…. Napasnya teratur, terlihat dari turun naik dadanya dalam irama yang tetap… Rambutnya tersapu angin terkibas… tak dihiraukannya. Rhea bersimpuh lepas… tanpa penyangga dalam hening yang dalam… tanpa sebuah arah tertuju…

Rhea menarik napas dalam, untuk kemudian dilepaskan semua INGIN… agar keinginan dapat berlarian kesana-kemari sesuka hati… kebebasan ingin yang tiada kendali… agar ingin punya kesempatan mutlak sebagai ingin… tanpa ada yang membatasi.
Dilepas semua PIKIR… agar pikir dapat bebas merdeka melanglang buana…. Hingga temui kebebasan pikir yang tiada batasnya… agar pikir punya wujudnya sendiri sebagai pikir… tanpa ada yang mempengaruhi.
Dilepasnya semua HARAP… agar harap dapat bebas melangkah bahkan berlari… hingga dapat sungguh teryakini… harap apa yang dicari…
Dilepasnya semua DIRI… entah hidup entah mati… agar dapat bebas menentukan sendiri… berdaya hidup ataupun berdaya mati…
Karena rangkaian kenyataan hidup yang terperangkap dalam jelma kasat manusia Rhea saat ini… adalah ruh energi bebas tanpa batas dan kendali… sebagai DIRI SENDIRI…

Saat datang di bumi… dalam telanjangnya sendiri…
Saat menjalani napas hidup… dalam pakaian aturan dan kendali yang berlaku dibumi…
Saat menentukan arah… dalam kebingungan kesana-kemari sambil dengarkan celotehan manusia dari  sana-sini… yang makin membuat semua menjadi rumit…
Saat menjadi seseorang yang selalu terpantaui … kembali lagi merasa dipantau oleh celotehan dari sana-sini… mencela saat terjerembab, memuji saat bermahkota…. Ada yang sambil lalu berceloteh… ada yang sambil berpikir pula berkata-kata…. Semua lalu berjalan sesuai dengan putaran ….
Saat tiba jelang kembali…. Pun sendiri…. Dalam kotak mati, atau bungkusan putih untuk kemudian benam dalam tanah abu debu fana dibawah sana….
Lalu mau apa….? Aliran sungai bisa berliku kemana saja… entah berbelok kekiri ataupun kekanan… pula lurus maju terus kedepan sana… namun ingat… tidak ada aliran sungai yang berbalik mundur kebelakang…. Semua bermuara disana… disamudra lepas tanpa batas…. Bercampur dalam gemulung air laut yang tak akan pernah surut…

Mau kemana pergi… ? Tentukan sendiri… lepaskan agar diri dapat sungguh menjadi diri… untuk kemudian terbentuk sendiri… apa yang menjadi ingin, apa yang menjadi pikir, apa yang menjadi harap… Semua terangkum dalam ikat DIRI SENDIRI…. Karena memang semua ada dalam DIRI SENDIRI…

Untuk kemudian diserahkan semua pada alam semesta, diakhir hidup, apa yang sudah dilakukan disini … dihidup ini sebagai sebuah pertanggung jawaban sebagai DIRI yang terjerat dalam tubuh kasat  raga manusiawi…

Dalam hening… yang tanpa tuju… segala getar energi yang lalu lalang tanpa arah disekitar ditangkapnya … warna-warni alam semesta, merah, jingga, kuning, hijau, biru, lila dan ungu…. Diserapnya untuk mengaktifkan roda-roda pusat energi di dalam diri… roda-roda itu mulai bergerak tanpa aba-aba… ditempatnya masing-masing mereka bergerak mulai dari perlahan, makin kencang, makin cepat, makin kuat…. Yang kemudian berputar dahsyat tanpa bisa dan harus berhenti…. Bebas mereka berputar… hingga pancarkan sinar terang dari masing-masing roda dalam tubuhnya… warna-warna berbaur menjadi satu, melebur menjadi sebuah kekuatan dahsyat yang siap disemburkannya sebagai sebuah DAYA ….

Rhea menutup pengembaraan heningnya…. Sungging senyum masih dalam katup mata kekosongannya, bersiap untuk menggeleggakkan energi yang baru saja diserap melalui kekehingannya… untuk kemudian dibagikannya melalui gemulai tariannya, melalui liuk tubuhnya… melalui sinar mata dan sungging senyumnya pancarkan sinar-sinar yang telah berputar dahsyat pada roda-roda dalam dirinya… dan membagikannya pada manusia mana yang mampu untuk menangkapnya…

Semua mata dari segala penjuru telah siap tertuju padanya… adalah para dewata diatas langit sana… dan para manusia dibawah bumi fana… semua bersiap menantikan pancar RAGA yang penuh DAYA, dari atas menara….. siapa yang mampu menangkap gerakannya????....  Adalah semua… Namun pertanyaannya…. Siapa yang mampu menangkap MAKNA nya….??? Hanya yang paham akan keterlibatan alam semesta dalam dirinya…. Yang akan mampu mencerna MAKNA liuk tubuhnya… dalam gerak tarian persembahan pada alam semesta.

Saat gerakan telah diluncurkan… MAKNA menjadi sangatlah fana… tergantung dari siapa yang menikmatinya… Bagaimana kemampuan daya pikirnya… yang hanya sebatas raga… birahilah yang muncul disana… namun yang mampu menangkapnya melebihi batas raga… akan menjadi DAYA lah makna yang lahir disana…. Aaaah… Rhea mengembalikannya pada penikmat gerakannya… bukan urusannya… urusannya adalah mengasah RAGAnya… agar dapat menjadi DAYA… apapun penerimaan pemirsanya… bukan menjadi pikirnya… manusia bertanggung jawab sendiri atas DIRInya SENDIRI… atas INGIN, PIKIR dan HARAP nya sendiri-sendiri… Rhea tidak peduli…

Rhea tersenyum… ia mulai merentangan tangannya, menariknya kedada, tangkup tangan dan diangkatnya keangkasa… Sembah Purnama bagi seluruh jagad raya, alam semesta luas yang melingkupinya… Memasrahkan kembali pada pencipta jagad raya… untuk menentukan …. Apakah masih tetap dalam tugasnya hidup dalam raga… dibumi manusia. Karena sejatinya manusia memanggul tugasnya, saat menjalani hidup dalam jerat raga manusia. Diingatkannya kembali pada Sang Pencipta saat meniupkan roh hidup ketika ia masih dalam janin sana… Dalam gerak sembah purnama… Rhea memasrahkan kembali pada pencipta…. tugas yang harus diembannya saat menjadi manusia fana… lanjut atau hentilah kiranya…

Rhea mulai menari… dilatar belakangi Purnama bugil bulat penuh tanpa tertutupi…

Bumi chaos bila purnama tiba… ada yang hanya berani mengintip dari balik tirai…. Sampai yang berani mengayun langkah menuju menara. Mulai dari pengemis disudut negeri hingga para petinggi, semua bersiap berdiri dibawah menara, menggenggam berbagai macam upeti, mulai dari kuntum bunga melati hingga sunting hiasan sanggul emas murni… dari tahun ketahun… mereka hanya bisa membawa upeti-upeti itu ke menara, lalu membawanya kembali pulang… yang akhirnya diserahkan pula pada perempuan penguasa rumah tangga dalam negeri… karena upeti tidak akan pernah terjamahi oleh Rhea perempuan penari….

Adalah Kuomo, yang sedari tadi telah bersiap menikmati pertunjukan liuk tunggal diatas sana, disusul Uraim yang baru saja hadir dengan tergopoh-gopoh dan jengkel melihat sudah ada manusia terlebih dahulu tiba disana… Belum lagi Diema, dengan langkah tenang mendekati menara, sambil memegangi pelipisnya yang luka terkena lemparan sodet penggorengan Dienta istrinya saat ia mulai bersiap-siap melangkah menuju menara… suara Dienta makin sayup tak dihiraunya lagi…“Bedebah kau lelaki setaaaan… pergilah kau melihat pertunjukan alam setiap purnama bulat… kau tinggalkan aku menikmati selimut malam ini sendiri… “ teriaknya memaki.

Langit terang diatas sana… suara kibasan sayap membahana memekakkan telinga… dari seluruh penjuru mereka semua bersiap melesak turun … menuju menara… tepat disela-sela antara bumi dan langit sana… seperti biasa… para bidadari sudah lebih dulu berbaris bersusun rapi… menapaki selasar pelangi… turun dari langit … untuk curi gerak tari Rhea manusia bumi….

Seorang dewa bersayap nampak mulai terbang mendekati menara…. Namun kemudian lesak laju naik lagi keudara… saat dilihatnya seorang dewa bersayap lainnya muncul menuju arah yang sama…. Dewa itupun segera kepakkan sayapnya kuat berbalik mengangkasa,saat muncul dari kejauhan dewa bersayap lainnya yang laju menuju titik yang sama….  Setiap dewa bersayap memancarkan sinarnya… maka terang benderanglah langit yang seharusnya malam gulita… suara sinar bertabrakan menimbulkan bising seantero angkasa… semua dewa bersayap menuju arah yang sama… menara… hingga muncullah dari kejauhan sana… Dewa Naraa, perlahan ia mengepakkan sayapnya menuju menara… dan berdiri tepat dihadapan Rhea. Seluruh dewa yang sedianya bersiap pengepakkan sayap menuju menara, terhenti, dan hanya sanggup sembunyi dibalik apapun yang sekiranya sanggup untuk menutupi, dibalik bintang, dibalik awan, dibalik tiang langit bahkan dibalik benda-benda langit yang bertebaran diatas sana… nyali menjadi ciut, saat Dewata Naraa pula hadir dan berdiri dihadapan Rhea. Semua Dewa memicingkan mata, menatap tajam pada Rhea, apakah perempuan itu menyadari kehadiran Yang Mulia Penguasa Langit semesta raya….

Rhea tetap larut dalam gerak tarinya, matanya masih terpejam tanpa tengarai Yang Mulia Penguasa Langit telah berdiri dihadapannya. Naraa memandangi gerakan Rhea yang bebas penuh merdeka… dadanya sesak saat dilihatnya Rhea menundukkan kepalanya, menarik napas dan kemudian menengadahkan kepala sambil membuka matanya… Sinar mata Rhea terang memancar dari kedua bola matanya…. Tajam menatap kedepan…. Dewata Naraa siap sungging senyum dan merentangkan tangannya… Namun….. ada ragu disana… ketika disadarinya… tatapan Rhea bukan mengarah padanya…. Dewata Naraa masih memandangi Rhea, yang sungging senyum dan merentangkan kedua tangannya …. Rhea berlari menghampirinya… saat Dewata Naraa akan menangkap tubuh Rhea… dirasakannya seseorang berada dibelakangnya…. Rhea lari menghambur masuk dalam pelukan seseorang yang berada tepat dibelakannya…  

Semua terjadi dengan begitu cepatnya…. Seluruh langit gelegar gemuruh suara para dewa… memaki … menghujati… atas nama iri… mengapa diri tidak berani…. Para Dewa mulai menyalahkan diri sendiri, kembali ciut nyali… mengapa tidak seberani dewa nekat yang kini berdiri dibelakang Dewata Naraa pemimpin langit…. Menangisi diri mengapa tidak mampu seberani laki-laki bersayap yang saat ini dapat menikmati jemari Rhea membelai pipi. Tak berani menunjukkan dada bidangnya tempat untuk Rhea dapat meringkuk manja bagai bayi…. Dewata Naraa memejamkan mata merasa panas… segera lesak membubungi tinggi, menutup pintu langit untuk kemudian terpekur memandangi… dari tempat tersembunyi…

Semua lidah kelu… baik mahluk langit maupun bumi… seakan napas terhenti… laki-laki bumipun tak henti memaki, merasa tak memiliki peluang lagi… saat perempuan bumi rengguk dalam dekapan dewa langit yang tinggi….  
Dewa Tora memejamkan mata… merasakan betul keberadaan Rhea dalam peluknya… saat hatinya terasa bahagia… saat Rhea memilih untuk menyeruak masuk dalam pelukannya.

“Tak kuijinkan siapapun menyentuhmu, perempuanku…. Tak pula yang tertinggi sekalipun… karena aku telah memilihmu dan kau telah memilihku… “
“Namun Tora… jangan pernah kau tanggalkan sayapmu…”
“Serahkan semua padaku… apa yang akan kuhadapi diatas sana… jangan kau cemasi apa yang akan terjadi… menemukanmu bukanlah kebetulan, tetapi sudah suratan…”
“Kita akan menari bersama disini… Kita bisa MENARI DIATAS MENARA….saat kau merindukanku… ”
“Sssst… perempuanku… itu semua urusanku…. Adalah sebuah kebebasanku untuk bisa mencintaimu dan dicintaimu…” Dekapan hangat Dewa Tora membuat Rhea kemudian hanya sanggup berkata… “Jangan tinggalkan aku, kekasihku…”



No comments: