05 May 2013

JALAN SETAPAK TELAGA WARNA



 

Matahari sudah pulang, suasana disekitar Telaga Warna sepi…. Suara binatang hutan terdengar begitu nyata… Riak-riak air telaga warna tidak lagi terpantul cahaya ... Saat itu pergantian senja menuju malam… Kulit mulai tersapu angin dingin…

“Hidungmu mulai dingin… kembali kita…” Leon menjetikan jemarinya pada hidung Hira yang mulai mampet kena udara dingin. Hira mengangguk. Keduanya bertatapan dan saling melempar senyum salah tingkah… aaaah….

Keduanya bergandengan, melewati jalan setapak Telaga Warna menuju parkiran, dipinggir jalan raya puncak. Aaaah … Hira menghirup udara dalam-dalam sambil menghelanya keras… dadanya membusung dengan tangan dibukanya lebar.
“Dingin ya…” tanya Leon datar, tangannya mengamit tangan Hira dalam genggamannya. Tubuh Hira terasa bergetar…
“Enggak…” jawabnya salah tingkah… aaah aneh juga… Hira salah tingkah ketika tangannya berada dalam genggaman Leon. Dirinya pun tak habis pikir, mengapa ia jadi seperti remaja yang baru pertama pacaran… dalam usianya yang sudah puluhan kalinya meniup lilin ulang tahun, tentu seharusnya tidak lagi mengalami hal ini… kaya ABG ajaaah… Hira yang biasa ramai… terlihat cekat di tenggorokan dan kehabisan kata-kata. Ia sibuk dengan gemuruh didalam dada yang bagai terguncang saat Leon menggenggam tangannya. Widiiih begitu dahsyatnya kah seorang Leon bagi Hira…? Dalam benak Hira, ia harus segera mencari topik masalah untuk dapat memecahkan hening diantara keduanya…

“Eeeeem…. “ Hira membuka kata dengan sepenggal kata itu… masih cekat rasanya… sambil menatap langit, Hira mengambil ancang-ancang untuk bicara. Laki-laki disebelahnya masih berjalan tenang …
“Tuhan itu gila ya….” Hira mulai dengan celotehnya… “eeeem…. Tenang…tenang… gini lho maksudku…” Hira segera melancarkan kata-katanya, sebelum Leon syok dengan terminologinya tentang Kegilaan Tuhan yang baru saja dikatakannya.
“Maksudku begini… maaf kalau aku mengatakan bahwa Tuhan itu gila… tapi kurasa, tidak salah juga aku mengatakan demikian…. Karena bagiku… Tuhan itu maha segala-galanya… DIA Maha Besar… sekaligus juga Maha Kecil… DIA bisa buat apa saja… “ Hira jeda sejenak…. “eeem gini….” Lanjutnya lagi… “TUHAN itu yang menciptakan semua isi bumi ini kan… dia buat bintang, tumbuhan, hewan… bahkan manusia. Tidak berhenti sampai disana… dia juga membuat sel-sel kecil… seeeeeeekecil-kecilnya…. Daaan…. Tidak hanya berhenti sampai menciptakan kehidupan… tetapi juga beserta sistemnya, agar kehidupan itu dapat terus berjalan. Semua berjalan teratur… sesuai dengan seharusnya, sesuai dengan semestinya. Selain itu, pada setiap sesuatu selalu ada maknanya. Seperti ….. eeeemm…. daun teh ini… “ Hira berhenti dan memetik ujung daun teh… “Ujung daun teh memiliki rasa berbeda dengan daun tengah dan pangkal daunnya… ketika aku memetik ujungnya, maka akan rusaklah seluruh kehidupan dalam daun itu… terkoyak… seperti layaknya seorang manusia yang telah diperkosa… dia akan menjadi hancur. Kalau terjadi pada manusia, sepertinya waaah… akan menjadi masalah besar kan? Karena dia tanaman aja kan… jadi sepertinya gak apa-apa. Kayanya kita cuma iseng aja kan…. Petik ujungnya… Padahal… sama saja… kita sudah merusak sistem hidup tanaman ini… Tapi apakah kita sadar? Bahwa kita telah merusak sistem yang pada saat itu berjalan disitu… dipohon teh itu “ Hira tidak memperhatikan tanggapan Leon dan Hira juga tidak menginginkan Leon menanggapi… Ia seperti berceloteh sendiri, seakan ingin mengeluarkan gelegak rasa yang ada didalam hati dan pikirannya. “Itu yang kumaksud dengan Tuhan itu gila…. DIA menciptakan semua kehidupan berserta seluruh sistemnya… mulai dari tunas, berkembang, bertumbuh, kemudian mati… dan lalu hidup lagi… begitu seterusnya… dan aku sangat yakin dan percaya, bahwa disetiap sistem yang berjalan itu… DIA hadir… DIA ada… juga didalam tubuh kita… aku yakin dan percaya… seluruh tubuh kita yang terdiri atas sel-sel ini… apapun namanya… ada Tuhan disana…. Gila kan…. Ini… saat ini kita bicara tentang gunung… pohon teh yang kita petik tadi… lain lagi bila kita berada di pantai…. Dengan segala sistem yang berjalan disana… ikan, tanaman laut, plankton… dan ribuan mahluk lainnya.“ Hira menghentikan kata-katanya sejenak… tiba-tiba dia berhenti dan memandang Leon, sambil menunjuk pada sebuah parit yang dialiri air kotor… “Kamu lihat bunga di parit itu… Dia juga punya sistemnya sendiri… Dia bertunas, bertumbuh, berkembang, mekar cantiiiiiik sekali…. kemudian layu… yang untuk nanti dia akan berkembang lagi… padahaaaaal…. Dia ada di parit…. Ditempat yang kotor…. Tapi tetap ada keindahan disana…. Jadi tidak hanya ditempat yang bersih dan bagus Tuhan hadir… tetapi ditempat kotorpun… DIA pula hadir… Tuhan itu gila ya…” Hira mengakhiri kata-katanya.


Leon menghentikan langkahnya. Hira menoleh, dan segera pula turut menghentikan langkah… Tangan Leon menariknya untuk mendekat. Kini mereka berhadapan… Hira menatap mata Leon dalam… aaaah PENDAR SIRAT SINAR MATAnya… membuat Hira gemetar… Leon merengkuhnya dalam dekap… erat Leon memeluk Hira… Perempuan itu hanya mampu meletakkan kepalanya didada bidang laki-laki yang saat ini memeluknya dengan begitu hangat… mendaratkan sebuah kecupan lembut didahinya… Keduanya tenggelam disana… tanpa kata, tanpa suara… ditengah-tengah jalan setapak Telaga Warna… diantara perdu teh yang berbaris… dibawah atap langit gelap terbuka… Bintang menari… Jengkerik sibuk bernyanyi….Yakin dan percaya… Tuhan hadir pula disana… Aaaaah Leon… akankah selamanya…. ????  

Medio Mampang, 05 Mei 2013
06:45

02 May 2013

KOPI dan KITA

“Terima kasih atas segelas kopi buatanmu. Itu adalah kopi paling nikmat yang pernah kurasakan dalam hidupku….. Aaaaah….” Desis Hira perlahan sambil mengingat-ingat rasa kopi yang masih lekat dilidahnya…

Tanpa menunggu lama, ia segera menuliskan satuts catatan pribadinya di gadget BlackBerry dengan tulisan : “KOPI paling nikmat yang pernah kurasakan dalam hidupku…”

“Hira sang perayu ulung…. Jiaaah lambemu Ra….” Komentar Cathy Suheri begitu membaca status itu.
“Ini bukan sekedar status, kakak… ini pengakuan ….” Jawab Hira. Cathy makin bersungut-sungut dengan jawabab Hira.

Ada baiknya sedikit kuceritakan latar balakang terjadinya pembicaraan ini. Sore itu, disaat sudah sangat lelah berkeliling, Leon mengajak Cathy dan Hira mampir ke rumahnya. Rumah yang rapi, teratur, sejuk, nyaman dan tenang. Saat memasuki rumah itu… Hira justru mulai gerah…. Apa pasal…? Sudah cukup lama dia menahan kantuk dan ingin segera menyalakan sebatang rokok mentholnya… aaaaah…. Tersiksa sudah….

“Nah … kau baca tulisan itu Hira…” Tunjuk Cathy Suheri pada sebuah papan diatas sebuah rak kayu besar, saat memasuki ruang makan rumah itu.
“Jiaaaah… mati kitaaaaa…. Aaaah….. BEBAS ASAP ROKOK…” Desis Hira. Lanjutnya, “Kak… lebih baik aku tunggu di terminal saja lah… daripada disini…” Dalam hatinya bergumam…” Mati angin… sempurna sudah…” Hira mulai tidak nyaman.
“Leon… Hira mau merokok itu… bagaimana?” Kata Cathy
“Ho kalau mau merokok bisa disebelah sana…” tunjuk Leon pada sebuah sudut depan bangunan rumah itu.
“Jiaaaah…” jerit Hira dalam hati. “gak mungkin lah aku keluar, merokok didepan situ…yang enggak-enggak aja loe… “ dalam hati Hira.

Perlahan Hira berkata “ Sudah lah kak… tidak usah merokok… apa masih mungkin kita minum kopi?”
“Leon… ada kopi? Ini Hira pengen minum kopi” Kata Cathy pada Leon, yang sedang asik mengupas buah kelengkeng. Mata Hira terbelalak saat mendengar kata-kata Cathy.
“Ooooh kopi… ada… mari saya buatkan…”
“Kak… Leon itu tidak minum kopi… mana bisa dia membuat kopi…” Kata Hira perlahan. Cathy memperhatikan Leon yang bergegas menuju dapur dan mengambil ceret kecil, mengisinya dengan air dari galon air diujung ruangan, dan kembali ke dapur untuk meletakkan ceret itu diatas kompor. Leon kembali masuk ruang makan, mengambil 2 buah gelas mug.
“Jiah… kakak… pake mug pula dia buatnya… die pikir gue supir truk… dibikinin kopi sebanyak itu…” Komentar Hira.
“Sudah… diam saja kamu…. Cerewet…”

Leon siap dengan dua gelas mug kopi ditangannya, satu diletakkan didepan Cathy dan satu lagi dihadapan Hira….
“Alhamdulillah… lumayanlah… KOPI… walaupun tanpa bisa merokok… just forget it…” Hira mulai mengunci keinginan merokok di pikirannya.. “STOP….!!!” Desisnya memerintah otaknya untuk tidak meraung-raung meminta jatah asap yang katanya merusak kesehatan itu… “Merusak kesehatan… itu kan kata orang-orang…” begitu selalu jawab Hira, atas komentar “ROKOK DAPAT MERUSAK KESEHATAN…”

Hira mulai meraih mug kopi dan meniupnya… angannya mulai menari-nari sendiri. Tak menghiraukan Leon dan Cathy yang asik berbincang… yang bagi Hira tidak penting dia dengar…. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri… “Heeem…. Aroma kopi… sudah cukup menggairahkan… cafein kopi sudah sedikit bisa menggantikan nikotin asap rokok…sama-sama racun…. Aaaaah… sebenarnya… jujur… ada yang lebih DAHSYAT lagi…. Dari hanya sekedar racun CAFEIN dan NIKOTIN…. Apa itu….??? RACUN berbisa yang dinamakan CINTA…. Uhuuuuuuuuy…..  gak ada hubungannya… “ Teriak Hira dalam hati. Tiba-tiba Hira tercekat saat kopi dalam mug itu menghampiri lidahnya…. Terdiam… terbelalak sendiri… dia segera memperhatikan Cathy dan Leon… apakah kedua orang itu memperhatikan gerak-geriknya. “Aaah aman… mereka masih asik sendiri…” Hira mulai memejamkan mata…. “aaaaaah… KOPI ini…. Rasanya DAHSYAT LUAR BIASA…. Ini kopi ternikmat yang pernah kurasakan seumur hidupku” Desisnya dalam hati….

“Kenapa kamu…?” Tanya Cathy tiba-tiba.
Hira memandang mata Cathy tajam… dan mendesis…” KOPI nya enak banget….padahal dia bukan peminum kopi… tapi dia bisa membuat kopi seenak ini…”
“Waaah Leon… Hira memujimu…katanya kopi buatanmu enak…”
“Hoooo begitu ya Hira… “ jawab Leon pendek saja.
Hira menatap tajam mata Leon tanpa sanggup berkata-kata… “aaaaah PENDAR SIRAT SINAR MATAnya… seDAHSYAT KOPI buatan tangannya….. “  Hanya itu yang bisa dilakukan…

Itulah kira-kira latar belakang ceritanya…. Hingga kemudian, Hira menulis dalam status bbmnya  “KOPI paling nikmat yang pernah kurasakan dalam hidupku…”

Bagi Hira, Leon adalah sebuah angan yang nyata… Katanya pada suatu hari “Leon adalah sebuah perwujudan Tuhan dalam kasat tubuh manusia…” aaaah Hira… kadang suka terbang berangan-angan menggunakan bahasa sastranya.

“Tapi memang benar… aku ini peminum KOPI, dimanapun aku pergi… aku selalu minum kopi… dan dimanapun aku minum… amerika, eropa dan asia… sampai di negeri kopi Nanggroe Acehpun… gak pernah kurasakan kopi senikmat buatanmu…” kata Hira pada Leon….

Kembali Hira tercekat, terbelalak… bergetaaaar….. membaca balasan pesan singkat yang dikirimkan Leon untuknya….”Hira, itu namanya “kopi sayang” diracik dengan tangan dan hati yang penuh sayang dan cinta… Sehingga hangatnya air yang mendidih buat lidah dan hati peminumnya dihangatkan rasa sayang dan cinta yang melimpah ruah juga….”

Hira seakan tersambar petir saat membaca tulisan Leon…. Leon… seseorang bagai bintang diatas sana… mengirimkan pesan itu untuknya… aaaaah…. RACUN CINTA… dalam wujud “KOPI dan KITA…..” Aaaaah Leon… akankah selamanya…. ????  

Medio Mampang, 02 Mei 2013
10:30


28 March 2013

Miss you Daddy

Tulisan ini dikirimkan TARULI pada saat peringatan 1000 papanya....
saat itu Taruli anakku tidak dapat menghadiri peringatan tersebut karena harus bertugas di MEDAN.
Tetapi Taruli mengirimkan goresan penanya via Whatsapp... yang kemudian dibacakan saat acara peringatan....



It’s been 1000 days since you left…
Not much to tell
I believe that you are in a better place now
I guess it’s not ashamed that you’re there rather than here…
In fact, the worlds is getting out of our hand.
The traffic is getting worse, you will swear a lot I guess….
Oil Prices are getting higher
Technologies are way out of our head…
Corruptions are everywhere
Everyone becomes more fanatic..
Still, there are some good news
I’m getting slimmer (you’re always concern about it)
I finally work in financial industry, even worse I work for the Central Bank
I manage money like you do, that’s even worse…
I had the chance to to go to Medan in my business trip
Though I didn't have the time to visit Kampong
I only miss you once or twice
I only miss you when I go to Grand Lucky or eat es teller 77
I only miss you when I heard Santana song
I only miss you when I say my prayer every night
And I only miss you when I wake up…
And ooooh… I guess I miss you each and every day, and yet it’s ashamed that you’re not around
Happy Birthday daddy! Cheers

Your Daughter
Taruli Situmeang

1000 Hari Pergimu .....

Tulisan ini kubacakan saat Peringatan 1000 pergimu....
Dirumah Aelan dan Tantri .... 17 Maret 2013

Selamat siang….
Katoer Ibuku tercinta…
Romo Mateus Batubara, OFM
Oom, tante ….
Kakak-kakak dan adik-adikku semua….
Terima kasih banyak atas kehadirannya pada siang hari ini… dalam kebersamaan kita… untuk mengenang 1000 hari kepergian suami saya, almarhum Sahala Parlindungan Situmeang.
Pertama-tama… Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Aelan dan Tantri, karena telah mengijinkan kita semua berkumpul ditempat ini… ini bukan moment yang kebetulan… tetapi saya yakin …. Bahwa ini semua memang sudah digariskan demikian… tempat ini adalah tempat yang telah mempersatukan kami kembali… dirumah ini, kami sepakat untuk kembali menapaki hari-hari bersama…. Itu rencana kami… Namun kehidupan berkata lain…
3 tahun yang lalu, ditempat ini… 2 minggu sebelum kepergiannya… menjadi sebuah kejutan juga bagi saya… bahwa almarhum dengan penuh semangat mau menemani saya untuk datang kerumah ini, mengantarkan air mandi untuk mas Aelan, saat midodareni pernikahan Aelan dan Tantri…. “Kalimatnya yang sampai saat ini masih saya ingat adalah… Aku ikut, aku ikut antar air ya… aku pengen dekat kamu…” jujur saya terhenyak… tapi semua saya simpan dalam hati…
Setelah itu… keesokan harinya dengan bersemangat pula almarhum menemani saya untuk datang menghadiri pemberkatan pernikahan Aelan dan Tantri… saya pikir… setelah pemberkatan selesai, dia seperti biasa akan terbirit-birit minta pulang…  tetapi… dia justru mengatakan pada saya, “ma… setelah ini kita ke rumah Aelan…” kembali saya terhenyak… Diteras … didepan sana… dia mengatakan pada saya… “ma… ayo kita jalan-jalan… aku pengen ajak kamu keliling dunia…” saya hanya bisa menoleh padanya… tanpa bisa berkata-kata…  sambil mengernyitkan dahi…
Esok harinya pun demikian… dia dengan bersemangat datang ke acara resepsi pernikahan Aelan dan Tantri… dia mengatakan keinginannya untuk melihat Taruli menari “Golek Putri” dan kembali dia ingatkan saya tentang kepergiannya untuk bersama-sama keliling dunia…
2 minggu kemudian… mas Sahala benar-benar mewujudkan keinginannya… dia pergi… yang sebenarnya telah diisyarakatkannya dengan symbol … “berkeliling dunia…”
Sebuah hal yang saya yakin bukan juga sebuah kebetulan… bahwa saat ini… saya berdiri disini… sendiri… tanpa ditemani boru saya… Taruli… karena dia mendapat tugas memeriksa bank di luar kota… dan kota tersebut adalah MEDAN… kota kelahiran ayahya… seakan sudah diatur semuanya ini… agar Taruli… dapat mengenang ayahnya dengan lebih dekat… yaitu ditanah kelahiran ayahnya….

Kini… Tidak terasa 1000 hari sudah, mas Sahala meninggalkan kita…. Terima kasih atas semua kenangan terakhir yang indah…
 (saya mengutip kata-kata Tantri… tentang kenangan…) bahwa….
Saya punya kenangan….
Taruli punya kenangan…
Kita semua disini punya kenangan….
Dan sejatinya … kenangan adalah memang keindahan…
Karena yang Kuasa adalah pencipta keindahan…
Yang Kuasa adalah yang Esa….
Yang Esa dan Kuasa….
 
(Lagu ini dinyanyikan sebagai Lagu Renungan Pembuka Misa Peringatan 1000 Hari Ir. Sahala Parlindungan Situmeang, M.Sc, yang dipimpin oleh Romo Mateus Batubara, OFM)